SELASARSURABAYA – Fenomena munculnya pagar besi di area luar beberapa pusat perbelanjaan di Surabaya menarik perhatian publik, sekaligus menjadi topik pembicaraan yang menarik dari sudut pandang desain kota. Pemasangan pembatas fisik ini umumnya dilakukan untuk alasan keamanan, penataan alur pengunjung, maupun penyesuaian terhadap pengembangan jalan di sekitar area gedung.
Dosen Arsitektur Universitas Kristen (UK) Petra, Rully Damayanti, S.T., M.Art., Ph.D., memberikan pandangannya terkait fenomena ini dari kacamata arsitektur. Menurutnya, perancangan elemen luar seperti pagar idealnya memperhatikan keselarasan visual dengan bangunan utama.
“Dalam arsitektur, biasanya ada pengulangan elemen visual—seperti material, warna, atau pola bentuk—dari bangunan utama ke rancangan pagar agar menciptakan kesatuan desain,” terangnya, dikutip Selasa (28/7/2026).
Tanpa adanya benang merah tersebut, keberadaan pagar dapat memengaruhi estetika keseluruhan gedung. Kesatuan desain menjadi penting agar elemen pembatas tidak tampak terpisah dari proporsi bangunan yang ada.
Rully, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UK Petra, menjelaskan bahwa fungsi pagar tidak hanya berdampak pada estetika, tapi juga pada impresi ruang. Pagar yang dirancang terlalu tinggi dapat membatasi pandangan visual warga dan memberikan kesan bangunan yang cenderung eksklusif. Padahal, mall atau pusat perbelanjaan memiliki fungsi sosial sebagai ruang yang diakses oleh masyarakat umum.
Pendekatan perancangan ruang, bangunan, atau lingkungan yang berfokus pada pembatasan dan keamanan ketat ini dalam dunia arsitektur dikenal dengan istilah arsitektur defensif. Strategi ini bertujuan mencegah terjadinya kejahatan, vandalisme, maupun tindakan lain yang dapat merusak fasilitas.
Arsitektur defensif biasanya diwujudkan melalui berbagai elemen desain, seperti pagar, dinding, lansekap, pencahayaan, serta pengaturan akses dan sirkulasi.
“Implementasinya dapat berupa elemen fisik pada ruang publik, misalnya pagar tinggi dengan bilah horizontal atau ujung tajam yang mengarah ke luar untuk menghambat intrusi,” rinci Rully.
Selain itu, imbuhnya, strategi defensif juga dapat diterapkan melalui penataan elemen ruang terhadap bangunan, seperti penggunaan kolam air yang mengelilingi bangunan sebagai penghalang fisik.
“Dalam konteks sejarah, beberapa bangunan pertahanan bahkan dilengkapi dengan parit berair yang diisi hewan berbahaya untuk meningkatkan fungsi perlindungannya,” urainya.
Sebagai alternatif pertimbangan desain, Rully mengenalkan konsep soft border (pembatas halus). Konsep ini memanfaatkan elemen yang lebih ramah seperti pagar tanaman, struktur transparan, atau kombinasi hiasan vegetasi.
“Pilihan soft border atau pagar dengan batas ketinggian yang terukur—misal sekitar 80 cm—tetap dapat memenuhi fungsi pembatas area tanpa memutus koneksi visual warga. Dengan begitu, fungsi keamanan tetap berjalan tanpa menghilangkan kesan terbuka dari sebuah fasilitas publik,” pungkas Rully. (nan)

