SELASARSURABAYA – Sutradara kenamaan Hanung Bramantyo merilis film terbarunya, “Gowok: Kamasutra Jawa”. Tayang mulai 5 Juni mendatang, film ini mengangkat kisah tentang pendidikan seks bagi calon pengantin pria yang diajarkan oleh seorang perempuan yang dikenal sebagai ‘gowok’.
Gowok bertujuan untuk mempersiapkan laki-laki dalam kehidupan rumah tangga, termasuk hal-hal terkait hubungan seksual, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas hubungan dan mengurangi potensi perceraian.Â
“Gowok merupakan tradisi dan budaya yang pernah ada di tanah Jawa. Namun, pada akhir tahun 60-an, tradisi ini mulai ditinggalkan karena dianggap tidak sesuai dengan norma agama dan sosial di masyarakat,” terang Alika Jantinia, salah satu pemain film tersebut, saat berkunjung ke Surabaya, Rabu (28/5) kemarin.
“Tradisi Gowok ini memang benar-benar ada dan merupakan tradisi masyarakat Jawa. Memang ada catatannya,” sambungnya.
Meskipun mengangkat tema sejarah Gowok yang pernah populer di tanah Jawa, Alika menyebut rapalan mantra Gowok dalam film ini telah melalui modifikasi oleh sang sutradara, Hanung Bramantyo. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal negatif jika memaksakan diri menggunakan mantra asli.
“Mantra dan teks kunonya memang ada. Tapi mas Hanung nggak ingin berisiko ya dengan mengucapkan mantra yang asli,” ungkapnyaa.
Dalam kesempatan yang sama, Nayla Purnama, pemeran Sri dalam film ini menuturkan banyak tantangan dan penyesuaian yang harus ia lakukan untuk menjiwai peran yang diberikan oleh sang sutradara.
“Tantangannya aku harus belajar bahasa ngapak Banyumasan. Karena memang banyak dialog dari film ini yang menggunakan bahasa Jawa ngapak,” tuturnya.
Film ini terdiri dari dua versi yakni yakni 17+ dan 21+. Dibaginya film ini menjadi 2 versi dikarenakan keterbatasan jam tayang untuk film adegan klasifikasi 21+ yang akan dirilis. Oleh sebab itu agar dapat ditonton lebih banyak orang akhirnya dibuat versi 17+ untuk menjangkau penonton yang lebih luas.
“Sebenarnya inginnya 21+ tapi karena gak bisa tayang siang, harus di jam tertentu. Maka diadakan 17+ supaya lebih banyak yang menonton,” tukas Alika.
Hanung Bramantyo Angkat Tradisi Jawa ‘Gowok’ yang Telah Punah ke Layar Bioskop
Sutradara dan penulis kenamaan Hanung Bramantyo kembali menghadirkan karya apiknya ke layar bioskop. Kali ini Hanung mengangkat tradisi masyarakat Jawa, Gowok, yang telah punah keberadaannya.
Gowok merupakan perempuan yang bekerja sebagai pembimbing kaum pria agar bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik. Gowok ini mengajari tata cara suami menghadapi sikap istri, sampai tutorial berhubungan seksual dalam rumah tangga.
“Gowok memberikan edukasi kepada para calon pengantin pria Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sejarah ini bermula dengan tradisi pergowokan di daratan Jawa pada awalnya yang diperkenalkan oleh perempuan asal Tiongkok bernama Goo Wok Niang yang datang ke Jawa bersama dengan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1415-an,” ungkap salah satu peemeran film Gowok: Kamasutra Jawa, Alika Jantinia, saat berkunjung ke Surabaya, Rabu (28/5) malam.
Kala itu seluk beluk kehidupan rumah tangga, termasuk seks merupakan hal tabu bila diajarkan oleh orang tua. Karena itulah seorang perempuan (gowok) yang dianggap memiliki pengalaman diminta untuk mengajarkan. Seorang gowok akan mendapatkan gaji atau upah dari orang tua yang menitipkan anak laki-lakinya.
Seiring meletusnya perang komunis di tanah Jawa pada era 1960an, turut mengikis tradisi gowok.
Meski diangkat berdasarkan tradisi yang pernah ada, Alika menyebut jika mantra-mantra yang berkaitan dengan tradisi gowok dalam film ini merupakan rekaan sang sutradara, Hanung Bramantyo.
“Mantra dan teks kunonya memang ada. Tapi mas Hanung nggak ingin beresiko ya dengan mengucapkan manta yang asli,” tutur Alika.
Film produksi MVP Pictures ini menceritakan tentang Ratri muda (Alika Jantinia), seorang gadis yatim piatu yang tumbuh menjadi gadis cantik yang diasuh oleh Nyai Santi (Lola Amaria), seorang gowok terpandang. Ratri pun jatuh cinta pada Kamanjaya (Devano Danendra), pemuda dari keluarga terpandang, yang kemudian mengingkari janji untuk menikahinya.
Dua puluh tahun kemudian, Ratri (Raihaanun) kembali bertemu Kamanjaya yang membawa putranya, Bagas (Ali Fikry), untuk menuntut ilmu pada Nyai Santi. Tanpa mengetahui masa lalu orang tua mereka, Bagas jatuh cinta pada Ratri. Ratri pun memanfaatkan pesonanya untuk membalas dendam pada Kamanjaya (Reza Rahadian). (nan)
