SELASARSURABAYA – Harga emas Antam (Logam Mulia) mengalami tren kenaikan yang sangat signifikan sepanjang tahun 2025. Tercatat selama setahun, kurang lebih kenaikannya mencapai 50-60%. Lonjakan ini dinilai bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan sebuah cerminan dari kecemasan mendalam dari para investor terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Pakar ekonomi Universitas Kristen (UK) Petra, Surabaya, Dr. Dra. Nanik Linawati, MM., mengungkapkan bahwa pergerakan harga emas ini terbagi menjadi dua jenis, yakni jangka pendek dan jangka panjang.
Penyebab dari fenomena ini sendiri sangatlah kompleks. Mulai dari eskalasi konflik di berbagai kawasan, kebijakan tarif tinggi dari pemimpin dunia, hingga retorika politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump turut berperan dalam menciptakan iklim investasi yang “liar” saat ini.
Di tengah reli panjang tersebut, Dr. Nanik memberikan catatan. Menurutnya, dalam jangka pendek, tren harga bisa sedikit menurun.
“Ini wajar, karena sebagian investor mulai menjual emas mereka untuk mengambil keuntungan (profit taking), seiring dengan inflasi yang mulai terkendali dan sentimen pasar yang berangsur membaik,” kata dosen Program Studi Manajemen, Program Finance and Investment – School of Business and Management (SBM) UK Petra itu, Selasa (10/2/2026).
Sedangkan untuk tren jangka panjangnya, dosen berkacamata itu menyebut, harga emas akan cenderung mengalami kenaikan, sebab ada ketegangan politik dan kondisi ekonomi global yang cenderung menurun, hingga masalah demografi global.
Lebih lanjut, Dr. Nanik yang mengajar sejak 1990 itu menyoroti anomali pasar. Menurutnya, dunia sedang ada dalam fase ekonomi “tidak normal”, sehingga harga emas sudah tidak lagi berlaku seperti biasanya.
“Investasi emas ini sifatnya langka, tidak dapat dimanipulasi oleh kebijakan otoritas manapun. Berbeda dengan investasi lainnya, seperti saham atau kripto, yang suplainya dapat ‘diciptakan’ atau diatur,” urai Dr. Nanik.
Ia menyebut, hal itu dikarenakan emas tidak bisa muncul secara ‘bim-salabim’ atau tiba-tiba.
Emas terikat pada hukum alam dan proses eksplorasi bumi yang panjang serta rumit. Apalagi penambahan fisik emas baru memerlukan waktu bertahun-tahun untuk penambangan.
“Kelangkaan alami inilah yang menjadikan emas sebagai tempat berlindung yang relatif aman saat instrumen investasi lainnya mulai kehilangan arah,” tegas dosen yang mengampu enam mata kuliah itu.
Dr. Nanik memperingatkan bahwa meroketnya harga emas adalah “sinyal merah” bagi perekonomian global. Sebab kenaikan ini bukan lagi dipicu oleh permintaan normal perhiasan, melainkan krisis kepercayaan investor yang mulai meninggalkan aset produktif (kripto, saham, deposito, dan lain-lain), hanya demi menyelamatkan harta.
“Lonjakan tidak wajar ini jadi indikator kuat bahwa dunia tengah bergerak ke ambang resesi. Selama ego kekuasaan dan ketegangan geopolitik tetap bergejolak, serta aliansi antarnegara terus bergeser, maka harga emas akan terus mencari level tertinggi baru sebagai tempat bersandar para pemilik modal,” imbuhnya.
“Benang kusut” adalah dua kata yang dipilih Dr. Nanik untuk menyimpulkan kondisi ekonomi dunia saat ini.
“Di dunia yang semakin tidak menentu, emas memang menjadi sandaran nyata. Namun, stabilitas sejati terletak pada manusia sebagai pengelola mandat yang Tuhan percayakan di bumi. Investor harus tetap tenang agar bisa bertindak bijak tanpa tergesa-gesa. Sebab dengan ketenangan, kita mampu menjaga kewajaran harga dan melindungi nilai kekayaan di tengah badai ketidakpastian,” tutup Nanik yang juga mengajar Mata Kuliah Keuangan Personal. (nan)


