SELASARSURABAYA – Prof. Drs. Gatut Priyowidodo, M.Si., Ph.D., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar pertama Ilmu Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra, Surabaya.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Gatut mengenalkan metode riset inovatif bertajuk Phenomenography Digital. Lantas, apa itu Phenomenography Digital? Sederhananya, ini sama seperti saat Anda melihat satu konten viral yang sama di media sosial, namun persepsi yang muncul berbeda-beda setiap orang. Sebab di era serba digital, cara setiap orang merasakan dan merespons dunia maya memang tidak pernah sama.
Akademisi yang telah menulis lebih dari 10 buku di bidang komunikasi ini meneliti metode baru khusus untuk membedah variasi pengalaman manusia di ruang digital.
“Kita tengah berada di era Post-Truth digital, sebuah masa di mana batasan antara fakta dan opini menjadi kabur. Sesuatu yang tidak benar bisa dianggap sebagai kebenaran mutlak, hanya karena disebarkan secara terus-menerus dan didorong oleh subjektivitas atau keyakinan pribadi,” terangnya, dikutip Jumat (28/8/2026).
Sementara bagi Gen-Z, seluruh ruang diskusi mereka kini berada di dunia digital. Topiknya sangat beragam, mulai dari isu berat seperti politik dan masalah MBG, hingga hal populer seperti drakor, dracin, musik, hingga tren olahraga padel. Phenomenography Digital hadir untuk memetakan bagaimana ragam pengalaman orang dalam merespons fenomena-fenomena tersebut.
Ketertarikan Prof. Gatut pada dunia akademis dan riset digital ini tak lepas dari latar belakang keluarganya yang merupakan pendidik, serta kebiasaannya membaca sejak kecil. Selain aktif mengajar dan menulis, ia juga dipercaya sebagai Asesor Beban Kinerja Dosen dari LLDIKTI sejak tahun 2016 hingga sekarang.
Tak hanya untuk memahami tren Gen-Z, metode ini juga sangat relevan untuk mengevaluasi layanan publik digital negara, seperti pengalaman warga (citizen experience) saat menggunakan sistem Coretax milik Kementerian Keuangan RI.
Bagi Prof. Gatut, meretas benang kusut disinformasi di era post-truth memang sulit, namun bukan berarti tidak mungkin jika semua pihak bergerak bersama untuk fokus pada pemberitaan yang benar.
Pakar Komunikasi Organisasi itu menambahkan setidaknya tiga langkah yang harus dilakukan untuk menghadapi hal tersebut, yaitu literasi digital yang masif sehingga mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat memilih informasi yang benar yang dilakukan terus-menerus.
Kedua, media massa harus kembali ke peran utamanya yaitu memproduksi berita yang objektif, dan terakhir, diperlukan kolaborasi dari Kementerian Komunikasi dan Digital untuk menciptakan ekosistem informasi yang bersih.
Sebagai penutup, Prof. Gatut menitipkan pesan berharga untuk tidak asal ikut-ikutan tren. “Jangan mentang-mentang objeknya digital langsung dianggap cocok pakai Phenomenography Digital, kita harus tetap kritis menyaring informasi viral, fokus memahami keberagaman cara pandang orang, dan terus menggalinya hingga tuntas ke akar masalah agar tidak mudah tertipu oleh riuhnya persepsi semu di dunia maya,” kata Guru Besar yang aktif sebagai dosen di UK Petra sejak tahun 2006 itu. (nan)

