SELASARSURABAYA – Veri Affandi atau Veri AFI, jebolan ajang pencarian bakat menyanyi ini sudah lama tidak terlihat di layar kaca. Baru-baru ini, Veri kembali tampil di depan publik dengan penampilan yang bikin pangling. Veri terlihat lebih kurus dari saat terakhir berpartisipasi di ajang pencarian bakat.
Veri kini kembali menyapa publik dengan kisah perjuangan hidup yang tak mudah.
Di balik popularitas yang pernah ia raih, Veri ternyata tengah menghadapi kondisi kesehatan yang cukup serius.
Perubahan fisik pun tak luput dari perhatian. Tubuhnya kini terlihat jauh lebih kurus dibandingkan sebelumnya.
Hal tersebut merupakan dampak dari rangkaian masalah kesehatan yang ia alami dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam kemunculannya di program Rumpi No Secret pada Selasa (7/4/2026), Veri mengungkap titik awal gangguan yang ia rasakan terjadi sejak 2018.
Ia menyebut kondisi tersebut bermula dari tekanan non-medis yang perlahan berkembang menjadi masalah fisik.
Awalnya, gangguan terjadi pada lambung. Namun, seiring waktu, kondisi itu semakin kompleks hingga memicu kecemasan berlebih dan berujung pada psikosomatis.
“Medisnya yang pertama kali kena itu lambung. Lambung medisnya, terus merembet-merembet, jatuhnya jadi anxiety, terus jadi psikosomatis,” kata Veri, dikutip Sabtu (11/4/2026).
Apa Itu Psikosomatis?
Melansir laman Halodoc, psikosomatis merupakan kondisi yang membuat pengidapnya mengalami rasa sakit atau gangguan fungsi tubuh yang dipengaruhi dan diperparah oleh kondisi mental yang bermasalah. Artinya, kondisi emosional, psikologis, dan pikiran seseorang dapat memengaruhi kesehatan fisiknya.
Kondisi mental yang menyebabkan gangguan kesehatan secara fisik ini sering kali tidak memiliki penjelasan secara medis. Sebab, saat dilakukan pemeriksaan fisik, tidak ada keanehan dalam tubuh yang menyebabkan gejala fisik tersebut.
Bahkan dalam banyak kasus, kondisi mental yang bermasalah dapat memicu munculnya suatu penyakit atau memperparah penyakit yang sudah ada.
Hingga saat ini, penyebab dari psikosomatis masih belum bisa dipastikan. Namun, berdasarkan riset yang telah ada, tingkatan stres dan depresi dapat berubah menjadi suatu gangguan kesehatan secara fisik. Misalnya, seseorang yang mengalami stres dan tidak mampu meluapkannya secara emosional pada akhirnya akan mencapai titik puncak dari emosinya tersebut.
Kondisi tersebut dapat memicu depresi berat sehingga menimbulkan gejala fisik seperti nyeri pada berbagai bagian tubuh, sakit perut, atau sakit kepala.
Selain itu, pelepasan hormon stres dalam tubuh juga dipercaya memengaruhi kondisi fisik sehingga menyebabkan psikosomatis.
Gangguan psikosomatis adalah kondisi mental yang bisa terjadi pada siapa pun.
Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan psikosomatis:
– Tingkat stres yang tinggi
– Mengalami trauma berat
– Tidak mampu berpikir secara positif
– Sulit mengekspresikan emosi dalam diri.
– Pola hidup yang tidak sehat.
– Memiliki kecemasan terhadap sesuatu.
Selain itu, tidak adanya dukungan atau bantuan dari lingkungan sosial dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan psikosomatis.
Gejala gangguan pada pengidap psikosomatis dapat berbeda-beda antara individu satu dengan yang lainnya, bergantung pada kondisi psikologis masing-masing.
Meski begitu, terdapat beberapa tanda yang sering ditemui pada orang yang mengalami gangguan psikosomatik, yaitu:
– Perasaan menjadi lebih sensitif sehingga mudah marah dan tersinggung.
– Mengalami depresi dan kecemasan yang berlebih.
– Produktivitas di tempat kerja atau sekolah terganggu.
– Sulit tidur atau insomnia.
– Kesulitan bernapas.
– Pusing dan sakit kepala.
– Nyeri otot.
– Gangguan pencernaan.
Selain itu, memburuknya penyakit yang sudah ada sebelumnya juga merupakan salah satu gejala dari gangguan psikosomatis.
Penyakit yang dapat semakin memburuk akibat pengaruh psikis, pikiran, dan emosi adalah mag, eksim, hipertensi, psoriasis, hingga penyakit jantung.
Berbagai gejala dari psikosomatis tidak dapat dibiarkan begitu saja. Sebab, gejala tersebut bisa memperparah penyakit yang sudah ada sebelumnya atau justru menimbulkan penyakit baru yang bisa berbahaya bagi tubuh.
Untuk itu, jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala dari psikosomatis, segera hubungi psikiater agar mendapat penanganan yang tepat dan cepat. Penanganan yang dilakukan sesegera mungkin dapat mengurangi risiko yang berbahaya di kemudian hari. (nan)


