Sabtu, Juli 18, 2026
BerandaHeadlinesBiaya Merawat Gigi di Indonesia Termahal Kedua di ASEAN

Biaya Merawat Gigi di Indonesia Termahal Kedua di ASEAN

SELASARSURABAYA – Mengutip laporan WHO’s Oral Health Country Profile 2022 yang dilansir oleh Badan Kebijakan Kementerian Kesehatan RI, pengeluaran masyarakat Indonesia untuk perawatan kesehatan gigi tercatat sebagai yang tertinggi kedua di Asia Tenggara.

Angkanya mencapai rata-rata US$ 1.160, membayangi Singapura di posisi pertama. Realitas finansial ini menjadi alarm keras bahwa kelalaian dalam perawatan preventif sehari-hari sering kali berujung pada tindakan kuratif yang menguras kantong.

Fenomena kesadaran finansial dan kesehatan ini sejalan dengan melejitnya tren kecantikan global yang dikenal sebagai Skinification. Awalnya, tren ini lahir dari tingginya paparan edukasi di industri kecantikan yang membuat konsumen menjadi sangat kritis dan ingredient-conscious. Mereka tidak lagi asal membeli produk, melainkan mempelajari secara detail fungsi bahan aktif seperti serum, ceramide, hingga eksfoliator untuk wajah mereka.

Kini, tren tersebut merambah ke ranah oral care. Konsumen modern mulai menyadari bahwa rongga mulut dan pelindung gigi sama berharganya dengan skin barrier. Perawatan gigi tidak lagi dilihat sebagai sekadar rutinitas membersihkan kotoran dengan busa atau pasta gigi konvensional, melainkan sebuah ritual kecantikan yang menuntut nutrisi, perbaikan, dan perlindungan dari bahan aktif spesifik yang teruji secara medis.

Sebagai gambaran, menurut data Markethac penjualan pasta gigi sensitif total penjualanya mencapai 339,3 produk pada periode Maret – Juni 2026, salah satu pasar yang berpotensi di e-commerce. Melihat lebih spesifik dari data ini, kanal TikTok Shop x Tokopedia jadi yang paling diminati, dengan memiliki market share sebesar 58,2%, sementara Shopee 41%. Hal ini menunjukkan bahwa social commerce jadi tempat yang tepat untuk mempromosikan produk, sekaligus mengedukasi manfaat dari bahan-bahan aktif yang digunakan pada produk.

Setuju dengan pemahaman ini, praktisi kesehatan gigi drg. Zahrah Almira Cita Utami, menekankan pentingnya edukasi preventif bagi masyarakat agar tidak terjebak pada kebiasaan yang salah dan ‘menguras kantong’.

“Banyak pasien yang datang ke saya dan mengeluhkan mengapa belum ada perubahan meskipun sudah menggunakan pasta gigi pencerah. Kenyataannya, kalau kebiasaan merokok, mengopi, dan makan makanan yang berwarna pekat masih terus dilakukan, stain (noda di gigi) akan tetap menempel dengan kuat,” jelas drg. Zahrah, dikutip Jumat (17/7/2026).

Sebagai tindakan preventif harian, ia menyarankan langkah mitigasi yang mudah diaplikasikan. “Kalau kebiasaan tersebut tidak bisa dikurangi, pastikan untuk selalu bilas atau berkumur menggunakan air mineral setelahnya. Jika mengonsumsi minuman yang berwarna, bisa menggunakan sedotan untuk mengurangi dampak diskolorasi warna gigi,” sarannya.

Dalam pemilihan produk perawatan, drg. Zahrah juga mengingatkan konsumen untuk lebih kritis. “Pastikan tidak hanya menggunakan pasta gigi yang hanya memiliki busa banyak, tapi nyatanya tidak dapat mengangkat noda atau stain. Saya menyarankan pasta gigi yang sudah ada uji labnya. Apabila memang setelah rutin melakukan perawatan mandiri ini keluhan atau masalahnya tidak selesai, baru langkah yang harus diambil adalah menemui dokter gigi untuk penanganan lebih lanjut.”

Pergeseran standar perawatan menuju Skinification ini pada akhirnya menuntut inovasi nyata pada formulasi pasta gigi. Jika produk pada umumnya kerap mengandalkan butiran abrasif kasar yang berisiko menggores enamel, pendekatan modern kini beralih ke sistem enzimatik yang jauh lebih lembut namun sangat efektif. (nan)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments