Selasa, Agustus 11, 2026
BerandaMetro SurabayaUnusa Dorong Diagnosis Tuberkulosis Berbasis AI

Unusa Dorong Diagnosis Tuberkulosis Berbasis AI

SELASARSURABAYA – Penanganan tuberkulosis (TB) di masa depan membutuhkan perubahan paradigma, dari pendekatan diagnosis dan terapi konvensional menuju sistem yang lebih cepat, presisi, mudah diakses, dan sesuai karakteristik masing-masing pasien.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Soedarsono, Sp.P(K) dalam International Guest Lecture: Research Frontiers in Infection and Fetal Neurodevelopment yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Senin (10/8/2026) kemarin.

Dalam forum tersebut, Prof. Soedarsono memaparkan berbagai perkembangan mutakhir riset tuberkulosis, mulai dari diagnosis, deteksi resistansi obat, hingga terapi presisi.

Menurut Prof. Soedarsono, tantangan TB masih sangat besar. Berdasarkan data Global Tuberculosis Report 2025, pada 2024 diperkirakan terdapat 10,6 juta orang yang sakit TB secara global dengan 1,3 juta kematian. Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TB dunia atau sekitar 1,08 juta kasus dan menempati posisi kedua setelah India.

“Karena itu, eliminasi TB membutuhkan perubahan paradigma, bukan sekadar inovasi yang bersifat inkremental,” ungkapnya seperti dikutip Selasa (11/8/2026).

Salah satu perubahan penting yang sedang berkembang adalah pergeseran dari passive case finding menuju deteksi yang lebih proaktif dan berbasis risiko. Kelompok berisiko, seperti kontak serumah pasien TB, penderita HIV, diabetes, malnutrisi, mereka yang memiliki riwayat TB, serta masyarakat yang tinggal di lingkungan padat, perlu mendapatkan perhatian lebih dalam upaya menemukan kasus secara dini.

Teknologi digital juga mulai memainkan peran penting. Penggunaan foto toraks digital yang dipadukan dengan artificial intelligence (AI) dapat membantu proses skrining dan menentukan kelompok yang membutuhkan pemeriksaan molekuler lebih lanjut.

Perubahan berikutnya adalah menuju diagnosis yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sputum. Prof. Soedarsono menjelaskan bahwa riset TB saat ini mengembangkan berbagai alternatif sampel, seperti urine, darah, tongue swab, aerosol pernapasan, hingga biomarker respons tubuh.

“Pendekatan tersebut penting karena tidak semua pasien mampu menghasilkan sputum yang memadai untuk pemeriksaan. Pada 2026, WHO telah merekomendasikan penggunaan tongue swab dengan teknologi tertentu untuk orang dewasa dan remaja yang tidak dapat menghasilkan sputum, meskipun pemeriksaan sputum masih memiliki sensitivitas lebih tinggi dan tetap menjadi pilihan utama apabila tersedia,” terangnya.

Menurut Prof. Soedarsono, perkembangan riset juga bergerak menuju pemanfaatan biomarker host, termasuk transcriptomic signatures, proteomik, metabolomik, cytokine panels, dan immune signatures.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu membedakan infeksi, penyakit subklinis, TB aktif, sekaligus memprediksi kemungkinan perkembangan penyakit dan respons pasien terhadap terapi.

Tidak hanya pada diagnosis, perubahan paradigma juga terjadi dalam pengobatan. Menurut Prof. Soedarsono, pasien TB bukanlah kelompok yang homogen. Respons terhadap terapi dapat dipengaruhi oleh beban bakteri, pola resistansi, usia, berat badan, diabetes, HIV, malnutrisi, fungsi hati dan ginjal, interaksi obat, variasi farmakokinetik, hingga faktor genetik.

“Karena itu, arah riset masa depan adalah precision medicine, yakni memberikan obat yang tepat kepada pasien yang tepat, dengan dosis dan durasi yang tepat. Pendekatan ini memungkinkan terapi semakin terindividualisasi berdasarkan karakteristik penyakit maupun kondisi pasien,” tandasnya.

Tantangan lain yang menjadi perhatian adalah resistansi obat. Pemeriksaan resistansi secara konvensional membutuhkan waktu karena harus menunggu pertumbuhan bakteri. Perkembangan rapid molecular assays, targeted sequencing, next-generation sequencing, whole-genome sequencing, serta basis data mutasi resistansi membuka peluang untuk memperoleh profil resistansi secara lebih cepat sehingga terapi yang efektif dapat dimulai sedini mungkin.

Prof. Soedarsono juga mengingatkan bahwa TB tidak semestinya dipandang secara sederhana sebagai kondisi laten atau aktif. Perjalanan penyakit bersifat dinamis dan dapat bergerak menuju progresi, stabil, regresi, hingga clearance.

“Karena itu, penelitian masa depan perlu mampu mengidentifikasi siapa yang berisiko mengalami progresi, siapa yang tetap stabil, dan siapa yang membutuhkan terapi pencegahan lebih intensif,” tukasnya.

Dalam konteks Unusa, perkembangan tersebut memiliki relevansi strategis dengan keberadaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Pulmonologi. Forum ilmiah seperti International Guest Lecture menjadi ruang bagi dosen, dokter, dan residen untuk mengikuti perkembangan terbaru ilmu pulmonologi sekaligus melihat peluang pengembangan riset yang dapat menjawab persoalan TB di Indonesia.

Prof. Soedarsono menegaskan, ukuran keberhasilan inovasi kesehatan pada akhirnya bukan hanya kecanggihan teknologinya, tetapi seberapa besar dampaknya bagi masyarakat. Karena itu, inovasi diagnosis maupun terapi harus diarahkan agar semakin mudah diakses, akurat, aman, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi pengendalian TB. Bagi Unusa, pengembangan keilmuan pulmonologi tidak berhenti pada peningkatan kompetensi klinis.

Kehadiran PPDS Pulmonologi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan yang mampu merespons persoalan penyakit paru, khususnya TB, dengan pendekatan berbasis bukti dan teknologi.

Melalui forum ilmiah yang mempertemukan perspektif global dan kebutuhan kesehatan Indonesia tersebut, Unusa mendorong lahirnya generasi dokter spesialis dan peneliti yang tidak hanya mampu menangani pasien hari ini, tetapi juga ikut merancang masa depan penanggulangan TB yang lebih presisi, cepat, dan berkeadilan. (rur)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments