Selasa, Maret 3, 2026
BerandaHeadlinesBukan Sekadar Tugas Kuliah, Mahasiswa UK Petra Bedah Konflik Sosial Surabaya Melalui...

Bukan Sekadar Tugas Kuliah, Mahasiswa UK Petra Bedah Konflik Sosial Surabaya Melalui Film

SELASARSURABAYA – Melalui lensa dokumenter bertajuk “Titik Buta”, para mahasiswa Creative Media Communication angkatan 2023 Universitas Kristen Petra (UK Petra) mencoba menyingkap sisi lain kondisi Surabaya yang kerap luput dari perhatian publik.

“Sejak tahun 2021, kami secara rutin membawa karya mahasiswa ini ke layar bioskop komersial seperti CGV Maspion agar dapat dinikmati khalayak luas. Setiap tahunnya topiknya berbeda-beda, namun harapannya agar para mahasiswa memiliki pengalaman otentik dalam merasakan dinamika kehidupan dunia industri secara langsung,” ungkap Daniel Budiana, S.Sos., M.A., selaku Dosen pengampu mata kuliah Produksi Film Dokumenter UK Petra, seperti dikutip Minggu (15/2/2026).

Daniel menjelaskan, bahwa tahun ini terdapat tiga film dokumenter yang akan ditayangkan. Diproduksi secara berkelompok dengan enam hingga tujuh orang mahasiswa di dalamnya, setiap film mengangkat isu berbeda mulai food waste, proses sosial yang terabaikan hingga kesehatan publik.

Meski berbeda objek, ketiganya memiliki benang merah yaitu menyoroti “titik buta” yang kerap tidak disadari, diabaikan, atau bahkan dinormalisasi oleh masyarakat.

Proses pembuatan ketiga film ini memakan waktu selama empat bulan, terhitung sejak September hingga Desember 2025. Selama periode tersebut, para mahasiswa melewati berbagai tahapan produksi secara mendalam, mulai dari riset lapangan yang intensif untuk menemukan fenomena yang tersembunyi, hingga tahap pascaproduksi. 

Dalam prosesnya, mereka menemukan banyak kejadian di sekitar Surabaya misalnya seperti permasalahan sengketa tidak sesederhana konflik “perebutan” wilayah, melainkan melibatkan sejarah pada masa penjajahan Belanda di Indonesia dan lain-lain. 

Tidak berhenti di layar bioskop komersial, Daniel menyebutkan, seluruh film yang dihasilkan dalam proyek “Titik Buta” ini wajib didaftarkan ke berbagai festival film baik nasional maupun internasional bahkan saat ini tinggal menanti pengumuman, seperti Globale Mittelhessen (Jerman), Lenses-Vancouver iff (International Film Festival), Pigdon Street International Film Festival (Islandia), Freedom Film Fest (Malaysia), Seoul Human Rights FF (Seoul) dan masih banyak lagi lainnya. 

Tiga Film Dokumenter karya mahasiswa UK Petra

Ketiga film dokumenter ini menawarkan perspektif unik yang menyentuh, mengajak penonton menyelami sisi lain Surabaya yang sering kali tidak disadari atau bahkan dinormalisasi. Dengan fokus pada konflik sosial, setiap karya berupaya membedah realitas yang ada di balik hiruk-pikuk kota, menjadikan hal-hal yang selama ini diabaikan sebagai pusat perhatian utama di layar lebar. 

Karya pertama berjudul “All You Can’t Eat” garapan Whitnie Odelyn Siauw dan tim. Dokumenter ini menyoroti ironi antara tingginya angka food waste dengan masih banyaknya masyarakat yang kesulitan mengakses makanan layak.

Melalui film ini, para mahasiswa membongkar anggapan bahwa pemborosan makanan adalah konsekuensi wajar dari gaya hidup modern, sekaligus menunjukkan bahwa isu ini merupakan “titik buta” yang berdampak besar bagi sosial maupun ekologis.

Melalui karya kedua bertajuk ‘Ini Belum Selesai’, Shanelle Keisha Susanto dan tim memotret getirnya perjuangan warga Tambak Bayan. Sebuah kampung pecinan tertua di Surabaya. Sejak 2009, warga terjebak dalam pusaran sengketa tanah melawan pihak swasta yang mengancam ruang hidup mereka.

Menariknya, film ini tidak hanya merekam konflik hukum, tetapi juga menyoroti sosok Suseno Karja dan warga lainnya yang memilih jalur kesenian sebagai napas perlawanan sosial mereka.

Film ini merekam realitas individu atau kelompok yang berada dalam situasi transisi tanpa kepastian sekaligus refleksi kegagalan sistem dalam memberikan ruang penyelesaian yang adil.
Film ketiga berjudul “Rail Estate” buah karya  Nathalie Celine Gunawan dan tim yang berfokus pada kesehatan publik.

Film ini merekam kehidupan warga Dupak Magersari, salah satu kampung pinggir rel di Surabaya yang terdampak parah fenomena urban heat island (UHI).
Film ini menyoroti bagaimana warga berjuang menghadapi suhu ekstrim dan minimnya ruang hijau di tengah keterbatasan ruang hidup.

“Rail Estate” menyingkap bahwa mitigasi suhu perkotaan selama ini belum menjadi tanggung jawab struktural pemerintah, melainkan dibebankan pada daya bertahan warga, sehingga peran sistemik negara menjadi “titik buta” yang krusial. (nan)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments