SELASARSURABAYA – Di tengah situasi global yang bergejolak saat ini, industri makanan dan minuman di Jawa Timur menunjukkan tren positif. Ini terbukti dari ramainya gelaran EastFood Indonesia Expo (IIFEX) 2026, pameran dagang Business-to-Business (B2B) berskala internasional yang sedang berlangsung di Grand City Convention Hall, Surabaya.
Hilir mudik pengunjung yang memenuhi area pameran menunjukkan bahwa event berskala internasional ini menjadi momentum strategis bagi pelaku industri untuk memperluas pasar, menjalin kemitraan, serta mengakselerasi pertumbuhan sektor makanan dan minuman yang terus menunjukkan tren positif di Indonesia.
EastFood Indonesia Expo 2026 menghadirkan lebih dari 180 peserta dari dalam dan luar negeri. Kehadiran perusahaan internasional bersama puluhan pelaku usaha lokal memperkuat posisi Surabaya sebagai salah satu pusat perdagangan dan industri makanan-minuman terbesar di Indonesia bagian timur.
Selain perusahaan besar, sebanyak 30 UMKM binaan terpilih turut ambil bagian dalam pameran tersebut. Mereka memperoleh kesempatan memperkenalkan produk kepada distributor, importir, investor, hingga calon pembeli dari berbagai negara.
Chief Executive Officer Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan pameran tersebut dirancang sebagai wadah yang mempertemukan pelaku industri makanan dan minuman dari berbagai negara dalam satu platform bisnis.
“Kami berharap EastFood Indonesia Expo 2026 dapat menjadi katalis pertumbuhan industri, memperluas jaringan bisnis, dan membuka akses pasar yang lebih besar bagi pelaku usaha nasional maupun internasional,” ujar Daud, seperti dikutip Minggu (21/6/2026).

Beragam agenda bisnis dan edukasi turut mewarnai penyelenggaraan tahun ini. Salah satunya Bakat Boga Challenge 2026, kompetisi kuliner yang mempertemukan talenta dari berbagai daerah untuk menampilkan kemampuan dan kreativitas di bidang gastronomi.
Sejumlah kategori yang diperlombakan antara lain Lapis Surabaya dan Bolu Gulung Keju, Traditional Jajanan Pasar, Western Seafood Spaghetti & Chicken Main Course, hingga The Best Risoles dan Classic Chiffon Cake. Penilaian dilakukan berdasarkan cita rasa, teknik pengolahan, kebersihan, kreativitas, serta kualitas penyajian.
Pengunjung juga dapat mengikuti berbagai sesi cooking demo dan baking demo yang menghadirkan chef profesional serta sejumlah merek industri makanan terkemuka, seperti IndoBake, Kewpie, dan Rich’s.
Bagi industri kopi, Indonesia Coffee Art Battle (ICAB) menghadirkan workshop dan talkshow yang diisi praktisi serta pakar kopi nasional. Program tersebut ditujukan untuk menambah wawasan barista, roaster, pelaku usaha F&B, hingga pecinta kopi.
Untuk memperluas peluang transaksi, juga ada program Business Matching yang mempertemukan peserta pameran dengan distributor, importir, investor, dan mitra usaha potensial.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman, menyampaikan bahwa industri makanan dan minuman masih menunjukkan kinerja yang kuat meski menghadapi berbagai tantangan global.
“Pada tahun lalu industri makanan dan minuman tumbuh 6,38 persen, sementara pada triwulan pertama 2026 mencapai 7,04 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Menurut Adhi, sektor makanan dan minuman saat ini menyumbang sekitar 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas nasional, sehingga menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia.
Ia menilai dinamika geopolitik global dan tekanan ekonomi internasional menuntut dunia usaha untuk terus beradaptasi melalui inovasi dan kolaborasi.
“Melalui pameran seperti ini, pelaku usaha dapat berbagi pengalaman, teknologi, dan inovasi baru sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan industri ke depan,” tukasnya. (rur)


