SELASARSURABAYA – Persebaya Surabaya gagal mengalahkan tuan rumah Bhayangkara FC pada pekan ke-14 Liga Super di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, Jum’at (28/11/2025) sore. Bajol Ijo unggul lebih dulu pada menit ke-82’ berkat gol bunuh diri M. Aqil Savik. Namun dibalas Dandy Sulistyawan pada menit 90+8’. Skor akhir 1-1.
Berikut rangkuman pengamatan Kukuh Ismoyo, Arek Bonek Sukodono.
Babak Pertama
Kok bisa Bhayangkara FC main pressing? Padahal Paul Muster saat melatih Persebaya game play-nya tidak ada pressing sama sekali. Walaupun gaya main tidak berbeda, tetap sama umpan-umpan panjang ke arah flank.
Mainya kedua tim terasa membosankan. Template yang sama.
Bhayangkara FC ini pintar, tahu kalau Tony Firmansyah absen karena berangkat ke Sea Games Thailand, dan Persebaya memainkan Sadida, salah satu pemain muda belia, mereka langsung mem-pressing Sadida dengan intens ketika bola ada di kaki Sadida.
Beruntungnya Sadida tidak panik dan demam panggung. Meskipun penampilannya sendiri belum begitu istimewa, tapi tampil sebagai starter saat tandang, dan melawan salah satu lawan yang selama ini cukup sulit ditaklukkan Arek-arek Green Force, tentu ini jadi langkah baru dan langkah besar untuk Sadida nantinya.
Kehilangan Rivera sangat mencolok sekali membuat serangan Persebaya seperti anak itik kehilangan induknya. Bingung. Milos Raikovic tidak mampu menggantikan peran Rivera.
Sementara Bruno yang ditempatkan sebagai free role, jelas bukanlah pemain yang bisa mengemban tugas sebagai jendral lapangan. Tidak heran pada akhirnya Persebaya hanya memilih untuk melakukan umpan-umpan panjang ke depan ketimbang memulai serangan step by step dari belakang.
By the way, sisi Dejan Tumbas ini buruk sekali. Berulangkali dipermainkan Sadat dan Sany Rizky. Pemain yang tidak cocok sebagai bek kiri, tapi dipasang terus oleh Uston Nawawi selaku caretaker pasca dipecatnya Edu Perez.
Di babak ini Rachmat Irianto yang mainnya paling bagus.
Babak Kedua
Awal babak kedua, permainan Persebaya langsung menyerang. Dari sisi kanan, Bruno Moreira dan Gali Freitas menjadi aktor dari serangan Persebaya di babak kedua ini.
Tumben, di 10 menit babak pertama itu, umpan-umpan panjangnya bagus pas sasaran terus. Sayangnya, sekali lagi eksekusi akhir Persebaya buruk sekali.
Punya striker asing kok ya bengong saja di depan gawang lawan. Lucunya, jadi kartu mati tapi Perovic masih dimainkan terus.
Kedua tim mainnya grubak-grubuk seperti tawuran. Belum lagi review VAR sebentar, tidak jelas pula.
Penyakit Persebaya itu masih sama, fokus defense di menit terakhir. Dari dulu belum ada obatnya. Malah sekarang kejadian lagi.
Maksud hati memasukkan Dime Dimov biar kuat pertahanannya. Tidak salah memang, tapi Dimov itu mainnya tidak bagus amat. Mungkin ini salah satu alasan dia dicadangkan oleh Uston. Benar juga, saat dimainkan menggantikan Perovic, malah jadi kartu mati.(djo)
