Jumat, September 4, 2026
BerandaHeadlinesBI Jatim Dorong Pelaku Usaha Optimalkan Pemanfaatan Transaksi Mata Uang Lokal

BI Jatim Dorong Pelaku Usaha Optimalkan Pemanfaatan Transaksi Mata Uang Lokal

SELASARSURABAYA – Bank Indonesia (BI) mendorong pelaku usaha memahami dan memanfaatkan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) untuk mendukung stabilitas rupiah dan memperkuat ketahanan pasar keuangan domestik.

Kepala Perwakilan BI Jawa Timur (BI Jatim) Ibrahim mengatakan, penerapan LCT menjadi salah satu upaya untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi. Skema tersebut memungkinkan transaksi perdagangan dan investasi menggunakan mata uang lokal negara mitra sehingga ketergantungan terhadap mata uang tertentu dapat dikurangi.

“Pelaku usaha dapat menggunakan layanan LCT melalui bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Saat ini, Indonesia telah menjalin kerja sama LCT dengan enam negara, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab,” ujar Ibrahim dalam kegiatan Temu Responden dan Sosialisasi Local Currency Transaction yang digelar BI Jawa Timur di Surabaya belum lama ini.

Dalam sosialisasi LCT tersebut, BI menghadirkan Chief Economist Bank Permata Josua Pardede, Deputi Direktur Departemen Internasional BI Elyana K. Widyasari, serta Kepala Bidang Kantor Wilayah Bea Cukai Jatim I Bagus Sulistijono.

Pembahasan tidak hanya mencakup peluang penggunaan mata uang lokal, tetapi juga mitigasi risiko transaksi perdagangan internasional. Dukungan kepabeanan turut menjadi bagian yang dibahas untuk membantu pelaku usaha dalam menjalankan transaksi lintas negara.

BI Jatim juga menyediakan Banking Consultation Desk yang melibatkan sejumlah bank ACCD. Fasilitas tersebut dimanfaatkan eksportir dan importir untuk berkonsultasi mengenai teknis penggunaan LCT maupun layanan perbankan lainnya.

BI berharap pemanfaatan transaksi mata uang lokal dapat semakin berkembang seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan investasi Jawa Timur dengan negara-negara mitra.

Kegiatan tersebut juga menjadi bentuk apresiasi BI kepada para responden survei dan kontak liaison yang selama ini berkontribusi memberikan data serta informasi mengenai perkembangan dunia usaha dan perekonomian Jatim.

Ibrahim mengungkapkan, responden survei memiliki peran penting bagi BI karena memberikan data dan informasi mengenai kondisi perekonomian di sektor riil.

“Bagi Bank Indonesia, responden bukan sekadar sumber data. Responden adalah strategic partner yang membantu memahami perekonomian Jawa Timur,” kata Ibrahim.

BI Jatim secara rutin melakukan 11 jenis survei untuk memperoleh informasi langsung dari sektor riil. Data tersebut kemudian dipadukan dengan berbagai indikator ekonomi dan informasi dari lembaga terkait untuk menghasilkan asesmen yang lebih menyeluruh.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, data dari sektor riil menjadi salah satu dasar penting dalam merumuskan kebijakan ekonomi. Data hasil survei dan liaison dapat melengkapi informasi dari berbagai lembaga sehingga memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi perekonomian Jawa Timur.

“Data dari lapangan yang lengkap menjadi basis dalam diskusi kebijakan yang kami lakukan bersama Bank Indonesia,” ujar Emil. (rur)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments