Kamis, Juni 11, 2026
BerandaHeadlinesMengulik Peran Medsos saat Ini, Lebih dari Ruang Berjejaring

Mengulik Peran Medsos saat Ini, Lebih dari Ruang Berjejaring

SELASARSURABAYA – Media sosial kini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kehadirannya tidak hanya mengubah cara berkomunikasi, tetapi juga membentuk cara masyarakat memahami dan merespons isu publik. Dalam momentum Hari Media Sosial Nasional, Guru Besar Media Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Prof Dra Rachmah Ida MComms PhD, menyoroti perubahan besar tersebut dalam kehidupan sosial masyarakat.

Menurut Prof Ida, perkembangan teknologi komunikasi telah menggeser pola interaksi manusia dari komunikasi tatap muka menuju mediated communication atau komunikasi yang berlangsung melalui perantara teknologi. Kehadiran telepon pintar dan internet membuat masyarakat semakin mengandalkan medium digital untuk menjalin hubungan sosial.

“Komunikasi tatap muka sekarang jauh berkurang daripada komunikasi yang berlangsung melalui media. Media sosial awalnya hadir untuk membangun social network, mempertemukan orang, dan memperluas relasi. Namun, fungsinya terus berkembang seiring perubahan kebutuhan masyarakat,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).

Prof Ida menjelaskan bahwa banyak masyarakat sering menyamakan media sosial dengan media massa. Padahal keduanya memiliki karakter yang berbeda. Media massa menghasilkan dan menyebarkan informasi melalui proses jurnalistik yang terstruktur. Sedangkan media sosial berfungsi sebagai ruang interaksi antar pengguna.

Seiring waktu, media sosial mengalami transformasi signifikan dalam fungsinya di ruang publik. Platform yang awalnya hadir untuk membangun jejaring sosial dan memperluas relasi antarindividu kini berkembang menjadi ruang yang lebih kompleks.

“Media sosial bahkan berperan sebagai sarana mobilisasi massa, wadah gerakan sosial, hingga instrumen yang turut memengaruhi dinamika politik di berbagai negara,” ujarnya.

Ia mencontohkan peristiwa Arab Spring (protes demokrasi massal) yang menunjukkan bagaimana media sosial mampu mengorganisasi gerakan masyarakat dalam skala besar. Menurutnya, fenomena tersebut membuktikan bahwa media sosial tidak serta merta menjadi ruang interaksi, melainkan instrumen krusial yang dapat memengaruhi kehidupan sosial dan politik suatu negara. 

“Media sosial memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara lebih luas. Dalam sistem demokrasi, hal ini tentu menjadi peluang karena masyarakat memiliki saluran untuk bersuara,” jelasnya.

Di Indonesia, Prof Ida melihat kekuatan media sosial semakin nyata melalui munculnya fenomena No Viral No Justice. Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana unggahan di media sosial mampu mendorong perhatian publik terhadap suatu persoalan dan memengaruhi respons berbagai pihak.

Menurutnya, media sosial kini berperan sebagai pembentuk opini publik yang sangat kuat. Di satu sisi, kondisi ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyuarakan ketidakadilan. Namun di sisi lain, kekuatan tersebut juga menghadirkan tantangan baru karena media sosial sering menjadi ruang penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan berbagai kepentingan pragmatis.

“Media sosial memberi peluang bagi masyarakat untuk bersuara, tetapi masyarakat juga perlu memahami bahwa kekuatan teknologi harus diimbangi dengan tanggung jawab. Tanpa sikap kritis, media sosial dapat membentuk opini yang belum tentu sesuai dengan fakta,” pungkasnya. (nan)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments