Sabtu, Oktober 10, 2026
BerandaNusantaraAdaptif dan Pentingnya Kewarasan Berpikir di Tengah Gempuran AI Dalam Jurnalistik

Adaptif dan Pentingnya Kewarasan Berpikir di Tengah Gempuran AI Dalam Jurnalistik

SELASARSURABAYA – Dinamika dunia komunikasi telah bergerak sangat cepat dari era penggunaan mesin tik hingga kini memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). tekanan kecepatan dan kuantitas produksi berita yang tinggi memaksa jurnalis dan editor memanfaatkan AI sebagai alat bantu.

Hal ini diungkap dalam Talkshow ‘Dari Tinta ke Algoritma’ dalam rangkaian peringatan 30 tahun Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo (Fikom Unitomo) Surabaya angkatan 1996 di Mini Auditorium Fikom Unitomo Surabaya, Kamis (8/10/2026).

Tiga narasumber yakni Supriyanto selaku Koordinator Acara dan Praktisi Digital Media, Rakhmad Syaiful Ramadhani, Dosen FISIP Universitas Islam Majapahit Mojokerto, dan Maulana Arief, Dosen FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Ketiganya merupakan alumni angkatan 1996 Fikom Unitomo Surabaya

“Perkembangan teknologi sangat pesat. Alumni komunikasi yang berkembang saat ini terbukti sangat adaptif dengan perubahan, mulai dari era internet hingga AI. Ada yang menjadi peneliti media, pengusaha, hingga bergelut di bidang Big Data Analytics. Kunci utamanya adalah kreativitas,” ujar Supriyanto.

Ia tidak menampik bahwa pesatnya perkembangan teknologi AI turut membawa dampak berupa tantangan dan penurunan di sektor media konvensional. Saat ini, peluang kerja lulusan komunikasi tidak hanya di ranah media massa saja, fenomena tersebut dinilai banyak tergeser oleh maraknya media sosial dan media alternatif.

“Trennya saat ini mulai bergeser karena dampak dari AI itu media juga terdampak. Sebenarnya kalau komunikasinya tidak mati, yang mati adalah dunia jurnalistiknya agak menurun, menurun dalam arti fungsi dan kualitasnya ya. Kemudian di media alternatifnya ini yang sangat banyak tuntutannya,” ucapnya.

Sementara Rakhmad Syaiful Ramadhani menekankan peran penting akademisi, mahasiswa, dan praktisi komunikasi dalam memberikan edukasi literasi media kepada masyarakat luas. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan keberadaan ‘kewarasan’ berpikir di tengah gempuran AI.

“Teknologi, secanggih apa pun itu, termasuk AI, harus dimanfaatkan untuk tujuan kemanusiaan. Jangan sampai kemudahan teknologi justru mengikis pemaknaan kita dalam berkomunikasi dan berpikir kritis sehingga sering kali kita manusia melupakan aspek kemanusiaan demi segala hal yang berorientasi pada hasil saja,” ucap Rakhmad.

Berdasarkan hasil penelitian terbarunya mengenai penggunaan AI oleh jurnalis di berbagai tingkatan, Maulana Arief menjelaskan bahwa tekanan kecepatan dan kuantitas produksi berita yang tinggi memaksa jurnalis dan editor memanfaatkan AI sebagai alat bantu.

“Jadi semua ini terjadi bukan tanpa sebab. Saya pernah melakukan penelitian, faktanya adalah misalnya editor media online yang harus mengedit hingga 120 naskah per hari. Secara manual itu sulit dikejar dengan ritme media digital yang membutuhkan kecepatan tinggi. Akhirnya, mereka menggunakan AI untuk menjawab tantangan tersebut,” ujarnya.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa penggunaan AI tidak lantas menghilangkan peran penting manusia. AI seharusnya diposisikan sebagai partner atau asisten, bukan pengambil alih peran utama jurnalis. Proses verifikasi, evaluasi, hingga pertimbangan etika tetap menjadi tanggung jawab penuh jurnalis.

“AI memiliki potensi bias khususnya pada aspek pemaknaan karena bergantung pada algoritma dan prompt yang digunakan. Di sinilah dibutuhkan reflexivity dan epistemic judgment dari jurnalis untuk memastikan produk yang dihasilkan bebas dari bias, akurat, serta mematuhi kode etik jurnalistik,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti tantangan besar bagi jurnalis pemula yang belum memiliki pengalaman lapangan yang kuat dalam verifikasi data dan pemahaman etika. Tuntutan target berita yang tinggi seringkali membuat jurnalis pemula mengambil jalan praktis dengan langsung menyajikan hasil AI tanpa kurasi yang memadai.

Menurutnya, isu ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menilai apakah penggunaan AI ‘baik atau buruk’, melainkan perlu dilihat dari struktur industri media secara lebih luas. Sistem kontrol kualitas (quality control) di internal media serta edukasi penggunaan AI yang bertanggung jawab di lingkungan akademis menjadi kunci keberhasilan adaptasi ini.

“Masyarakat tetap lebih menyukai narasi dan karya yang dirasakan memiliki sentuhan manusia. Tantangan jurnalis ke depan bukan lagi sekadar mencari dan menulis berita, melainkan bagaimana memperdalam verifikasi dan menjaga integritas serta kredibilitas informasi,” ucapnya.

Melalui diskusi ini, para alumni ingin memberikan dorongan serta pandangan baru bagi para peserta dan praktisi komunikasi. Kunci utama untuk tetap bertahan dan relevan di dunia kerja saat ini adalah dengan terus mengasah kreativitas serta bersikap terbuka pada teknologi tanpa kehilangan esensi pemikiran dan otentisitas dari manusia.(djo)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments