Jumat, Juli 10, 2026
BerandaHeadlinesSaat Tim Unair Pelajari Program Makan Siang Sekolah di Jepang, Ini Hasilnya

Saat Tim Unair Pelajari Program Makan Siang Sekolah di Jepang, Ini Hasilnya

SELASARSURABAYA – Upaya memperkuat kebijakan kesehatan masyarakat berbasis bukti terus dilakukan oleh akademisi Universitas Airlangga (Unair). Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair bersama tim dari Kyoto University melakukan kunjungan akademik ke Toyotsu Daiichi Elementary School (Suita School), Prefektur Osaka, Jepang. Kegiatan itu bertujuan untuk mempelajari implementasi School Lunch Program (Kyushoku) yang telah lama menjadi model program gizi sekolah di Jepang.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi internasional yang bertujuan menggali praktik terbaik dalam penyelenggaraan program makan siang sekolah. Hasil pembelajaran itu nantinya akan menjadi dasar pengembangan penelitian serta penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis bukti bagi pemerintah Indonesia.

Dosen FKM Unair, Prof Dr Thinni Nurul Rochmah, dra MKes menjelaskan bahwa Jepang memiliki sistem penyelenggaraan makan siang sekolah yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga didukung tata kelola dan mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan.

“Melalui kunjungan ini, kami ingin memahami secara langsung tentang sistem makan siang sekolah di Jepang. Mulai dari aspek manajemen, pembiayaan, hingga edukasi yang menyertainya. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting untuk mendukung pengembangan kebijakan yang sesuai dengan konteks Indonesia,” ujarnya, seperti dikutip Jumat (10/7/2026).

Selama kunjungan, tim FKM Unair mengamati secara langsung proses pengelolaan dapur sekolah yang menerapkan standar higienitas tinggi. Proses pengolahan makanan dilakukan menggunakan fasilitas modern dengan pengawasan tenaga profesional di bidang gizi untuk memastikan kualitas dan kecukupan nutrisi bagi siswa.

Selain aspek operasional, perhatian utama tim tertuju pada skema pembiayaan program. Dalam sistem Kyushoku, pemerintah daerah dan pemerintah pusat berperan dalam menyediakan infrastruktur, fasilitas dapur, serta tenaga pendukung. Sementara itu, orang tua hanya berkontribusi pada biaya bahan baku makanan.

Menurut Thinni, model pembiayaan tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan program.

“Keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas makanan yang disajikan, tetapi juga sistem pendanaan yang jelas, terintegrasi, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Hal ini menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dikaji lebih lanjut dalam konteks Indonesia,” jelasnya.

Tidak hanya berfungsi sebagai program gizi, Kyushoku juga menjadi bagian dari pendidikan karakter atau shokuiku. Siswa dilibatkan secara aktif dalam proses distribusi makanan, mulai dari menyajikan makanan kepada teman sekelas hingga membersihkan area makan setelah kegiatan selesai.

Pendekatan tersebut dinilai mampu menumbuhkan nilai tanggung jawab, kerja sama, disiplin, serta penghargaan terhadap makanan sejak usia dini.

“Yang menarik, program ini tidak hanya membangun kesehatan fisik anak, tetapi juga membentuk kebiasaan positif dan karakter yang akan mereka bawa hingga dewasa. Integrasi antara aspek gizi dan pendidikan karakter menjadi kekuatan utama yang kami temukan selama kunjungan,” tambah Thinni.

Kunjungan akademik tersebut ditutup dengan diskusi bersama manajemen sekolah dan komite pendidikan setempat. Melalui kolaborasi antara FKM Unair dan Kyoto University, berbagai temuan mengenai regulasi, pembiayaan, sistem logistik, hingga pelibatan masyarakat akan menjadi bahan kajian dalam penelitian lanjutan.

Prof Thinni berharap hasil pembelajaran dari Jepang dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kebijakan makan bergizi di Indonesia.

“Kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang tidak hanya efektif dari sisi kesehatan, tetapi juga berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Harapannya, program pemenuhan gizi anak dapat memberikan dampak jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia,” pungkasnya. (nan)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments