Senin, Mei 25, 2026
BerandaHeadlinesMahasiswa Unair Bikin Inovasi Kanopi Cerdas Untuk Cegah Sapi Stres

Mahasiswa Unair Bikin Inovasi Kanopi Cerdas Untuk Cegah Sapi Stres

SELASARSURABAYA – Masalah rendahnya produktivitas sapi perah akibat tekanan panas (heat stress) di Indonesia memicu inovasi gemilang dari mahasiswa Universitas Airlangga (Unair). Dalam ajang bergengsi World Milk Day 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Unpad), Dea Vania Natalie, mahasiswa Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga (Unair), berhasil menyabet juara dua nasional.

Dea menggagas esai ilmiah yang mengintegrasikan teknologi digital dengan sektor peternakan berkelanjutan.

Berangkat dari kondisi iklim tropis Indonesia yang menantang, inovasi ini menargetkan sapi jenis Friesian Holstein yang rentan mengalami penurunan produksi susu saat terpapar suhu tinggi. Selama ini, solusi yang ada dinilai masih bersifat parsial dan belum mampu merespons kondisi ternak secara cepat.

Menjawab tantangan tersebut, Dea merancang SAPI TEDUH, sebuah sistem kanopi kandang cerdas berbasis tenaga surya yang mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT). Sistem ini bekerja dengan memantau parameter iklim mikro melalui sensor suhu dan kelembaban secara real-time. Keunggulan utamanya terletak pada kecerdasan buatan yang mampu melakukan tindakan preventif secara otomatis tanpa intervensi manual yang terus-menerus.

“Nilai kebaruan dari SAPI TEDUH terletak pada integrasi sistemnya. Tidak hanya mendinginkan kandang, sistem ini juga mampu melakukan pemantauan ternak secara individual dan mengambil keputusan otomatis berdasarkan data di lapangan,” ungkap Dea, dikutip Senin (25/5/2026).

Lebih lanjut, Dea menjelaskan bahwa ketika sensor mendeteksi kenaikan suhu di atas ambang batas kenyamanan sapi, sistem akan mengaktivasi misting fan (kipas embun) atau ventilasi otomatis secara presisi. Penggunaan tenaga surya sebagai sumber energi utama menjadikan inovasi ini ramah lingkungan dan hemat biaya operasional.

Selain canggih, desainnya dibuat secara modular agar lebih mudah dipasang dan realistis untuk diterapkan pada skala peternakan rakyat yang memiliki keterbatasan lahan maupun modal.

Selain canggih, desainnya dibuat secara modular agar lebih mudah dipasang dan realistis untuk diterapkan pada skala peternakan rakyat yang memiliki keterbatasan lahan maupun modal.

Melalui esai ilmiah itu, ia menekankan bahwa tantangan sektor peternakan di era perubahan iklim harus dihadapi dengan teknologi yang adaptif dan efisien.
Baginya, teknologi tidak harus rumit atau hanya bisa dijangkau oleh industri besar. Meski sempat menghadapi kendala dalam menyederhanakan konsep yang kompleks menjadi gagasan yang aplikatif, ketekunan dalam riset dan latihan presentasi membawanya meraih podium kemenangan.

Keberhasilan itu diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk berani berinovasi.

“Jangan takut mencoba meskipun merasa belum sempurna. Pilih isu yang relevan, perkuat riset untuk membangun argumentasi, dan pastikan ide tersebut memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Esai yang kompetitif adalah esai yang menarik secara konsep namun tetap aplikatif,” pungkasnya. (nan)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments