Kamis, September 10, 2026
BerandaHeadlinesSatgas Kemanusiaan ITS Ungkap Kisah Haru Korban Bencana Gempa NTT

Satgas Kemanusiaan ITS Ungkap Kisah Haru Korban Bencana Gempa NTT

SELASARSURABAYA – Tiga pekan berada di tengah kondisi pascabencana gempa, Tim Satgas Kemanusiaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) masih aktif menjangkau korban bencana alam untuk menyalurkan bantuan logistik di lima kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana, para relawan ITS menemukan sejumlah kisah haru tentang korban yang tetap bertahan dan berharap di tengah keterbatasan.

Lima wilayah yang menjadi sasaran bantuan meliputi Kabupaten Sikka, Nagekeo, Ende, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur. Hingga saat ini, kondisi di sejumlah wilayah masih menghadapi gempa susulan dan terdapat korban yang belum terjangkau bantuan. Tim Satgas Kemanusiaan ITS direncanakan berada di NTT selama satu bulan.

Salah satu anggota Tim Satgas Kemanusiaan ITS Ahmad Ramadhani Prakoso turut terlibat dalam penanganan korban dari sisi logistik. Bersama tim, ia menyalurkan tenda terpal, selimut, tas berisi bahan pokok, obat-obatan, vitamin, dan perlengkapan kebersihan. Tim juga membantu pembangunan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan para korban.

Salah satu pengalaman yang membekas terjadi ketika Dhani, sapaan Ahmad Ramadhani Prakoso, bersama tim berkeliling pada malam hari sekitar pukul 22.00 waktu setempat di Kabupaten Nagekeo. Di tengah reruntuhan akibat gempa, tiba-tiba seorang anak usia sekolah dasar (SD) memanggil mereka dari sebuah tikungan gelap.

Dhani kemudian menghampiri sumber suara tersebut. Di bawah tebing yang dikelilingi persawahan mati, ia menemukan sekitar 11 keluarga yang berkumpul dalam kondisi kedinginan. Rumah mereka telah runtuh sehingga terpaksa tidur dengan menggunakan karung goni sebagai selimut.

Di antara mereka juga terdapat lansia yang sedang sakit. Melihat kondisi tersebut, Dhani dan tim segera membagikan 11 tenda terpal beserta selimut kepada keluarga yang membutuhkan.

Kehadiran bantuan tersebut disambut hangat oleh para korban. “Kami dijamu hangat dengan teh dan mereka berulang kali berterima kasih,” ucap Dhani penuh haru, dikutip Kamis (10/9/2026).

Kisah lain yang tidak kalah mengharukan terjadi di Pos Kota Sambirampas yang menjadi salah satu lokasi basecamp tim. Seorang anak berusia sekitar tujuh tahun bernama Lalang datang mengintip dan perlahan mendekati para relawan sambil memperhatikan logistik yang mereka bawa.

Lalang kemudian bertanya kepada Dhani apakah salah satu tas tersebut diperuntukkan baginya. Ia mengaku sudah tidak memiliki tas dan seragam sekolah karena seluruhnya tertimbun bersama rumahnya yang runtuh.

Sementara itu, ayahnya sedang sakit dan ibunya bekerja di kebun. “Kami sudah tak punya tas, baju seragam, semua tertimbun di rumah runtuh kami, Bang,” kata Lalang.

Kondisi tersebut membuat Dhani terharu karena di tengah bencana, Lalang masih memikirkan pendidikan. Dhani akhirnya memberikan tas tersebut kepada Lalang. Kisah Lalang menjadi pengingat bahwa di tengah kehilangan akibat bencana, harapan untuk kembali bersekolah tetap hidup. (nan)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments