Jumat, April 3, 2026
BerandaNusantaraMenelusuri Jejak Kesenian Tradisional Lewat Jepretan Dua Fotografer

Menelusuri Jejak Kesenian Tradisional Lewat Jepretan Dua Fotografer

SELASARSURABAYA – Gedung Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang menjadi ruang pertemuan narasi budaya dan seni visual kontemporer. Pameran bertajuk ‘Cagar Budaya, Aksaragata, dan Seni Visual’ resmi dibuka, Senin (30/3/2026), menyuguhkan kolaborasi apik antara dua fotografer lintas latar belakang, Sofan Kurniawan (Sofanka) dan Luhur Wahyu Wijaya.

Pameran yang berlangsung hingga 2 April 2026 mendatang ini tidak hanya memanjakan mata melalui bingkai foto dan lukisan, tetapi juga menghadirkan kekayaan arkeologi melalui benda-benda bersejarah dan aksara nusantara klasik, kedua fotografer membawa pesan yang kontras namun saling melengkapi.

Sofan Kurniawan (Sofanka), alumnus Fotografi ISI Yogyakarta yang kini aktif sebagai fotografer di Jawa Pos Radar Mojokerto, membawa karya bertajuk ‘Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan’. Travesti merupakan laki-laki yang berperan menjadi perempuan dalam kesenian Ludruk. Melalui lensanya, Sofanka membedah kompleksitas tubuh sebagai ruang ekspresi sekaligus simbol perlawanan dalam ranah sosial, secara historis.
“Kesenian Ludruk pernah dibekukan oleh rezim orde baru karena dianggap kritis dan menjadi ‘corong’ komunis, hingga akhirnya Ludruk bangkit kembali meski dalam pengawasan dan menghibur masyarakat terutama di pedesaan,” ungkap Sofanka, dalam keterangan tertulisnya.

sisi lain, Luhur Wahyu Wijaya menghadirkan napas tradisi lewat tema ‘Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama Dalam Tubuh Baru’. Luhur, yang merupakan seorang ASN di Pemkab Jombang sekaligus pegiat foto budaya, berupaya mendokumentasikan bagaimana kesenian tradisional tetap relevan dan bertahan di tengah gempuran zaman.

Dalam pameran ini pengunjung diajak menelusuri jejak masa lalu melalui artefak arkeologi dan keindahan aksara nusantara yang jarang terekspos ke publik.

“Pameran ini sekaligus literasi bagi kami, baik secara visual maupun tekstual, banyak yang kami dapatkan dan kaji dalam pameran kali ini” ujar Saskia salah satu pengunjung.

Pameran ini menjadi kesempatan langka untuk menikmati dialektika seni sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan cagar budaya lokal. Jangan lewatkan kesempatan ini sebelum berakhir pada 2 April mendatang.(djo)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments