Selasa, Mei 26, 2026
BerandaInspirasiPendakwah Hanan Attaki Sebut Ramadan Adalah Bulan Rehat Mental

Pendakwah Hanan Attaki Sebut Ramadan Adalah Bulan Rehat Mental

SELASARSURABAYA – Pendakwah milenial Ustadz Hanan Attaki menuturkan bahwa Ramadan merupakan bulan rehat mental setelah fisik mengalami kelelahan selama 11 bulan sebelumnya. Ramadan juga dapat menjadi Bulan Caper (cari perhatian) yang terbaik kepada Allah setelah caper kepada manusia selama 11 bulan sebelumnya.

“Ramadan itu break setelah setahun ada beban mental, sehingga capek dan pikiran perlu istirahat. Kalau capek fisik bisa diatasi dengan tidur, rileks, atau jalan-jalan, meski tidur di lantai, tapi kalau capek mental itu meski tidur di kasur pun masih bisa mengalami insomania,” katanya dalam Kajian Senja di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), belum lama ini.

Dalam kajian itu, Ustadz Hanan Attaki menjelaskan capek secara mental itu lebih berat daripada capek secara fisik, karena itu perlu recovery atau pemulihan mental.

“Cara recovery mental adalah Ramadan. Apa hubungan Ramadan dengan kesehatan mental? Tujuan Ramadan itu belajar menjadi muttaqin (orang yang takwa) dan takwa itu kunci kesehatan mental dan jalan keluar dari setiap masalah,” katanya.

Dalam kajian bertema ‘Menata Hati, Menjaga Diri, dan Bijak Mengelola Rezeki’ itu, Ustadz Hanan Attaki mengatakan takwa menjadi kunci kesehatan mental dan jalan keluar (solusi) dari setiap masalah/problema, karena takwa akan menjadikan seseorang menemukan “cara langit” yang lebih menyelesaikan daripada “cara bumi” yang justru sering menambah masalah baru.

“Ada banyak surat dan ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan terapi kesehatan mental, termasuk Ramadan. Misalnya, QS Al-Muzammil yang turun saat Nabi sedang bersedih karena di-bully kaum jahilun atau jahiliyah atau toxid yang mengatai-ngatai Nabi sebagai laki-laki mandul, karena setiap anaknya yang laki-laki lahir selalu meninggal dunia saat masih kecil atau baru lahir, sehingga Allah meminta Nabi bersabar terhadap bully verbal dan sikapi dengan cuek. Allah meminta berlapang dada sebagaimana disebut QS Ad-Dhuha,” terangnya.

Ia melanjutkan, terapi Al-Qur’an juga ada dalam QS Talaq. “Talak itu cerai tapi dalam surat tentang cerai itu justru ada ayat tentang takwa. Jadi, Al-Qur’an punya surat Talaq tapi tidak punya surat tentang pernikahan. Uniknya, dalam surat Talaq itu ada ayat takwa. Artinya isu rumah tangga itu termasuk isu rumit dan jalan keluarnya adalah takwa, apapun beban/problem,” katanya.

Dalam QS Talaq itu juga disebutkan lima solusi dari takwa yakni makhroja (rasa lapang dada setelah sempit), rezeki dari jalan tak terduga (rizqun min haitsu la yah tasib), kemudahan dalam urusan dunia (semakin caper kepada Allah akan semakin menerima kemudahan/ yusro), diberi maaf dalam setiap kesalahan, dan diberi pahala berlipat ganda karena sungguh-sungguh caper kepada Allah.

“Hakikat takwa itu sendiri adalah menahan atau mencegah dan puasa itu latihan mencegah atau menahan diri dari perbuatan dosa, sehingga nggak boleh makan karena puasa. Itu caper kepada Allah. Kalau caper kepada manusia itu menata tampang, viral, memiliki saldo atau kekayaan, dan sebagainya. Takwa juga berarti perbaiki urusan dengan manusia dengan Allah,” tandasnya. (nan)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments