Rabu, September 2, 2026
BerandaHeadlinesNona Jepun, Ada Kisah yang Tak Cukup Hanya Dibaca

Nona Jepun, Ada Kisah yang Tak Cukup Hanya Dibaca

SELASARSURABAYA – Jepang adalah negara yang pernah melakukan praktek perbudakan seksual saat menjajah Indonesia di tahun 1942-1945. Kala itu banyak perempuan Indonesia yang kemudian dijadikan Ianfu, obyek perbudakan seksual para tentara Jepang. “Ianfu” bukan merupakan perempuan penghibur, tetapi merupakan praktek perbudakan seksual.

Beberapa novel Indonesia mengangkat tema jugun ianfu untuk menyuarakan luka sejarah yang kerap terpinggirkan. Salah satunya adalah novel Nona Jepun karya Sinta Yudisia.

Novel yang sebelumnya menjadi finalis Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2021 kategori “Menarik Minat Juri” itu kini telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Novel ini mengangkat kisah fiksi berlatar sejarah tentang penderitaan Ndaru – buruh perkebunan tebu asal Balamoa, Tegal – yang terjebak dalam barak paksa (ianjo) Simpang Telawang, Banjarmasin.

Sinta mengungkapkan novel ini lahir dari kegelisahannya terhadap ancaman amnesia sejarah di kalangan generasi muda. Menurutnya, kegandrungan anak muda masa kini terhadap budaya pop Jepang modern perlu diimbangi dengan kesadaran historis yang utuh tentang perjalanan pahit bangsa Indonesia.

“Kita tidak boleh silau atau menghamba pada pencapaian fisik penjajah, karena secara filosofis mentalitas kita jauh lebih teruji melewati berbagai keganasan zaman,” tegas Sinta saat diskusi publik melalui bedah buku di Surabaya belum lama ini.

Sinta mengatakan, proses penulisan novel Nona Jepun dibangun melalui riset di dua lokasi utama.

Ia menelusuri kehidupan perkebunan tebu di Jawa Tengah sekaligus sejarah kawasan Simpang Telawang di Kalimantan Selatan yang berkaitan dengan keberadaan ianjo bagi jugun ianfu.

“Riset dari penulisan buku ini dari dua tempat, pertama pabrik tebu di Jawa Tengah lalu kedua adalah di Kalimantan Selatan yakni Simpang Telawang,” ungkapnya.

Keinginan menulis kisah tersebut telah muncul selama bertahun-tahun. Setiap momentum peringatan kemerdekaan, Sinta mengaku kembali mencari berbagai referensi sejarah untuk memperkaya bahan penulisannya.

“Bertahun-tahun saya ingin menulis kisah ini, karena setiap 17 Agustus saya mencari referensi sejarah. Saya memburu jurnal, membeli buku di pasaran, nonton film,” tuturnya.

​Sinta menjelaskan, pendekatan sastra fiksi dipilih agar narasi luka batin dan trauma masa lalu dapat menyentuh empati pembaca tanpa terjebak pada eksploitasi visual yang vulgar.

​”Tantangan terbesarnya adalah menerjemahkan peristiwa kejahatan perang yang sangat brutal ke dalam bahasa sastra yang bermartabat. Ketika Ndaru diperkosa, saya tidak menulisnya secara vulgar, melainkan menganalogikannya seperti gempa dahsyat berkepanjangan di dalam tubuhnya yang membuat dia ingin lenyap. Melalui fiksi, pembaca diajak merasakan getaran penderitaan itu secara manusiawi,” terangnya.

Sinta mengatakan novel ini cukup relevan dengan generasi muda (Gen Z dan Alpha) yang rentan mengalami keputusasaan.

“Di dalam novel, tokoh Ndaru sempat ingin mengakhiri hidupnya karena penderitaan ekstrem, namun ia memilih bertahan karena mengingat nasihat gurunya bahwa menyerah bukan pilihan,” ucap Sinta.

“Nilai daya juang dan kemampuan untuk tetap bertahan hidup (survive) inilah yang harus disematkan kepada generasi kapan pun,” pesannya. (rur)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments