Selasa, Maret 3, 2026
BerandaNusantaraBinaan Bank Indonesia, Kebun Eptilu di Garut Jadi Percontohan Pertanian Modern

Binaan Bank Indonesia, Kebun Eptilu di Garut Jadi Percontohan Pertanian Modern

SELASARSURABAYA – Kebun Edukasi Eptilu di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjadi percontohan pertanian modern khususnya hortikultura, di Indonesia.

Eptilu yang menjadi mitra binaan Bank Indonesia (BI), saat ini mengelola lebih dari 75 hektar lahan hortikultura. Komoditasnya beragam, seperti jeruk lemon, cabai, tomat, hingga kentang.

“Di lahan yang cukup luas ini, kami membudidayakan komoditas secara modern dan secara alami sebagai bentuk edukasi,” ujar founder Eptilu Rizal Fahreza, saat menerima kunjungan rombongan awak media Jawa Timur bersama tim Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur (KPwBI Jatim) akhir pekan kemarin.

Rizal melanjutkan, produk pertanian seperti cabai dan tomat dihasilkan dengan kualitas dan kuantitas yang sangat baik. Salah satunya karena sistem pertanian yang menggunakan teknologi tepat guna dan irigasi yang sangat baik.

“Eptilu sebenarnya melakukan dua model pertanian. Ada yang dilakukan secara alami dan dengan teknologi. Supaya orang yang datang ke sini bisa membandingkan. Pertanian yang biasa atau alami hasilnya seperti apa, pertumbuhannya seperti apa. Dan kalau yang menggunakan teknologi hasilnya seperti apa dan pertumbuhannya seperti apa,” jelasnya.

Rizal mengungkapkan, teknologi tepat guna yang digunakan untuk menanam cabai rawit ini ia peroleh langsung dari pakarnya di Amerika Serikat.

“Kami menerapkan sistem dengan green house dan air untuk menyiram, menggunakan aplikasi yang bisa dikendalikan dari ponsel,” tuturnya.

Rizal melanjutkan, teknik tersebut ia kembangkan dengan bantuan BI, yakni berupa pembangunan green house yang bisa memuat 4 ribu tanaman. Bantuan sejak 2022 itu sudah menghasilkan cabai yang melimpah dengan kualitas terbaik.

“Greenhouse tersebut telah memasuki dua siklus tanam. Pada penanaman pertama, tanaman mampu bertahan hingga tiga tahun. Bahkan, setelah tiga bulan masa tanam awal, panen sudah dapat dilakukan secara rutin setiap pekan, dan sekali panen hasilnya di atas satu ton,” paparnya.

Karena hasil yang melimpah, Eptilu kini mampu memperluas pasar melalui kerja sama antar daerah, sehingga produk pertanian mereka dapat dipasok hingga keluar kabupaten Garut, seperti DKI Jakarta dan Banten.

Nama Eptilu sendiri berasal dari singkatan bahasa Sunda “tilu F” (tiga F), yang bermakna Fresh from Farm (segar dari kebun), disesuaikan dengan pelafalan masyarakat Sunda di mana huruf ‘F’ menjadi ‘P’.

Saat ini Eptilu juga mengembangkan agrowisata edukatif yang memberi kesempatan para pengunjungnya untuk memetik jeruk langsung dari pohon, menikmati panorama pegunungan, sekaligus mencicipi olahan di Resto & Kafe Eptilu dengan konsep farm to table. (nan)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments