SELASARSURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) kembali melantik dokter-dokter baru yang siap mengabdi kepada masyarakat. Dalam pengambilan sumpah dokter terbaru, sebanyak 16 dokter resmi dilantik, dengan fakta menarik, yakni 84 persen di antaranya berasal dari keluarga non-dokter.
Capaian ini menjadi penanda penting bahwa profesi dokter kini semakin inklusif dan tidak lagi terbatas pada latar belakang keluarga tertentu.
Dekan Fakultas Kedokteran Unusa Prof Budi Santoso, menyampaikan bahwa selama ini profesi dokter kerap dipersepsikan sebagai profesi darah biru.
“Tidak banyak memang dokter yang berasal dari keluarga non-dokter. Selain faktor biaya pendidikan yang cukup tinggi, proses pembelajaran juga membutuhkan pengetahuan tambahan dan pengalaman yang sering kali lebih mudah diperoleh dari lingkungan keluarga dokter. Karena itu, tidak jarang keluarga dokter melahirkan dokter kembali,” ujarnya, dikutip Jumat (22/5/2026).
Ia juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai dokter generasi pertama di keluarganya.
“Saya sendiri bukan berasal dari keluarga dokter. Namun setelah itu, anak saya dan keluarga dekat saya kemudian menjadi dokter. Artinya, akses ini bisa terbuka dan berkelanjutan,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor Unusa Prof Tri Yogi Yuwono menegaskan, bahwa capaian ini merupakan bagian dari komitmen institusi dalam membuka akses pendidikan yang lebih luas dan berkeadilan.
“Hadirnya mayoritas dokter dari keluarga non-dokter adalah bukti nyata bahwa pendidikan tinggi, termasuk kedokteran, tidak boleh eksklusif. Unusa berkomitmen menghadirkan pendidikan kedokteran yang inklusif. Fakta bahwa 84 persen dokter baru kami berasal dari keluarga non-dokter menunjukkan bahwa kesempatan itu terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemampuan dan tekad. Ini bukan hanya capaian akademik, tetapi juga capaian sosial,” ujarnya.
Lebih lanjut Rektor menekankan, bahwa keberhasilan ini harus menjadi inspirasi sekaligus pesan kuat bagi masyarakat luas.
“Kami ingin mengirimkan pesan bahwa menjadi dokter bukan lagi monopoli kelompok tertentu. Ini adalah profesi mulia yang harus bisa diakses oleh anak-anak bangsa dari berbagai latar belakang,” tegasnya.
Benta Malika El Ghameela, dokter baru yang bukan dari keluarga dokter mengungkapkan, perlu perjuangan lebih keras jika bukan berasal dari keluarga dokter, karena belum ada gambaran seperti apa proses pembelajaran di fakultas kedokteran baik pada jenjang pendidikan sarjana kedokteran maupun saat menjalani profesi dokter.
“Tentu mereka yang berasal dari keluarga dokter, keluarganya sudah memberikan bayangan apa saja yang akan dilalui,” katanya.
Benta bersyukur setelah dirinya diterima di FK Unusa, dua sepupunya juga mengikuti jejaknya, diterima di kedokteran.
“Jadi saya diibaratkan sebagai orang yang membuka pintu untuk keluarga besar dan dijadikan contoh bahwa orang biasa juga mampu di kedokteran,” kata Benta yang berasal dari keluarga pedagang.
Unusa terus berupaya memperluas akses pendidikan melalui berbagai skema dukungan, termasuk pembinaan akademik, penguatan karakter, serta lingkungan belajar yang adaptif dan suportif.
Pelantikan ini tidak hanya menjadi momen akademik, tetapi juga simbol perubahan sosialbahwa profesi dokter kini semakin terbuka, inklusif, dan dapat diraih oleh siapa saja.(rur)


