Minggu, Juni 21, 2026
BerandaHeadlinesMelihat Upaya Surabaya Jadi Kota Lebih Adem dan Bebas Banjir

Melihat Upaya Surabaya Jadi Kota Lebih Adem dan Bebas Banjir

SELASARSURABAYA – Guna mengurangi dampak ancaman banjir dan suhu ekstrem akibat perubahan iklim, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Kristen (UK) Petra menggelar workshop “Blue-Green Infrastructure (BGI) in Surabaya” di Auditorium Kebun Raya Mangrove, Surabaya.

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30 peserta yang mewakili berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lintas sektor, mulai dari tata ruang, hidrologi, hingga mitigasi kota. Hadir pula dari kalangan akademisi dan organisasi masyarakat sipil.

“Surabaya saat ini menghadapi tantangan serius berupa rendahnya lahan terbuka kota, sehingga membuat rentan terhadap bencana seperti banjir dan suhu ekstrim akibat perubahan iklim. Workshop ini memperkenalkan konsep Blue-Green Infrastructure (BGI) yang relatif masih baru di Surabaya, sekaligus memulai penyusunan Peta Jalan (road map) BGI untuk Kota Surabaya,” ungkap Rully Damayanti, S.T., M.Art., Ph.D., Dekan FTSP UK Petra, dikutip Jumat (19/6/2026).

BGI merupakan pendekatan pembangunan kota yang mengintegrasikan pengelolaan air (blue) dan ruang hijau (green) sebagai solusi berbasis alam (nature-based solutions) untuk meningkatkan kualitas lingkungan, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta keberlanjutan perkotaan. Penerapannya dapat diwujudkan melalui berbagai alternatif seperti taman air, atap hijau, sengkedan, serta sistem drainase berkelanjutan (sustainable drainage systems/SuDS).

Narasumber utama dalam workshop ini adalah Prof. Robby Soetanto, profesor di Loughborough University, Inggris Raya, yang juga alumni Teknik Sipil UK Petra.
Sebelumnya, Prof. Robby telah mendampingi Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Kota Semarang dalam penyusunan peta jalan penerapan BGI.

“Pembangunan kota perlu memperhatikan keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pendekatan berbasis alam menjadi semakin penting untuk memastikan kota tetap layak huni dan berkelanjutan di masa depan,” ujarnya.

Selain keterlibatan profesor dari luar negeri, UK Petra juga menerjunkan enam dosen lintas jurusan untuk mendampingi para peserta. Dekan FTSP UK Petra, Rully, menegaskan bahwa workshop ini menjadi bagian dari komitmen UK Petra untuk berkontribusi dalam pengembangan Kota Surabaya di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.

“Melalui kolaborasi dengan Pemkot Surabaya, kami harap penyusunan peta jalan ini dapat menjadi langkah awal yang penting untuk mengembangkan Surabaya sebagai kota yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan ramah lingkungan,” lanjutnya.

Pemilihan Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai lokasi workshop bukan tanpa alasan. “Kawasan ini dinilai memiliki potensi besar sebagai salah satu lokasi percontohan penerapan konsep BGI di Surabaya. Sejumlah kota besar di Indonesia telah mulai mengadopsi pendekatan serupa dalam perencanaan dan pengembangan wilayahnya,” urai Rully.

Workshop dibuka oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, S.Farm., Apt., dan menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, serta masyarakat dalam merancang masa depan Surabaya yang lebih berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, UK Petra kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif menghadirkan solusi nyata bagi pembangunan Kota Surabaya dan kesejahteraan masyarakatnya. (rur)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments