Senin, November 9, 2026
BerandaHeadlinesBukan Karena Gawai, Gangguan Penglihatan pada Anak Bisa Jadi Gejala Tumor Otak

Bukan Karena Gawai, Gangguan Penglihatan pada Anak Bisa Jadi Gejala Tumor Otak

SELASARSURABAYA – Orang tua perlu waspada jika anak mengalami gangguan penglihatan. Pasalnya, gangguan penglihatan pada anak tak selalu karena disebabkan oleh gawai. Apalagi jika gangguan penglihatan itu disertai dengan rasa pusing, bisa jadi itu merupakan gejala tumor otak.

“Sekarang ini anak mengalami gangguan penglihatan atau mata rabun, pasti yang disalahkan gawai. Anak dianggap terlalu sering lihat gawai. Tidak semua mata rabun pada anak karena kebanyakan lihat gawai, apalagi disertai dengan rasa pusing,” ingat Dokter Spesialis Anak Konsultan Hematologi-Onkologi Adi Husada Cancer Center (AHCC) Surabaya, dr. I Dewa Ayu Agung Shinta Kamaya, Sp.A(K), Spesialis Anak Konsultan Hematologi-Onkologi, dalam Surabaya Symposium of Oncology (SYMPONY) 2026, Sabtu (7/11/2026).

Perempuan yang kerap disapa Shinta itu meminta orang tua lebih peka terhadap gejala tumor otak pada anak. Orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi anak, termasuk kebiasaan, perkembangan kemampuan, hingga aktivitas sehari-hari.

“Anak-anak itu berbeda dengan orang dewasa. Kalau orang dewasa bisa mengatakan sedang sakit kepala, anak kecil belum tentu bisa menyampaikan keluhannya. Jadi, orang tua harus memperhatikan perubahan yang terjadi,” tegasnya.

Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah muntah berulang, kejang, serta kelemahan pada salah satu atau beberapa bagian tubuh. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan peningkatan tekanan di dalam rongga kepala yang membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Pada anak usia sekolah, orang tua juga perlu memperhatikan perubahan kemampuan belajar. Anak yang sebelumnya memiliki prestasi baik, tetapi tiba-tiba mengalami penurunan kemampuan akademis, perlu mendapatkan perhatian lebih.

Begitu pula apabila perkembangan anak yang sebelumnya sudah mencapai tahap tertentu justru mengalami kemunduran.

“Misalnya, awalnya prestasi sekolahnya bagus, kemudian tiba-tiba menurun. Atau perkembangan anak yang sebelumnya sudah sampai tahap tertentu justru mengalami kemunduran. Hal-hal seperti ini harus dipikirkan, apakah ada sesuatu yang perlu diperiksa,” jelasnya.

Menurut Shinta, orang tua sebaiknya tidak mengabaikan kekhawatiran ketika menemukan perubahan yang tidak biasa pada anak. Pemeriksaan awal ke fasilitas pelayanan kesehatan dapat menjadi langkah penting untuk mengetahui penyebab keluhan tersebut.

Dokter nantinya akan menentukan apakah anak membutuhkan pemeriksaan lanjutan, termasuk pemeriksaan pencitraan seperti MRI atau tindakan medis lainnya.

Banyak kalangan sering mengaitkan penyakit ini dengan konsumsi makanan atau gaya hidup. Shinta meluruskan bahwa penyebab dasar kanker pada anak selalu berkaitan dengan faktor genetik.

“Faktor risiko itu banyak, tapi semua itu akan mengerucut pada intinya adalah genetik gitu, ya. Jadi dia ada sesuatu di gen-nya yang dia bawa sehingga dia bisa mengizinkan si sel kanker ini tumbuh,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis onkologi radiasi konsultan AHCC dr. Yoke S. Marlina, Sp.Onk.Rad(K), menjelaskan radioterapi merupakan salah satu pilihan penanganan tumor otak yang diberikan berdasarkan indikasi medis.

Sebelum menentukan radioterapi, dokter perlu memastikan jenis dan karakteristik tumor melalui serangkaian pemeriksaan. Pemeriksaan MRI menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut.

Selain pencitraan, pemeriksaan jaringan melalui biopsi atau hasil operasi juga dibutuhkan untuk mengetahui jenis tumor dan tingkat keganasannya.

Hasil pemeriksaan patologi anatomi tersebut menjadi dasar bagi tim medis dalam menentukan apakah pasien membutuhkan radioterapi saja atau kombinasi dengan kemoterapi maupun tindakan lainnya.

“Semua harus jelas terlebih dahulu. Kita perlu mengetahui jenis tumornya, apakah termasuk low grade atau high grade, serta karakteristiknya. Dari situ baru bisa ditentukan apakah pasien membutuhkan radiasi saja atau dikombinasikan dengan kemoterapi,” jelas Yoke.

Pada pasien anak, pemberian radioterapi membutuhkan pertimbangan lebih khusus. Dokter harus memperhitungkan usia, dosis radiasi, serta kemungkinan dampaknya terhadap perkembangan otak dan fungsi kognitif.

Secara umum, radioterapi lebih diupayakan pada anak berusia di atas tiga tahun. Namun, pada kondisi tertentu, seperti tumor yang berkembang sangat cepat dan membutuhkan penanganan segera, tindakan tersebut tetap dapat dipertimbangkan pada usia lebih muda.

Yoke menjelaskan, radioterapi eksternal merupakan tindakan minimal invasif. Meski demikian, pelaksanaannya pada anak membutuhkan pendekatan khusus karena pasien sering merasa takut ketika harus menjalani penyinaran di ruang tersendiri.

Dalam kondisi tertentu, tim medis dapat melibatkan dokter anestesi untuk membantu anak tetap tenang selama prosedur berlangsung.

“Pada anak-anak, kadang diperlukan bantuan anestesi agar pasien bisa tidur saat dilakukan radiasi. Setelah tindakan selesai, pasien dibangunkan kembali. Proses penyinarannya sendiri relatif singkat, sekitar 10-15 menit,” terangnya.

Ia menambahkan, penanganan tumor otak membutuhkan kerja sama berbagai disiplin ilmu kedokteran. Mulai dari dokter spesialis saraf, bedah saraf, onkologi radiasi, hingga bidang lain sesuai kebutuhan pasien.

Dengan pemeriksaan yang tepat dan koordinasi antardokter, pilihan terapi diharapkan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. (rur)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments