SELASARSURABAYA – Universitas Airlangga (Unair) menghadirkan inovasi teknologi yang berdampak langsung pada inklusivitas masyarakat. Melalui program pendanaan Unair SustainAction, Tim Rasena Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) merancang Auris (Auditory Responsive Intelligent Scale), sebuah timbangan pintar bersuara untuk membantu kemandirian barista tunanetra di Komunitas Mata Hati (KMH) Surabaya.
Inovasi ini bermula dari fokus tim pada isu disabilitas yang menjadi salah satu prioritas program SustainAction tahun ini. Pada awalnya, Tim Rasena berencana membuat tongkat pintar, namun kebutuhan di lapangan ternyata berbeda.
“Setelah berdiskusi dengan KMH, kami mengetahui bahwa mereka lebih membutuhkan timbangan yang dapat mengeluarkan suara untuk membantu barista tunanetra mereka di UMKM KopiCék dalam proses pembuatan kopi. Dari kebutuhan tersebut, kami kemudian mengembangkan AURIS,” ungkap Jessica Rahma Valere Satyo, selaku perwakilan dari Tim Rasena, dikutip Rabu (26/8/2026).
Lebih lanjut, mahasiswi Teknik Elektro FTMM angkatan 2024 itu menerangkan bahwa AURIS bekerja dengan mengubah data berat dari load cell menjadi informasi suara secara real-time. Salah satu keunggulan utama alat ini adalah kemampuannya menerima input target berat (dosing) yang diinginkan pengguna.
Saat proses penuangan kopi, buzzer akan terus berbunyi dan baru berhenti ketika takaran tercapai. Kombinasi audio feedback dan tombol fisik ini memungkinkan barista menakar kopi secara presisi tanpa harus bergantung pada penglihatan.
Proses mewujudkan alat yang user-friendly ini tentu melewati tahap pengujian yang panjang bersama para barista. “Kesan yang kami dapatkan sangat positif. Para barista merasa senang dan kagum karena alat ini membantu mereka. Kami bahkan pernah melakukan uji coba dari pukul 19.00 hingga 02.00 dini hari di basecamp KMH untuk memperbaiki berbagai error sebelum sosialisasi,” ceritanya.
Meskipun sempat terkendala masalah suara dan tingkat presisi hingga menunda jadwal sosialisasi, hal tersebut tidak menyurutkan semangat tim. “Masukan tersebut justru membantu kami mengembangkan Auris menjadi lebih baik. Termasuk menyesuaikan desain bodi 3D printing agar lebih fleksibel saat dibuka untuk proses perbaikan,” tambahnya.
Setelah melalui tahap penyempurnaan, Auris secara resmi disosialisasikan dalam sebuah acara offline di lingkungan kampus Unair. Keberhasilan implementasi inovasi ini tidak terlepas dari dukungan penuh ekosistem kampus. Mulai dari pendanaan SDGs Unair hingga fasilitas ruangan dan administrasi dari FTMM serta Sarpras Unair. Ke depannya, Tim Rasena berkomitmen untuk terus menyempurnakan Auris.
“Ke depannya, kami ingin terus mengembangkan Auris agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi penyandang disabilitas netra dan meningkatkan kemandirian mereka. Kami juga berencana memberikan satu unit Auris kepada Airlangga Inclusive Learning (AIL) Unair sebagai bagian dari pengembangan dan uji lanjut alat,” pungkas Jessica. (nan)

