SELASARSURABAYA – Jarak geografis yang membentang jauh antara Surabaya dan wilayah timur nusantara kini bukan lagi penghalang untuk meraih gelar magister berkualitas. Komitmen inilah yang melandasi Universitas Kristen (UK) Petra meluncurkan Program Studi Magister Manajemen berbasis Pendidikan Jarak Jauh (PJJ MM), dengan menaruh fokus khusus pada wilayah Maluku.
Mengintegrasikan teknologi Learning Management System (LMS) berbasis Artificial Intelligence (AI), Program Studi PJJ MM UK Petra ini hadir untuk memberi kesempatan yang sama bagi pekerja, ASN, dan pelaku usaha di Maluku untuk memperluas cakrawala berpikir mereka.
Uniknya, AI yang digunakan dalam PJJ MM UK Petra mampu mengubah materi pembelajaran berupa PDF maupun PPT disajikan dalam format video pendek berdurasi dua hingga tiga menit, bahkan dilengkapi dengan avatar AI pada assessment interaktif untuk menguji pemahaman siswa.
“Sehingga meski jarak jauh, pembelajaran akan sangat interaktif. Dengan ini pendidikan tinggi berkualitas bukan lagi menjadi kemewahan milik kota besar saja. Melalui pemerataan akses, kami ingin memastikan semua masyarakat, siapa pun dan di mana pun, dapat memiliki bekal ilmu yang sama kuatnya. Sehingga mereka bisa sama-sama saling membangun masa depan yang lebih baik sekaligus memajukan ekonomi daerahnya masing-masing,” rinci Prof. Dr. Zeplin Jiwa Husada Tarigan, S.T., M.M.T., Ketua Program Studi PJJ MM UK Petra, dikutip Sabtu (30/5/2026).
Pembelajaran dalam PJJ MM UK Petra, lanjut Prof. Zeplin, dimulai pada bulan Agustus 2026.
“Cukup menempuh durasi studi tiga semester saja atau 1,5 tahun, mahasiswa dapat menyandang gelar Magister Manajemen dengan biaya yang terjangkau, yakni sekitar 30 juta,” imbuhnya.
Menggunakan kurikulum yang fleksibel, PJJ MM UK Petra fokus pada tiga keahlian utama yang paling dicari saat ini, yaitu kepemimpinan yang lincah (leadership agility), transformasi digital, dan manajemen yang berkelanjutan (sustainability management).
“Artinya, mahasiswa tidak hanya diajarkan teori manajemen konvensional di atas kertas, tetapi langsung dilatih untuk peka terhadap perubahan teknologi dan ramah terhadap isu lingkungan,” tambah Prof. Zeplin. (rur)


