SELASARSURABAYA – Puluhan muda-mudi memadati Pasar Burung eks Lokalisasi Dolly di Kelurahan Putat Jaya, Surabaya, pada malam puncak Pekan Budaya Ruwat Rawat, akhir pekan kemarin.
Festival seni urban yang diusung oleh Universitas Kristen (UK) Petra bekerja sama dengan Karang Taruna Kelurahan Putat Jaya ini bertujuan untuk menghidupkan kembali potensi seni dan budaya lokal kawasan tersebut.
Melalui program bertajuk “RUWAT RAWAT: Inovasi Pertunjukan Ludruk–Karawitan Berbasis Film Dokumenter, Video Mapping, dan Kreasi Batik sebagai Model Festival Seni Urban di Kampung Eks-Lokalisasi Dolly”, kegiatan ini menyuguhkan kolaborasi kesenian tradisional dan teknologi visual. Program inovasi seni ini sepenuhnya didukung oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) melalui skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN).
Komitmen UK Petra dalam memajukan kawasan Dolly sebenarnya telah terbangun secara konsisten sejak tahun 2014 melalui Nota Kesepahaman (MoU) bersama Pemerintah Kota Surabaya. Sebagai salah satu wujud nyata dari MoU tersebut, Program Inovasi Seni Nusantara 2026 ini telah berjalan sejak Mei 2026.
PISN ini dirancang khusus untuk memberikan dampak nyata yang berkesinambungan bagi masyarakat Putat Jaya, baik dari sisi pembentukan karakter generasi muda, pelestarian budaya lokal, hingga pemberdayaan ekonomi warga.
Kegiatan ini digawangi oleh tim dosen lintas bidang UK Petra, yaitu Dr. Aniendya Christianna, S.Sn., M.Med.Kom. (Ketua tim-DKV), Astri Yogatama, S.Sos., M.Si. (anggota-Ilmu Komunikasi), dan Daniel Budiana, S.Sos., M.A. (anggota-Ilmu Komunikasi).
Dr. Aniendya Christianna, menjelaskan bahwa kegiatan itu berangkat dari penelusuran kembali potensi budaya yang pernah hidup di kawasan tersebut.
“Berawal dari kerinduan akan potensi seni Putat Jaya masa lalu, seperti seniman ludruk dan karawitan yang jejaknya terdokumentasi dalam album foto lama. Sayangnya, belum banyak anak muda yang tergerak melestarikannya. Oleh karena itu, kami berinisiatif melakukan pembibitan generasi muda melalui pelatihan hingga festival seni agar potensi positif di Dolly ini tidak punah,” jelas Dr. Aniendya, seperti dikutip Senin (31/8/2026).
Rangkaian program diawali dengan pelatihan ludruk dan karawitan yang dipimpin oleh seniman senior, Slamet Raharjo. Sebanyak 25 anak dan remaja dari Kelurahan Putat Jaya dan sekitarnya rutin berlatih setiap minggu di SDN Pakis 5, Surabaya. Gemerincing suara gamelan yang dimainkan oleh tangan-tangan muda terdengar setiap minggu, mengiringi lakon ludruk yang dimainkan oleh para remaja. Keseruan muncul karena ludruk merupakan seni yang masih jarang dikenal anak muda. Namun, ketika dipraktikkan secara langsung, kesenian itu ternyata menjadi aktivitas yang menarik bagi mereka.
“Penting bagi para anak muda mengenal budaya Jawi dan melestarikannya, sebelum diakui sebagai warisan budaya negara lain,” ujar Slamet Raharjo pelatih karawitan.
Sementara itu, Ketua Karang Taruna Kelurahan Putat Jaya, M.Hafidz, menyambut positif keterlibatan generasi muda dalam seni tradisional yang sebelumnya asing bagi mereka.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Walaupun awalnya cukup sulit mengajak teman-teman untuk terlibat, kami harus sabar mencari bibit lokal berbakat yang ternyata punya minat tetapi selama ini belum memiliki wadah penyaluran,” jelas Hafidz.
Pada malam puncak, pengunjung disuguhi pertunjukan kolaboratif yang memadukan ludruk dan karawitan muda dengan tayangan film dokumenter serta video mapping dari arsip dokumentasi para senior budaya. Keindahan pertunjukan makin diperkuat oleh busana karawitan hasil karya Genarta, kelompok usaha batik lokal Putat Jaya, sebagai bentuk sinergi dengan UMKM setempat.
Aniendya menambahkan, program ini diharapkan dapat membangun kapasitas masyarakat secara berkelanjutan serta mengubah stigma kawasan.
“Ini adalah bentuk capacity building yang bersinergi antara aspek budaya dan ekonomi sirkuler. Harapan kami, publik lebih mengenal Dolly sebagai wilayah berpotensi positif dan kreatif. Karang Taruna adalah mitra strategis yang kami yakini mampu menerima tongkat estafet pelestarian budaya ini,” pungkasnya. (rur)

