SELASARSURABAYA – Kasus stroke pada usia produktif menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berdampak pada kualitas hidup serta produktivitas masyarakat. Menyikapi hal tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa) berkolaborasi dengan Universiti Malaya menggelar webinar internasional bertajuk From Spasticity to Contracture: A Practical Neuromuscular Musculoskeletal Approach to Stroke, belum lama ini.
Kegiatan ini menghadirkan para pakar rehabilitasi medik untuk membahas penanganan stroke secara komprehensif, mulai dari pencegahan komplikasi seperti spastisitas hingga penanganan kontraktur yang berpotensi menyebabkan disabilitas jangka panjang. Webinar ini juga menjadi forum akademik internasional dalam memperkuat kolaborasi serta pertukaran pengetahuan di bidang rehabilitasi stroke berbasis pendekatan multidisiplin.
Dekan FK Unusa Prof. Budi Santoso, menegaskan pentingnya pendekatan holistik dalam menangani pasien stroke. Hal ini menjadi krusial mengingat stroke kerap menimbulkan komplikasi lanjutan seperti spastisitas (kekakuan otot) hingga kontraktur (keterbatasan gerak permanen), yang berpotensi menyebabkan disabilitas jangka panjang apabila tidak ditangani secara tepat.
Tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut, peningkatan kasus stroke juga mulai terlihat pada usia produktif. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berdampak pada kualitas hidup masyarakat serta produktivitas secara luas.
“Melalui forum internasional ini, kami ingin memperkuat kolaborasi akademik sekaligus memperkaya wawasan tenaga kesehatan dalam menangani stroke secara komprehensif, mulai dari pencegahan komplikasi hingga rehabilitasi,” ujarnya, seperti dikutip Rabu (1/4/2026).
Sementara itu, Associate Professor Anand Samugam dari Universiti Malaya dalam opening speech menyoroti urgensi pendekatan multidisiplin dalam rehabilitasi pasien stroke.
“Pendekatan neuromuskular dan muskuloskeletal harus dilakukan secara terintegrasi agar pasien stroke tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga memiliki kualitas hidup yang optimal,” ungkapnya.
Dalam sesi utama, Chung Tze Yang memaparkan pentingnya intervensi dini untuk mencegah komplikasi lanjutan pada pasien stroke. Spastisitas yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi kontraktur permanen.
“Oleh karena itu, intervensi sejak dini menjadi kunci utama dalam rehabilitasi,” imbuhnya.
Senada dengan itu, Sakinah Sabirin menekankan bahwa pendekatan rehabilitasi harus bersifat individual dan berkelanjutan.
“Setiap pasien stroke memiliki kondisi yang unik, sehingga strategi rehabilitasi harus disesuaikan secara personal dengan mempertimbangkan aspek fungsional dan kualitas hidup pasien,” tuturnya.
Dari perspektif nasional, Dr. Rita Vivera Pane turut memberikan pandangan klinis berdasarkan praktik di Indonesia.
“Kolaborasi antara dokter, fisioterapis, dan tenaga kesehatan lainnya sangat menentukan keberhasilan rehabilitasi pasien stroke, terutama dalam mencegah disabilitas jangka panjang,” paparnya.
Melalui kegiatan ini, FK Unusa tidak hanya berkontribusi pada penguatan kapasitas tenaga kesehatan, tetapi juga mendukung pencapaian SDGs, khususnya pada aspek kesehatan, pendidikan, dan kemitraan global.
Sedang dalam kerangka Times Higher Education, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Unusa dalam menghadirkan dampak nyata melalui pendidikan berbasis kolaborasi internasional dan isu kesehatan global. (rur)


