SELASARSURABAYA – Menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Indonesia lewat pendekatan visual yang adaptif dan sesuai tren menjadi benang merah dari karya para mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) dan International Program in Digital Media (IPDM) Universitas Kristen (UK) Petra.
Spirit itu bergelora dalam Adiwarna 2026, sebuah pameran karya tugas akhir yang hadir sebagai ruang selebrasi sekaligus sarana edukasi kreatif.
Berbalut tema SERAYA, perhelatan ini tak hanya memamerkan estetika modern berjiwa lokal, tapi juga merayakan perjalanan bersama dalam bertumbuh dan berproses yang dilewati oleh para mahasiswa selama duduk di bangku perkuliahan.
Adiwarna 2026 berlangsung pada 20-22 Agustus 2026 di Basement Alun-Alun Kota Surabaya, mulai pukul 10.00-21.00 WIB. Dari 183 karya mahasiswa DKV-IPDM UK Petra angkatan 2022, terpilih 40 karya untuk dipamerkan selama tiga hari.
“Seluruh karya yang dipamerkan merupakan karya terbaik dari setiap kategori yang ada,” ungkap Anang Tri Wahyudi, S.Sn., M.Sn., selaku Dosen Pembimbing, dikutip Jumat (21/8/2026).
Karya-karya tersebut dikelompokkan ke dalam empat kategori, yakni Visual Studies, Brand Communication, Digital Media, dan Graphic Design. Salah satu contoh dalam kategori Graphic Design, karya menarik datang dari Christopher Agung. Mahasiswa DKV ini membuat art toys dan blind box bertema Wayang Pandawa.
Karya tugas akhir berjudul “Perancangan Art Toys Bertema Blind Box untuk Mengenalkan Karakter Wayang Pandawa kepada Generasi Alpha” itu diberi nama Pan5.
“Pan5 hadir untuk mengingatkan dan mengajarkan moral baik dalam budaya Indonesia. Salah satunya melalui karakter-karakter di wayang Pandawa yang kini mulai dilupakan, khususnya oleh Gen Alpha, di tengah gempuran internet dan globalisasi masa kini,” jelas Christopher.
Pan5 yang terdiri dari lima karakter, yakni Puni (Puntadewa), Bim Bim (Bimasena), Aru (Arjuna), Kuku (Nakula), dan Dede (Sadewa). Meski karakter yang diciptakan sangat imut, unsur edukasi tidaklah lepas dari kelima karakter ini.
“Elemen busana yang dikenakan, filosofi warna, dan ukuran karakter yang dibuat bertujuan untuk merefleksikan setiap karakter,” lanjutnya.

Karya menarik lainnya datang dari Shannon Faustine Wijaya yang membuat tugas akhir berjudul “Perancangan Media Edukatif untuk Membantu Mengelola Duka Kehilangan Orang Tersayang secara Sehat bagi Remaja Indonesia”. Hadir dalam bentuk buku tentang berteman dengan duka yang membantu remaja mengenali, menerima, dan mengelola duka, buku ini diberinya judul The Dear Friend in Me.
“Buku ini berangkat dari fenomena banyaknya remaja yang kehilangan orang tersayang, namun tumbuh tanpa memahami cara memproses duka tersebut. Dengan menggabungkan pendekatan bibliotherapy melalui narasi personal dan guided journaling, buku edukatif ini dirancang sebagai kawan perjalanan (grief companion) agar remaja tidak merasa sendirian,” ungkap Shannon.
Ia berharap, buku ini bisa membantu meningkatkan pemahaman remaja dalam menerima, mengekspresikan, dan meregulasi emosi mereka secara lebih sehat.
“Sesuai tema, yakni SERAYA, kami berharap Adiwarna bisa menjadi tempat untuk saling merayakan dan mengapresiasi setiap karya kreatif yang dilahirkan oleh anak muda bangsa. Sekaligus menjadi wujud keberanian untuk terus bergerak maju, dan sebagai gerbang untuk masuk ke bab berikutnya dengan penuh harapan dan keyakinan,” ujar Gloria Tantadiputra selaku Ketua Panitia Adiwarna 2026.
Selain pameran karya, Adiwarna kali ini juga dilengkapi dengan talkshow dan workshop bagi mahasiswa serta siswa SMA yang ingin memperluas pemahaman di bidang kreatif serta menampilkan 160+ karya.
Melalui Adiwarna 2026 ini, DKV dan IPDM UK Petra menunjukkan komitmennya untuk terus menginspirasi dan memperluas dampak positif di industri kreatif kalangan anak muda. Lewat perpaduan tradisi, isu sosial, dan media modern, ajang ini jadi saksi bahwa gagasan mahasiswa hari ini adalah pemantik arah masa depan dunia kreatif Indonesia.

