SELASARSURABAYA – Di tengah dorongan global terhadap pendidikan inklusif dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), praktik toleransi di lingkungan perguruan tinggi menjadi semakin relevan. Pengalaman seorang mahasiswi lintas agama di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menunjukkan bagaimana nilai-nilai tersebut diimplementasikan secara nyata di tingkat kampus.
Hal ini tercermin dari pengalaman Suster (Sr) Yustina Klun Kolo. SSpS, wisudawan Unusa Program Studi D4 Analis Kesehatan asal Kefamenanu/Wini, Nusa Tenggara Timur, yang berhasil menyelesaikan studinya di tengah lingkungan kampus yang mayoritas muslim.
Sebagai mahasiswa beragama Katolik, Yustina, demikian ia biasa disapa, mengaku sempat memiliki kekhawatiran saat pertama kali memulai studi di Unusa. Namun, pengalaman yang ia rasakan justru berbanding terbalik dengan kekhawatiran tersebut.
“Saya merasakan langsung suasana kampus yang inklusif dan penuh toleransi. Interaksi dengan dosen maupun teman-teman berlangsung sangat baik, tanpa membedakan latar belakang,” ungkap anak keempat dari tujuh bersaudara ini, seperti dikutip Jumat (24/4/2026).
Bagi Yustina, pengalaman ini justru memperkaya perspektifnya sebagai mahasiswa lintas agama.
“Saya belajar memahami nilai-nilai keislaman yang moderat, sekaligus pentingnya hidup berdampingan secara harmonis,” kata putri dari pasangan ayah Laurensius Pauf Kolo dan Ibu Maria Kebo.
Kurikulum ini menjadi bagian dari strategi institusi dalam memperkuat moderasi beragama di lingkungan pendidikan tinggi.
Pengalaman Yustina menunjukkan bahwa keberagaman di lingkungan pendidikan tinggi dapat menjadi kekuatan dalam membangun harmoni sosial.
“Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan,” ujar gadis kelahiran Dili 5 Juli 1994 ini.
Ia juga menekankan pentingnya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan agama, suku, dan budaya hendaknya menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai, sehingga tercipta kehidupan yang damai dan harmonis.
Di tengah tantangan polarisasi sosial dan meningkatnya isu intoleransi, pendidikan tinggi memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan nilai.
Kini Yustina sudah mengabdikan diri dan bekerja di RSK Budi Rahayu, Blitar. Kisah Yustina menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis nilai, jika dijalankan secara konsisten, mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul, tetapi juga relevan dengan kebutuhan global. (rur)


