SELASARSURABAYA – Ada banyak jalan untuk menjadi pelukis. Ada yang tumbuh dari pendidikan seni rupa, ada yang berangkat dari disiplin lain, dan ada pula yang menemukan dunia seni setelah bertahun-tahun menjalani profesi berbeda. Ini seperti pengalaman Gabriel Eva.
Gabriel Eva tidak sejak awal membayangkan dirinya akan menjadi seniman. Ia justru menempuh pendidikan desain fesyen di Arva School of Fashion dan lulus pada 2010. Kariernya berkembang di bidang yang menuntut kepekaan terhadap warna, tekstur, komposisi, dan bentuk. Ia pernah memenangkan kompetisi desain, merancang kostum untuk Agnes Monica, serta membangun lini pakaian anak bernama Bonne Chance.
Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah lain. Eva mulai menekuni seni lukis secara otodidak pada 2020. Bahkan, ketika pertama kali mencoba melukis, ia mengaku belum memahami cara memegang kuas. Ia belajar secara mandiri, antara lain melalui Pinterest, sambil mengandalkan kepekaan visual yang telah terbentuk selama bekerja di dunia fesyen.
“Pernah kita cukup kecil untuk percaya bahwa setiap pintu kecil dimaksudkan untuk dibuka. Pintu itu masih kecil, taman itu masih ada. Hanya kita yang telah menjadi terlalu besar untuk memasukinya seperti dulu,” tulis Gabriel Eva dalam catatannya, seperti dikutip Sabtu (7/11/2026).
Alam menjadi sumber inspirasi utamanya. Kegemarannya mendaki gunung dan menjelajahi ruang terbuka mempertemukannya dengan vegetasi, bunga, lanskap hutan, serta detail-detail kecil yang kerap luput dari perhatian. Pengalaman itu kemudian diterjemahkan ke dalam lukisan melalui warna, ingatan visual, foto, dan imajinasi.
Bagi Eva, melukis bukan sekadar memindahkan pemandangan ke atas kanvas. Ada pengalaman batin yang ikut bekerja dalam proses tersebut. Keindahan alam yang megah maupun detail yang sederhana memberinya kesempatan untuk mengenali diri lebih dalam.
Tema pertumbuhan diri atau self-growth menjadi salah satu benang merah perjalanan artistiknya. Dalam karya Self Reflection yang ditampilkan di ARTSUBS 2025, misalnya, seni lukis menjadi ruang untuk membaca kembali pengalaman dan perkembangan dirinya.
Keputusan untuk serius menekuni seni juga berkaitan dengan pengalaman praktis. Ketika lukisannya terjual dan hasilnya dapat membantu menutup kekurangan dalam bisnis fesyen, Eva mulai melihat kemungkinan lain dari jalan hidupnya. Setelah menutup bisnis fesyen pada Februari 2024, ia semakin memusatkan perhatian pada seni lukis.
Di ARTSUBS 2026, Eva menghadirkan empat karya yang berkelindan dengan dunia imajinatif Alice in Wonderland, antara lain A Garden Alice Forgot, I Found the Pond, Where Alice Once Dreamed, dan Do I Belong Here.
Karya-karya tersebut memperlihatkan bagaimana alam dan imajinasi dapat menjadi pintu masuk menuju ruang refleksi. Pengalaman yang mula-mula bersifat personal diolah menjadi dunia visual yang dapat dimasuki penonton dengan pengalaman dan penafsirannya sendiri. (nan)

