SELASARSURABAYA – Kasus kanker payudara kini semakin sering ditemukan pada usia muda di bawah 40 atau 45 tahun. Selain itu, hingga saat ini kanker payudara adalah jenis kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia. Berangkat dari fenomena tersebut Adi Husada Cancer Center (AHCC) getol menggaungkan pentingnya deteksi dini kanker payudara, salah satunya melalui acara AHCC’s Partner Gathering: “Synergy in Care” yang mengusung tema “Integrating Corporate, Insurance, Community and Media”, Rabu (26/8/2026).
“Kasus kanker payudara itu makin lama makin muda usia pasiennya. Kanker payudara juga masuk top three kasus kanker terbanyak, baik di Indonesia maupun di AHCC sendiri. Maka dari itu kami lebih menggaungkan lagi deteksi dini pada kanker payudara, pengetahuan terkait kanker, kemudian pengobatannya,” ungkap General Manager AHCC, dr. Silvia Haniwijaya, M.Kes., disela acara.
Silvia menuturkan, top three kasus kanker terbanyak di AHCC yakni kanker payudara, kanker serviks, dan kanker leher. Silvia memperkirakan dari keseluruhan pasien kanker yang menjalani radiasi di AHCC, 70 persennya merupakan pasien kanker payudara.
“Itu sebagai gambaran bahwa kasus kanker payudara yang kami tangani memang banyak,” tegasnya.
Silvia melanjutkan, penyelenggaraan acara “Synergy in Care” bertujuan untuk memperkuat hubungan kemitraan strategis, menyatukan visi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, serta mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan kanker terpadu. AHCC berharap sinergi yang terbangun dapat menciptakan ekosistem pelayanan kanker yang lebih terintegrasi, mudah diakses, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
“Melalui Synergy in Care, kami ingin menghadirkan sebuah forum kolaborasi yang menyatukan seluruh mitra strategis AHCC. Keberhasilan penanganan kanker tidak hanya ditentukan oleh kualitas layanan medis, tetapi juga oleh kuatnya sinergi antara fasilitas kesehatan, dunia usaha, asuransi, komunitas, dan media. Bersama-sama, kita dapat membangun ekosistem pelayanan kanker yang berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” terangnya.
Selain penayangan virtual tour fasilitas medis modern AHCC, agenda utama acara ini diisi dengan sesi Interactive Health Talkshow yang menyoroti pentingnya deteksi dini serta efisiensi pembiayaan kesehatan bagi korporasi dan asuransi.
Ada pun narasumber yang dihadirkan di antaranya Dokter Spesialis Bedah AHCC dr. Sahar Bawazeer, Sp.B, Dokter Spesialis Radiologi & Onkologi Radiasi, dr. Lulus Handayani, Sp.Rad, Sp.Onk.Rad (K), dan penyintas kanker (cancer survivor) Ika Damajanti.
Dalam kesempatan tersebut dr Sahar menuturkan bahwa tingginya kasus kanker stadium lanjut pada kelompok usia produktif kerap dipicu oleh keterlambatan screening.
“Deteksi dan tindakan pada stadium awal terbukti secara signifikan meningkatkan peluang kesembuhan serta jauh lebih efisien dari sisi biaya operatif dan klaim medis perusahaan,salah satunya dengan metode VABB,” jelasnya.
Meluruskan persepsi awam terkait pengobatan kanker melalui radioterapi, dr. Lulus memaparkan bahwa pemindaian dan teknologi radioterapi modern di AHCC dirancang presisi untuk meminimalkan efek samping, sehingga pasien tetap dapat menjaga produktivitas kerja selama menjalani terapi.
Sementara itu Ika Damajanti membagikan perjalanan perawatannya serta pentingnya peran support system dari lingkungan kerja, asuransi, dan komunitas guna mengikis stigma negatif terhadap pejuang kanker. (rur)

