Rabu, September 23, 2026
BerandaHeadlinesRisiko Silikosis Mengintai Akibat Paparan Abu Vulkanik

Risiko Silikosis Mengintai Akibat Paparan Abu Vulkanik

SELASARSURABAYA – Meski aktivitas Gunung Anak Krakatau telah mereda, statusnya berada di level II (Waspada) sehingga potensi ancaman erupsi tetap ada. Sisa abu vulkanik dari erupsi sebelumnya mungkin saja masih tertinggal karena belum terurai oleh air hujan. Hal inilah yang bisa membawa dampak serius bagi kesehatan masyarakat, terutama pada sistem pernapasan.

Menanggapi hal ini, pakar spesialis pulmonologi dan respirasi dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Kristen (UK) Petra, dr. Venny Singgih, Sp.P., memaparkan bahaya material vulkanik bagi paru-paru sekaligus langkah preventif yang masyarakat perlu tahu.

Dokter yang mengambil pendidikan spesialis di Bali itu menjelaskan bahwa erupsi gunung berapi menghasilkan dua komponen utama, yaitu partikel dan gas. Dari segi partikel, yang paling berbahaya adalah respirable dust atau partikel mikroskopis berukuran PM10 dan PM2,5 yang mampu menembus saluran napas bawah hingga ke alveoli (gelembung paru). Dampak paparannya terbagi menjadi kondisi akut dan kronis.

“Secara akut, paparan konsentrasi tinggi akan langsung memicu reaksi pada mata seperti pedih dan berair, kulit gatal dan muncul ruam hingga gangguan saluran napas. Debu yang masuk memicu iritasi yang membuat saluran napas menyempit, membengkak, dan memproduksi lendir berlebih. Hal ini bisa menyebabkan batuk hebat, sesak napas, hingga penurunan saturasi oksigen,” jelas dr. Venny, dikutip Rabu (23/9/2026).

Sementara untuk jangka panjang, paparan debu silika kristalin berkonsentrasi rendah yang berlangsung berbulan-bulan hingga dalam jangka waktu lama, dapat memicu silikosis atau penyakit paru-paru kronis.

“Sifat debu silika ini tidak dapat dieliminasi oleh tubuh dengan cara apapun. Akibatnya, timbul fibrosis atau jaringan parut permanen yang menurunkan fungsi paru secara ireversibel dan tidak bisa disembuhkan. Hanya dapat direhabilitasi,” tegasnya.

Guna mengantisipasi bahaya tersebut, dr. Venny membagikan panduan penanganan awal saat terpapar material vulkanik:
Berlindung di dalam rumah. Segera masuk serta tutup rapat seluruh pintu dan jendela. Sumbat sela-sela celah udara jika diperlukan.

Bilas mata, jangan dikucek. Apabila mata terasa gatal atau perih, dilarang keras menguceknya. Langsung bilas menggunakan air bersih atau steril.

Bersihkan diri. Lepas pakaian yang terpapar dari luar, masukkan ke dalam kantong tertutup agar debu tidak menyebar, lalu segera mandi hingga bersih.

Masyarakat yang berada di zona rawan paparan juga dianjurkan untuk menyiapkan emergency kit atau alat proteksi diri yang memadai. Perlengkapan tersebut meliputi kacamata pelindung (goggles) yang menutup rapat area mata, masker khusus penyaring partikel mikroskopis seperti masker N95, serta pakaian tertutup untuk melindungi permukaan kulit.

Terutama bagi masyarakat rentan seperti penderita asma, anak-anak, bayi, maupun lansia, persediaan obat-obatan rutin seperti inhaler harus selalu disiagakan.

Menutup keterangannya, dr Venny mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan selalu memantau perkembangan situasi melalui media resmi.

Ia mengingatkan agar proses pembersihan lingkungan dilakukan dengan cara yang aman, yaitu menghindari penggunaan sapu atau alat peniup debu, karena justru akan menerbangkan kembali partikel berbahaya ke udara.

Seluruh permukaan yang tertutup debu hendaknya ditangkap menggunakan lap basah atau vacuum cleaner, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mulai merasakan gejala pernapasan yang mengganggu. (nan)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments