SELASARSURABAYA – Setiap cerita punya akhir, namun bagi para wisudawan Universitas Kristen (UK) Petra, akhir ini hanyalah sebuah prolog yang megah. Setelah melewati berbagai dinamika akademik yang tak jarang menguras energi, momen Rapat Terbuka Senat UK Petra dalam rangka Wisuda 89 menjadi bukti nyata bahwa setiap perjuangan memiliki garis finish yang manis. Dengan bekal ilmu dan karakter yang telah dibentuk, para wisudawan bersiap untuk melangkah keluar sebagai garam dan terang yang siap membawa dampak nyata bagi lingkungan sekitar.
Total terdapat 582 wisudawan yang terbagi menjadi dua shift menjalani prosesi wisuda pada akhir pekan kemarin.
“Sesuai dengan core values UK Petra, yakni LIGHT (Love, Integrity, Growth, Humility, dan Truth), hendaklah para wisudawan dapat terus bertumbuh dalam kasih, integritas, kerendahan hati, dan kebenaran, agar dapat menjadi berkat bagi sesama dan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan,” pesan Rektor UK Petra Prof. Dr.(H.C.) Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr.Eng.,
Jika memperkecil sudut pandang dari lautan toga biru wisudawan ke setiap barisan kursi, tidak akan ada dua cerita yang benar-benar sama. Di antara ratusan lulusan kali ini, terselip beberapa sosok yang kisahnya menarik untuk disimak lebih dalam. Bukan hanya soal indeks prestasi yang gemilang, tapi tentang karakter kuat dan cerita unik di balik perjuangan mereka sampai lulus.
Salah satunya adalah Wirawan Sunyoto, sosok wisudawan yang berhasil menyelesaikan gelar Magister di usia 23 tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3.96. Pencapaian akademik gemilang ini menempatkan wisudawan Magister Teknik Sipil itu sebagai sosok inspiratif yang mampu menyeimbangkan kecepatan studi dengan kualitas riset yang mumpuni.

Langkah akselerasi Wirawan dimulai saat ia mengambil program Fast Track. Menariknya, keputusan ini diambil setelah ia kembali dari menjalani Program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) di Nanyang Technology University, Singapore, saat ia semester lima. Menyadari sisa mata kuliahnya yang sedikit namun tidak bisa lulus dalam tujuh semester karena aturan kurikulum, Wirawan memilih untuk tidak membuang waktu.
“Daripada membiarkan waktu terbuang di sisa semester, saya memutuskan langsung mengambil fast track. Saya pikir, kalau sudah bekerja dan mengenal uang, semangat untuk lanjut studi biasanya akan menurun. Jadi, mumpung masih dalam ritme belajar, saya gas terus,” ungkap Wirawan.
Tak hanya unggul dalam kecepatan studi, kualitas riset Wirawan juga diakui secara luas. Tesis Magisternya tidak hanya menjadi syarat kelulusan, tetapi juga berhasil menyabet Juara 2 Publikasi Paper. Prestasi ini menunjukkan bahwa ia mampu menghasilkan karya ilmiah yang diakui secara profesional sebelum benar-benar terjun ke dunia industri.
Kisah Wirawan Sunyoto adalah bukti nyata dedikasi mahasiswa UK Petra yang mampu menyeimbangkan ambisi, manajemen waktu yang cerdas, dan paparan pengalaman internasional untuk membangun masa depan yang gemilang.
“Terus semangat dan janganlah takut untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin,” pesan Wirawan, yang bercita-cita menjadi structural engineer untuk bangunan gedung tinggi, kepada para mahasiswa.
Kisah tak kalah menarik datang dari Aulia Rahmadhiyan, salah satu lulusan perdana Scriptwriting and Copywriting, Magister Sastra UK Petra. Dalam tesis kreatif berupa naskah film pendek berjudul “S&K Berlaku: Sebuah Naskah Film Pendek tentang Budaya Konsumerisme”, Aulia menyoroti tentang bagaimana budaya konsumtif mendorong masyarakat terjerat pinjaman daring, demi pengakuan sosial, hingga berujung pada konsekuensi fatal. Naskah film pendek bergenre thriller itu kemudian membawanya untuk lulus dengan IPK 3.96.
Berlatar belakang Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Aulia yang sehari-hari bekerja sebagai Senior Copywriter di perusahaan teknologi finansial itu merasa menempuh studi Magister memberinya pengalaman baru.
“Aku belajar membangun ide, sampai menyusun naskah secara utuh. Tantangan terbesar adalah membagi waktu antara pekerjaan dan tugas akhir, apalagi menulis naskah bergenre thriller ini pengalaman pertama kali,” cerita Aulia yang menangani kampanye brand, hingga digital ads, di perusahaan tempatnya bekerja.
Menyandang status sebagai angkatan pertama Scriptwriting and Copywriting, Magister Sastra UK Petra, jelas bukan jalan yang mudah bagi Aulia. Selama dua tahun, ia menempa diri melalui teori sastra yang kompleks dan proses kreatif membangun cerita yang mendalam.
Hasilnya? Sebuah kepuasan yang tak ternilai. Aulia membuktikan bahwa berani melangkah ke jalur baru adalah investasi yang sangat layak untuk masa depannya.
“Aku melihat bahwa jenjang pendidikan ini bisa menjadi investasi penting dalam berkarier. Kita bisa belajar langsung dari orang-orang yang sudah berkecimpung di industri itu, jadi bukan hanya belajar dari textbook saja. Apa yang kita pelajari juga betul-betul bisa diterapkan di dunia nyata,” pungkas Aulia.
Proses perkuliahan memang bukan cuma soal mengejar nilai di atas kertas. Segudang pengalaman, baik di ruang kelas maupun di organisasi atau kegiatan kampus, sebenarnya adalah “bumbu rahasia” untuk mengasah soft skills—modal utama untuk sukses di dunia nyata nanti. (rur)


