SELASARSURABAYA – Di tengah pesatnya penggunaan AI (Artificial Intelligence) dalam dunia bisnis, data bukan lagi hanya sekadar bahan laporan bulanan. Data yang diolah AI bahkan kini bisa menjadi pendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat. Kebutuhan dunia industri pun bergeser dalam mencari karyawan baru, tak hanya menguasai teori, tetapi mereka harus mampu menerjemahkan konteks bisnis secara utuh.
Merespon hal ini, Universitas Kristen (UK) Petra bersama Guandata, perusahaan analitik berbasis AI dengan akar kuat di Enterprise BI (Business Intelligence) menggelar “IBE Transformation: Empowering Industry-Academia Collaboration”.
Dra. Indriati Njoto Bisono, M.Sc., Ph.D., Ketua Program International Business Engineering (IBE) UK Petra mengungkapkan bahwa kegiatan dalam kolaborasi ini mengintegrasikan dua fokus utama, yaitu digitalisasi korporasi lewat sesi talkshow.
“Modernizing Enterprise Decision-Making with AI-Driven Analytics”, serta kesiapan kerja mahasiswa melalui talkshow “Your Future Career Starts Now: What Employers Look for in Fresh Graduates”.
“Kegiatan ini diharapkan mampu menjawab tantangan besar dunia pendidikan saat ini, seperti bagaimana membentuk talenta yang tidak sekadar membaca informasi, tetapi juga mampu menerjemahkannya menjadi aksi nyata di perusahaan. Sekaligus sebagai bukti bahwa kampus dan industri dapat bekerja sama agar lulusan lebih siap menghadapi dunia kerja yang semakin data-driven dan dipengaruhi AI,” kata Indri, dikutip Sabtu (6/6/2026).
Dalam sesi yang dibawakan Chase Su, CEO Guandata, dijelaskan bahwa kebanyakan perusahaan saat ini mulai bergerak melampaui dashboard statis untuk menuju analitik yang lebih cerdas dan berorientasi pada aksi. Menurutnya, tantangan utama bukan lagi tentang ketersediaan data, melainkan kemampuan manusia dan organisasi dalam mengubah data menjadi keputusan yang jelas dan dapat dieksekusi.
“Saat semakin banyak organisasi memasuki era AI, tantangan utamanya bukan lagi apakah data itu ada, tetapi apakah manusia mampu mengubahnya menjadi keputusan yang jelas dan tindakan yang bermakna,” ujar Chase Su.
Bagi dunia pendidikan, arah ini menegaskan bahwa pembelajaran tidak cukup berhenti pada konsep saja, melainkan kampus juga perlu memastikan agar mahasiswa memahami cara data digunakan dalam organisasi nyata. Baik itu mulai dari merumuskan masalah, memilih metrik yang relevan, hingga menyampaikan rekomendasi yang bisa dijalankan.
Sementara itu, Guandata yang berasal dari China merupakan perusahaan analitik berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan rekam jejak kuat di bidang enterprise Business Intelligence (BI). Hingga saat ini, Guandata telah mendukung lebih dari 1.000 perusahaan global melalui jaringan dan sistem pengolahan data skala besar yang mampu mengubah data mentah menjadi keputusan bisnis yang akurat.
“Harapannya, kolaborasi kampus dan industri ini dapat membuat pembelajaran lebih relevan, terukur, dan berdampak,” imbuh Dra. Indriati.
Sebagai bagian dari jalinan kolaborasi, Guandata juga memberikan dukungan beasiswa bagi calon mahasiswa International Business Engineering (IBE) UK Petra untuk memperkuat pengembangan talenta.
Ke depan, UK Petra dan Guandata membuka ruang kerja sama lanjutan yang dapat memperkuat pembelajaran terapan (termasuk kesempatan magang di Guandata HQ di Hangzhou, China), paparan industri, serta pengembangan kapabilitas analitik yang relevan bagi kebutuhan Indonesia. (rur)


