Minggu, April 26, 2026
BerandaHeadlinesGandeng Pemerintah Australia, UK Petra Olah Limbah Kopi Malang Jadi Cuan

Gandeng Pemerintah Australia, UK Petra Olah Limbah Kopi Malang Jadi Cuan

SELASARSURABAYA – Masalah limbah kopi yang selama ini membebani lingkungan di Desa Sumberdem, Malang, kini mulai menemukan titik terang. Tim Pengabdian Masyarakat (Abdimas) Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya, bekerja sama dengan Pemerintah Australia, menggelar pelatihan inovatif untuk menyulap kulit dan ampas kopi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. 

Melalui skema Direct Aid Program (DAP) dari Konsulat Jenderal Australia Surabaya, program bertajuk “Renewable Energy Solutions and Efficient Waste Management for Sustainable Coffee Processing” ini tidak hanya berfokus pada kelestarian alam tetapi juga membidik penguatan ekonomi keluarga petani melalui hilirisasi limbah yang bernilai jual tinggi. 

Tim Abdimas yang diketuai oleh Togar Wiliater Soaloon Panjaitan, Ph.D., bersama anggota tim yaitu Iwan Halim Sahputra, Ph.D., Dr.-Ing. Indar Sugiarto dan Hariyo Priambudi Setyo Pratomo, M.Phil., memberikan pelatihan khusus untuk mengolah kulit kopi menjadi sirup cascara yang segar dan teh serta mengubah ampas kopi menjadi arang berkualitas tinggi.  

Dalam kegiatan ini para petani dan kelompok perempuan tidak hanya dibekali teori, tetapi juga terjun langsung mempraktikkan produksi barang inovasi yang memiliki nilai jual tinggi tersebut.

“Kami ingin mengubah paradigma. Limbah kopi bukan lagi sisa produksi yang mengotori, melainkan sumber peluang usaha baru untuk meningkatkan pendapatan keluarga petani,” ujar Togar, dikutip Minggu (25/4/2026).
 
Sementara itu Wakil Konsul Jenderal Australia di Surabaya Christine Bui, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Dengan melibatkan kaum perempuan dalam mengolah kulit kopi menjadi barang bernilai, program ini menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus mempromosikan mata pencaharian yang berkelanjutan,” tuturnya.

Kehadiran konsulat Australia ini mempertegas komitmen hubungan bilateral dalam mendukung pembangunan kapasitas masyarakat desa di Jawa Timur. 

Meski potensi ekonomi dari sirup cascara dan teh serta arang kopi sangat besar, tim UK Petra menyadari adanya hambatan di lapangan, mulai dari keterbatasan alat hingga akses pasar. Oleh karena itu, pelatihan yang dipandu oleh Dr. Renny Indrawati dan Dr. apt. Ratnaningrum Dewi, yang juga dosen UK Petra ini merupakan langkah awal dari pendampingan jangka panjang. 

“Kami tidak berhenti di pelatihan saja. Ke depan, tim UK Petra akan memberikan pendampingan lanjutan mulai dari standarisasi mutu, desain pengemasan (branding), hingga strategi pemasaran agar produk ini bisa menembus pasar yang lebih luas,” tambah Togar.

Salah satu peserta, Harjendra, mengaku optimistis dengan wawasan baru ini.

“Selama ini kulit kopi hanya jadi pupuk atau dibuang. Sekarang kami tahu ini bisa jadi sirup dan teh bahkan punya nilai jual. Ini sangat membantu kami mencari penghasilan tambahan,” ungkapnya. 

Melalui kolaborasi internasional ini, UK Petra berkomitmen membangun ekosistem pengolahan kopi yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan mampu mengangkat derajat ekonomi petani lokal. (rur)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments