SELASARSURABAYA – Minat berobat ke luar negeri masyarakat Indonesia khususnya ke Malaysia, terus meningkat setiap tahun. Data Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) mencatat, sekitar 1,2 juta warga Indonesia melakukan perjalanan wisata medis ke Malaysia setiap tahunnya. Angka tersebut menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun.
Salah satu rumah sakit yang menjadi tujuan warga Indonesia berobat di Malaysia adalah Hospital Picaso. Meski baru beroperasi pada 2024, kunjungan pasien dari Indonesia ke rumah sakit di Petaling Jaya, Malaysia, ini menunjukkan tren peningkatan.
Assistant Manager International Marketing Hospital Picaso dan CVSKL, Sharizal Zairill Bin Ahmad Khairy mengungkapkan 12 persen market pasien internasional yang datang mayoritas berasal dari Indonesia.
“Kita punya market internasional sebesar 12 persen kebanyakan dari Indonesia. Kebanyakan datang dari Jakarta, Medan, dan Surabaya,” ujar Sharizal saat dijumpai disela Health Talk bersama Hospital Picaso Malaysia, yang digelar di Surabaya, Kamis (26/2/2026) sore.
Sharizal menuturkan, tren kunjungan pasien dari Indonesia ke Hospital Picaso maupun CVSKL menunjukkan peningkatan.
“Trennya selalu naik ya, dari awal yang hanya 5 persen sekarang sudah 12 persen,” tukasnya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu daya tarik utama bagi warga Indonesia, termasuk Surabaya, adalah pemanfaatan teknologi yang canggih dalam setiap penanganan kasus. Ini salah satunya yang dikenalkan dalam gelaran Health Talk bersama Hospital Picaso Malaysia yang secara khusus membahas penanganan endometriosis.
“Di sini kita membawa solusi bagi pasien perempuan, khususnya dalam penanganan endometriosis—kondisi yang kerap memicu nyeri haid hebat hingga gangguan kesuburan. Kasus ini juga paling banyak dikeluhkan pasien saat datang ke tempat kita,” paparnya.
Melalui kehadiran dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Dr. Sharifa, Hospital Picaso mengenalkan metode Microwave Ablation untuk menangani endometriosis. Teknik ini menggunakan energi gelombang mikro untuk menghancurkan jaringan endometriosis tanpa sayatan besar.
Keunggulan prosedur ini antara lain proses tindakan yang relatif singkat, minim rasa nyeri, serta masa pemulihan yang cepat. Pasien bahkan umumnya sudah diperbolehkan melakukan perjalanan kembali ke Indonesia dalam waktu sekitar tiga hari setelah tindakan.
Sharizal melanjutkan, selain itu pihaknya juga memiliki teknologi Robotic Surgery dan Advanced Minimally Invasive Surgery yang dinilai lebih presisi dan mempercepat pemulihan pasien. Untuk kasus jantung di CVSKL, misalnya, prosedur pemasangan stent hingga operasi bypass koroner (CABG) kini dapat dilakukan tanpa pembedahan besar.
“Kami menggunakan prosedur yang lebih maju. Untuk tindakan jantung, tidak ada operasi besar dengan luka parut panjang. Prosedur cukup melalui tiga titik tusukan kecil. Dampaknya, pasien minim rasa sakit, masa pemulihan lebih cepat, dan bisa segera kembali beraktivitas,” terangnya.
Sharizal menegaskan, dengan fasilitas dan keahlian yang dimiliki, pihaknya siap menjadi salah satu rujukan bagi masyarakat Indonesia yang membutuhkan penanganan medis kompleks dengan pendekatan yang lebih canggih dan efisien. (rur)


