SELASARSURABAYA – Di tengah pesatnya Era Society 5.0, arsitektur Indonesia berisiko kehilangan identitas lokal akibat penyeragaman desain global. Padahal, teknologi sebenarnya menyimpan potensi besar untuk memperkuat kearifan tradisi jika diintegrasikan secara tepat.
Berangkat dari hal itu, ARCHIEXPO hadir mengusung tema “Indonesian Architecture in Society 5.0: Challenges and Opportunities”. Ini merupakan sebuah ruang refleksi dan kolaborasi untuk merajut kembali jati diri arsitektur Indonesia menjadi solusi masa depan yang inovatif, berkelanjutan, dan berkarakter kuat.
Acara tahunan ini digagas oleh HIMAARTRA (Himpunan Mahasiswa Arsitektur Petra) – Program Studi Arsitektur Universitas Kristen (UK) Petra. Beragam kegiatan dihadirkan mulai dari pameran karya, talkshow, dan seminar yang mendatangkan praktisi arsitektur sebagai narasumber.
Suasana kian semarak dengan dilangsungkannya Archidraw. Lomba menggambar mural tentang dunia arsitektur bertema Warisan Indonesia, Teknologi, dan Arsitektur ini diikuti oleh 35 kelompok, masing-masing terdiri dari dua orang.
Mereka merupakan siswa-siswi asal SMA di Surabaya dan para mahasiswa UK Petra. Diberi waktu selama 1.5 jam, tiap kelompok menuangkan ide kreatifnya dalam sebuah media lukis berukuran 70 x 60 cm.
Avril Caylee Baros, Ketua Panitia Archiexpo 2026 menyebut bahwa karya terbaik dipilih berdasarkan kriteria penilaian: kesesuaian tema, teknik melukis, kreativitas, serta kerapian dan kebersihan.
“Harapannya lewat Archiexpo ini, seluruh peserta yang terlibat, baik dalam pameran, talkshow, seminar, maupun mural, dapat saling berdiskusi dan menggali peluang integrasi antara teknologi dengan kearifan lokal Indonesia,” ujar Avril, dikutip Sabtu (12/9/2026).
Ia menambahkan, momen ini sekaligus jadi ruang refleksi peran arsitek dalam menjaga identitas budaya bangsa seraya terus berinovasi menjawab kebutuhan desain masa depan yang berpusat pada manusia.
Menjadi agenda utama dalam Archiexpo, pameran karya mahasiswa dan lomba arsitektur menghadirkan pameran karya mahasiswa terbaik dari tiap semester, karya mahasiswa serta karya lomba dari Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan Architecture Festival. Puluhan maket dan poster arsitektur ditampilkan.
Tak ketinggalan, Archiexpo tahun ini juga menampilkan koleksi dari Surabaya Memori milik Library UK Petra berupa buku fisik serta koleksi foto tempo dulu dan sekarang.
Melalui Archiexpo 2026, Arsitektur UK Petra membuktikan dampak nyatanya dalam menjembatani warisan Indonesia dengan era Society 5.0. Langkah ini memperkuat peran kampus dalam menghasilkan karya arsitektur yang berkarakter, solutif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. (rur)

