SELASARSURABAYA – Suasana hangat dan riuh tawa memenuhi Pasar Burung Dolly di RW 12 Kelurahan Putat Jaya, Surabaya. Siang itu, dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, para orang tua dan relawan dengan sabar mendampingi satu demi satu anak menyusun pola batik. Tak ada yang terburu-buru, semua menikmati tiap detik prosesnya.
Di sudut lain ruangan, beberapa anak mulai melirik kompor kecil tempat lilin batik perlahan meleleh. Mereka tampak tak sabar menunggu giliran mencelupkan canting. Sesekali terdengar celetukan polos. “Sudah boleh dicoba belum, Bu?” yang disambut gelak tawa para pendamping.
Sulit membayangkan bahwa tempat yang kini dipenuhi senyum anak-anak itu pernah dikenal sebagai kawasan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Pasca penutupan oleh Pemerintah Kota Surabaya, wajah Gang Dolly perlahan bersolek. Ruang-ruang publik dihidupkan kembali melalui kegiatan pendidikan, seni, dan pemberdayaan ekonomi. Pasar Burung Dolly yang dulunya sebatas tempat transaksi kini bertransformasi menjadi ruang belajar dan berkreasi warga.
Di tempat inilah Kelompok Usaha Bersama (KUB) Genarta tumbuh mengembangkan batik cap. Bekerja sama dengan Universitas Kristen (UK) Petra, mereka memperkenalkan Cantikyu, sebuah inovasi canting cap ramah lingkungan yang memanfaatkan limbah kertas dan kayu sebagai media edukasi (edukit).
Kegiatan ini merupakan bagian dari uji publik produk untuk kegiatan Hilirisasi Sinergi 2026 yang dilakukan para dosen lintas bidang di UK Petra. Mereka adalah Dr. Aniendya Christianna, S.Sn., M.Med.Kom., (Ketua tim-DKV), Astri Yogatama, S.Sos., M.Si., (anggota-Ilmu Komunikasi) dan Dean Charlos Padji Dogi, S.Ak., M.M., BKP., (anggota-Akuntansi Pajak).
Bagi Kelompok Usaha Bersama Batik Kampung Dolly, kegiatan ini bukan sekadar memperkenalkan batik kepada anak-anak. Proses membuat canting dari limbah kertas dan kayu menjadi bagian penting dari pembelajaran. Anak-anak diajak memahami bahwa barang sederhana bahkan limbah sekalipun dapat memiliki nilai baru ketika diolah dengan kreativitas.
Pada saat yang sama, mereka juga belajar tentang kesabaran. Membatik tidak bisa dilakukan tergesa-gesa. Setiap tahap, mulai dari menyusun canting, mengecap, memberi warna, hingga menunggu kain mengering, mengajarkan bahwa hasil yang baik memerlukan ketekunan.
“Edukit ini dirancang sebagai alat peraga pembelajaran moral, etika, dan seni budaya bagi anak, orang tua, maupun guru. Berbeda dengan kegiatan membatik pada umumnya, pada hari ini anak-anak tidak langsung memegang kain atau kuas pewarna. Mereka justru diajak memahami bahwa sebuah karya lahir dari proses yang membutuhkan ketelatenan,” terang Aniendya Christiana, ketua tim pengabdian dari UK Petra, dikutip Kamis (30/7/2026).
Awalnya anak-anak diminta menggabungkan potongan demi potongan kertas untuk membentuk pola pada permukaan canting kayu. Ada yang berkali-kali salah menempel, ada pula yang membongkar ulang demi bentuk yang lebih rapi.
“Kok susah menempel kertasnya, Bu?” keluh seorang anak sambil menunjukkan hasil tempelannya yang miring. Pendampingnya tersenyum lembut, “Kalau sabar, pasti bisa.”
Jawaban sederhana itu menyuntikkan kembali rasa percaya diri sang anak untuk menyelesaikan cantingnya. Begitu canting selesai, mata anak-anak berbinar menatap lelehan lilin hangat. Dengan bimbingan fasilitator, tangan-tangan kecil itu mulai mengecapkan canting ke atas kain putih. Ada yang menekan terlalu pelan hingga pola tak tercetak sempurna, ada pula yang terlalu bersemangat hingga capnya bergeser. Namun, tak satu pun terlihat kecewa. Setiap kekeliruan justru jadi bahan tertawaan bersama.
Tahap berikutnya adalah permainan warna. Ember-ember berisi larutan pewarna biru, merah, kuning, hijau, hingga ungu segera diserbu. Ada anak yang mencelupkan seluruh kainnya, ada pula yang memadukan beberapa warna untuk menciptakan efek gradasi yang unik.
Puncaknya terjadi saat proses nglorot atau pelepasan lilin. Begitu lapisan lilin luntur dan motif batik asli muncul di permukaan kain, sorak kegembiraan pecah di dalam ruangan.
Setiap anak memiliki pola dan ceritanya sendiri. “Paling seneng pas nampak gambarnya keluar!” seru Alea sambil mengangkat kainnya tinggi-tinggi. Wajahnya berbinar bangga. Ia berlari kecil menghampiri teman-temannya, memperlihatkan hasil karya yang beberapa jam lalu hanyalah tumpukan limbah kertas dan kain polos.
Bagi warga dan orang tua di Kampung Dolly, kegiatan ini membawa makna mendalam. “Sangat bermanfaat karena mengajak anak-anak kembali ke budaya batik. Di era sekarang, anak-anak rawan lupa dengan warisan budaya kalau tidak dikenalkan secara langsung,” ungkap Lilik Anani, salah satu orang tua peserta.
Di tengah keseharian yang didominasi layar gawai, kegiatan sederhana ini terbukti berhasil menghadirkan ruang belajar yang hidup untuk melatih konsentrasi, kerja sama, dan rasa menghargai proses.
Sore mulai menjelang ketika kain-kain hasil karya anak-anak dipajang berjajar. Motifnya mungkin belum simetris, warnanya pun belum sepenuhnya rata. Namun di balik setiap helai kain, tersimpan cerita tentang keberanian mencoba dan rasa bangga atas karya sendiri.
Gang Dolly memang memiliki rekam sejarah yang panjang. Namun di Hari Anak Nasional, sejarah itu memberi ruang bagi cerita baru. Di atas selembar kain putih, anak-anak Gang Dolly bukan sekadar mencetak motif batik, mereka sedang mencanting lembaran asa dan perlahan merangkai masa depan. (rur)

