SELASARSURABAYA – Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kerugian masyarakat akibat penipuan telah mencapai Rp9,1 triliun (2024 – 2026). Sedangkan temuan Indonesia Anti-Scam Center (IASC) menerima sekitar 73.000 laporan penipuan transaksi belanja.
Dalam praktiknya, sindikat penipuan yang mengatasnamakan jasa kirim atau kurir kerap memanfaatkan kondisi psikologis konsumen yang sedang menunggu paket. Pelaku biasanya menyampaikan informasi yang terlihat meyakinkan, seperti tautan (link) pelacakan atau dokumen resi palsu, dengan bahasa yang meyakinkan dan bernada mendesak. Taktik ini dirancang agar korban merespons dengan cepat dan mengklik tautan tersebut tanpa melakukan pengecekan, yang berujung pada pencurian data pribadi maupun finansial.
Menurut Chairman Communication & Information System Security Research Center (CISSReC) Dr. Pratama Persadha, kewaspadaan masyarakat adalah benteng terdepan dalam mencegah penipuan semacam ini.
“Saat menerima pesan terkait pengiriman paket, masyarakat sebaiknya tidak langsung panik atau terburu-buru mengikuti instruksi. Pastikan terlebih dahulu kebenaran informasi tersebut melalui aplikasi atau saluran resmi,” ujarnya, dalam keterangan tertulis seperti dikutip Minggu (19/4/2026).
Kondisi tersebut mendorong pentingnya upaya edukasi yang dapat membantu masyarakat mengenali dan merespons situasi mencurigakan secara tepat. Pendekatan edukasi yang sederhana dan mudah dipahami menjadi kunci untuk membangun kebiasaan bertransaksi yang lebih aman, sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen dalam menggunakan layanan digital.
Sebagai bagian dari inisiatif edukasi konsumen, Lazada memperkenalkan SATSET (Sadar, Teliti, Segera Tolak) sebagai
langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu masyarakat menghadapi potensi penipuan dalam transaksi digital, Pendekatan ini dirancang agar relevan dengan situasi yang sering dihadapi konsumen dalam aktivitas belanja online.
1. SADAR — Kenali Modusnya
Langkah pertama adalah menyadari pola komunikasi yang mencurigakan. Waspadai permintaan data sensitif, seperti KTP, nomor rekening, kode OTP, password, atau detail informasi kartu kredit; yang berasal dari oknum, termasuk yang mengaku sebagai karyawan platform, kurir, ataupun dari penyedia jasa pengiriman. Kenali juga modus refund palsu yang belakangan ini marak terjadi, di mana pelaku meminta Anda melakukan scan QRIS atau transfer ke rekening pribadi.
2. Teliti — Jangan Panik, Langsung Cek di Aplikasi!
Selain meningkatkan kewaspadaan, konsumen wajib memastikan bahwa setiap informasi yang diterima telah diverifikasi melalui kanal resmi Lazada. Penipu sengaja menciptakan urgensi agar korban panik. Jangan mudah percaya dan jangan pernah memverifikasi status pesanan melalui chat WhatsApp atau SMS dari nomor tidak dikenal. Selalu gunakan fitur Lacak Pesanan (Track Order) langsung di dalam aplikasi resmi untuk melihat status pengiriman secara real-time. Jika ada kendala, pastikan hanya berkomunikasi dengan penjual.
3. Segera Tolak — Hentikan Penipuan, Belanja Lebih Aman
Apabila terdapat indikasi penipuan, konsumen diimbau untuk segera menolak dan mengambil tindakan tegas dengan mengabaikan serta memblokir nomor atau pesan yang mencurigakan tersebut. Selain itu, jangan pernah mengeklik sembarang tautan (link) atau mengunduh file tidak dikenal, seperti format APK yang berkedok foto resi, untuk menghindari jebakan phishing peretas perangkat.
Konsumen juga harus dengan tegas menolak segala bentuk permintaan transaksi, pembayaran, atau transfer ke rekening pribadi di luar aplikasi belanja resmi, karena hal tersebut merupakan indikator utama penipuan.
“Kenyamanan dan keamanan pelanggan adalah hak mutlak dalam bertransaksi online. Kampanye SATSET kami hadirkan tidak hanya untuk meningkatkan kewaspadaan, tetapi juga untuk mengedukasi masyarakat agar memaksimalkan fitur keamanan yang sudah tersedia di dalam ekosistem aplikasi Lazada. Kami ingin pelanggan memiliki kendali penuh atas keamanan transaksi mereka,” kata Head of Customer Experience Lazada Indonesia, Intan Eugenia. (nan)


