Selasa, April 21, 2026
BerandaHeadlinesLambang Kedaulatan Negara, BI Ungkap Cara Mencintai Rupiah

Lambang Kedaulatan Negara, BI Ungkap Cara Mencintai Rupiah

SELASARSURABAYA – Rupiah bukan sekadar mata uang resmi Indonesia, tetapi juga menjadi lambang kedaulatan dan alat pemersatu bangsa. Dalam setiap transaksi yang melibatkan Rupiah, tersirat pesan kebanggaan dan rasa cinta tanah air. Lebih dari sekadar alat pembayaran, Rupiah memainkan peran strategis dalam ekonomi nasional serta memperkuat rasa kebersamaan di seluruh pelosok Nusantara.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Rifki Ismal, menuturkan eksistensi suatu negara dianggap kuat jika negara tersebut memiliki mata uang sendiri.

“Kalau ada negara tidak punya mata uang yang diakui secara internasional, maka kedaulatannya dipertanyakan,” ujarnya saat kegiatan “Capacity Building 2026” yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur di Bandung, akhir pekan kemarin.

Ia kemudian mencontohkan keberadaan euro di Eropa. Menurutnya, tidak semua negara di benua tersebut bersedia melepas mata uang nasionalnya demi menggunakan euro sebagai alat transaksi bersama.

“Kenapa Inggris tidak ikut menggunakan euro? Karena mereka punya kebanggaan besar terhadap mata uangnya. Ada simbol kepala raja di sana. Itu soal identitas dan kedaulatan,” tegasnya.

Rifki mengungkapkan, kecintaan terhadap mata uang dan produk dalam negeri menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi.

“Secara makroekonomi sebenarnya sederhana. Bagaimana ekonomi Indonesia kuat dan mata uang cenderung menguat? Cintailah Indonesia,” imbuhnya.

Ia menjelaskan bahwa tingginya konsumsi barang impor warga Indonesia turut berdampak pada merosotnya nilai mata uang rupiah. Ketika masyarakat membeli produk luar negeri seperti gawai dan barang elektronik, maka transaksi dilakukan dengan mata uang asing.

“Kita banyak impor. Handphone buatan mana? Banyak yang beli produk luar, nilainya belasan juta rupiah. Ketika impor meningkat, kebutuhan valas juga meningkat. Itu menekan rupiah,” terangnya.

Ia lantas mencontohkan negara yang masyarakatnya memiliki loyalitas tinggi terhadap produk domestik.

“Ada negara yang masyarakatnya sangat cinta produk dalam negeri. Mereka enggan membeli barang asing kalau ada produk lokal. Dampaknya sederhana, kebutuhan impor rendah dan mata uangnya lebih stabil,” ungkapnya.

Menurut Rifki, apabila masyarakat Indonesia memperkuat konsumsi produk lokal, ketergantungan terhadap barang impor dapat ditekan. Hal ini pada akhirnya akan mengurangi permintaan terhadap valuta asing dan membantu menjaga kestabilan rupiah.

“Salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan masyarakat adalah meningkatkan rasa bangga dan preferensi terhadap produk dalam negeri. “Kalau masyarakat cinta Indonesia, tidak banyak mengonsumsi barang impor, ekonomi akan semakin solid. Ketergantungan terhadap luar negeri berkurang dan rupiah akan lebih kuat,” pungkas Rifki. (nan)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments