Sabtu, Juni 6, 2026
BerandaHeadlinesHadir di 5th CFF, Adinia Wirasti: Ketika Mendapatkan Pekerjaan, Lakukan yang Terbaik

Hadir di 5th CFF, Adinia Wirasti: Ketika Mendapatkan Pekerjaan, Lakukan yang Terbaik

SELASARSURABAYA – Industri perfilman sering kali dinilai berkilau dari luar, namun di balik layar, seni peran adalah sebuah perjalanan emosional yang intens dan menantang. Hal ini dikupas tuntas oleh aktris peraih Piala Citra Pemeran Pendukung Wanita Terbaik lewat film Tentang Dia tahun 2005 dan Pemeran Utama Wanita Terbaik lewat film Laura & Marsha (tahun 2013), Adinia Wirasti, saat hadir sebagai pembicara utama dalam sesi Expert Session bertajuk “The Mosaic of Emotions” di 5th CFF yang diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Ciputra Surabaya.

Aktris yang akrab disapa Asti ini membagikan banyak wejangan serta kutipan mendalam mengenai navigasi karier, pentingnya ruang aman, hingga seni menjaga kesehatan mental sebagai seorang aktor.

Salah satu topik paling menarik yang dibahas adalah bagaimana seorang aktor menjaga batasan antara dirinya dan karakter yang ia perankan. Menanggapi anggapan bahwa dirinya menggunakan method acting, Asti menceritakan bahwa ia hanya pernah mencobanya sekali.

Asti menekankan bahwa ia memiliki caranya sendiri yang sangat spesifik untuk mendalami peran. Dahulu, ia selalu memanfaatkan objek kecil tertentu. Salah satu contoh nyata adalah jaket.

“Jaket tersebut dipakai sebagai tanda mengenakan “jubah” untuk masuk menjadi karakter, dan ketika jaket itu dilepas, maka kembali menjadi seorang Adinia Wirasti,” tuturnya, seperti dikutip Jumat (5/7/2026).

Melalui keberadaan objek fisik ini, dirinya tidak akan terlekat pada emosi apa pun yang berada di bawah objek tersebut ketika kamera sudah mati.

Itu adalah caranya dulu. Semakin ke sini, seiring dengan hadirnya support system yang baik serta kesadaran yang tinggi untuk mengurus mental health, Asti mengaku menjadi jauh lebih baik dalam menghadapi hari-harinya.

“Kehidupan di atas panggung dan di luar panggung adalah dua dunia yang sangat berbeda,” tegasnya.

Ia juga membagikan cara lain menjaga tetap waras sebagai seorang pekerja di industri film.

Ia membandingkan era syuting menggunakan pita seluloid 35mm yang mahal pada film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) dengan era digital saat ini yang serba instan. Dari keterbatasan masa lalu itulah, ia menemukan formula magis untuk bertahan di industri ini.

“Kunci utama seorang sineas dan aktor adalah tidak terjebak dalam pikiran yang berlebihan overthink saat berada di atas panggung atau lokasi syuting. Ketika seorang aktor mulai overthink, maka momen kreatif tersebut akan selesai begitu saja karena dalam seni peran tidak ada tombol pause atau kesempatan untuk mengulang di tengah-tengah pertunjukan,” pesannya.

Untuk mengatasinya, Asti membagikan sebuah prinsip penting tentang bagaimana menemukan titik ternyaman sweet spot dalam berkarya. Prinsip tersebut adalah kombinasi antara rasa sabar dan kepasrahan yang tulus.

“Sebenarnya kamu harus menemukan rasa sabar dan pasrah. Itulah sweet spot-nya. Ketika mendapatkan pekerjaan, lakukan yang terbaik. Saat syuting berjalan, lakukan yang terbaik untuk adegan selanjutnya. Dan setelah semuanya selesai, lepaskan let it go. Jika kita terus melekat, hal itu justru akan menjadi korosi yang membuat langkah kita terasa berat,” tutur Asti.

Dalam memandang perjalanan kariernya yang kini membentang sepanjang beberapa dekade, Asti merangkum sebuah formula navigasi karier yang sangat menginspirasi para mahasiswa FIKOM Universitas Ciputra dan sineas muda yang hadir.

“10 tahun pertama adalah waktu untuk navigasi industri. 10 tahun kedua untuk belajar. 10 tahun ketiga untuk menguji semua pelajaran itu. Dan 10 tahun keempat adalah waktu kita untuk memberi kembali give back,” tandasnya.

Ketika ditanya mengenai pencapaian atau penghargaan tertinggi dalam kariernya, Asti memberikan jawaban yang menyentuh hati sambil menceritakan salah satu dampak nyata dari filmnya, Critical Eleven.

“Suatu hari ada pasangan muda yang menemui saya di luar bioskop dan berkata bahwa mereka baru saja berbaikan setelah bertahun-tahun tidak saling bicara karena kehilangan anak, semua setelah mereka menonton film saya. Mengetahui bahwa karya kita bisa membuat seseorang merasa ‘mereka tidak sendirian di dunia ini’ itulah berharga bagi saya,” ungkap Asti.

Sesi inspiratif bersama Adinia Wirasti ini merupakan puncak dari rangkaian hari ketiga 5th CFF. Rangkaian acara dimulai dengan Workshop “From Snap to Story” hasil kolaborasi CFF x Plaza Kamera. Dalam sesi edukasi praktis ini, para peserta diajak menjelajahi area untuk menangkap objek visual, yang kemudian dikaji bersama pakar fotografi untuk merangkai sebuah narasi cerita visual yang kuat.

Selain itu, ada pula Community Forum dan Workshop Crochet Mosaic yang menjadi ruang kolaborasi interaktif antar-komunitas kreatif Surabaya.

Bagi para penikmat sinema, 5th CFF juga menghadirkan Open Air Cinema di area terbuka V-Walk Atrium yang memutar film-film pendek pilihan seperti “Shaped Shape”, “Circles of Joy”, dan “Unveiling the Folds”. Rangkaian hari ketiga ini ditutup dengan CFF Screening & Competition di XXI Ciputra World Surabaya yang menampilkan karya-karya finalis dalam sesi Circus of Circles (Genre Komedi) serta Fiction Competition.

Salah satu karya yang mencuri perhatian dalam sesi pemutaran adalah film berjudul OBSCURA. Melalui karya ini, Zee Busye selaku produser mengungkapkan bahwa cerita yang diangkat ingin menunjukkan realitas dunia yang mendalam, di mana banyak orang memilih untuk mengenakan topeng sosial demi menutupi jati diri atau kepribadian asli mereka yang tidak ingin diketahui oleh orang lain.

Melalui sinergi antara edukasi praktis lewat workshop dan pemaparan filosofis dari maestro seperti Adinia Wirasti, FIKOM Universitas Ciputra Surabaya terus membuktikan perannya sebagai motor penggerak ekosistem kreatif dan sinematik bagi generasi muda di Jawa Timur. (rur)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments