Jumat, Oktober 9, 2026
BerandaHeadlinesJadi Binaan BI, Omzet UMKM Teh Gambyong Naik Berlipat-lipat

Jadi Binaan BI, Omzet UMKM Teh Gambyong Naik Berlipat-lipat

SELASARSURABAYA – Di balik sejuknya lereng Gunung Lawu, tersimpan kisah inspiratif dari seorang pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sukses mengolah daun teh menjadi minuman teh yang mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah bernilai fantastis.

Dia adalah Eko Wuryanto pemilik merek Teh Gambyong Kemuning. Berawal dari usaha rumahan yang dirintis pada 2012 silam dengan modal sekitar Rp8 juta, Teh Gambyong Kemuning di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, kini berkembang menjadi salah satu produk teh lokal yang mampu menembus pasar nasional.

“Saya nekat keluar dari perusahaan dan memilih merintis usaha sendiri. Berbekal modal sebesar Rp8 juta, saya mulai merintis usaha ini,” ujar Eko, saat ditemui disela kegiatan Capacity Building Media BI Jatim bertajuk ‘Media Connect: Insight, Impact & Collaboration’ di Solo, Jawa Tengah, Selasa (9/10/2026) lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Eko mengungkapkan jika ia melihat peluang bisnis teh setelah memiliki pengalaman bekerja di perusahaan teh sejak 2010. Ia melihat potensi perkebunan teh di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, yang tidak hanya menjadi sentra perkebunan, tetapi juga berkembang sebagai kawasan wisata.

“Teh itu salah satu kebutuhan yang hampir setiap hari dikonsumsi masyarakat. Kebetulan lingkungan tempat saya tinggal juga berada di kawasan perkebunan teh,” terang Eko.

Menurut Eko, wisatawan yang datang ke Kemuning tidak sekadar menikmati panorama perkebunan teh. Sebagian juga tertarik membeli produk teh lokal dan melihat langsung proses pengolahannya.

Peluang tersebut mendorong Eko keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan membangun usaha sendiri. Namun, perjalanan Teh Gambyong tidak langsung mulus.

Di awal, produksi Teh Gambyong Kemuning hanya sekitar 50 kilogram per bulan. Produk yang dihasilkan bahkan tidak selalu habis terjual. Omzet yang diperoleh sekitar Rp300.000 per bulan, jauh di bawah pendapatan Eko ketika masih menjadi karyawan perusahaan teh.

Meski demikian Eko pantang menyerah.
Ia lantas memilih untuk memperkuat kolaborasi. Ia memahami sebagai pelaku usaha kecil, tak mungkin langkahnya bisa kuat tanpa ada dukungan banyak pihak.

Eko pun mulai merangkul para petani lokal secara bertahap. Mulanya hanya 5-6 petani yang mampu ia gandeng.

Kemitraan itu kini telah melibatkan sekitar 26 petani yang tergabung dalam satu gabungan kelompok tani (gapoktan). Lahan yang menjadi bagian dari kemitraan tersebut mencapai sekitar 50 hektare.

Pengembangan usaha Teh Gambyong Kemuning juga mendapat dukungan Bank Indonesia (BI) melalui program pembinaan UMKM sejak 2019.

“Bagaimana meningkatkan kapasitas produksi dengan memberikan sarpras bantuan berupa alat-alat. Tanpa bantuan BI mungkin kami tidak bisa menembus pasar nasional seperti sekarang,” tegas Eko.

Teh Gambyong mendapat dukungan BI dalam pengembangan produksi, peralatan, promosi, serta kesempatan mengikuti berbagai pameran untuk bertemu calon pembeli. Salah satunya melalui keikutsertaan dalam Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 yang digelar di Surabaya pada Juli 2026.

Dari ajang tersebut, Teh Gambyong memperoleh pembeli dari Boyolali yang kini memesan sekitar 3.000 pieces produk setiap hari. Dari satu pembeli tersebut, nilai transaksi yang diperoleh mencapai sekitar Rp6 juta per hari.

Eko menyebut pembinaan berupa dukungan sarana dan pelatihan meningkatkan kapasitas produksi sekitar 30-40 persen dibandingkan sebelumnya.

Pertumbuhan produksi juga diikuti dengan pengembangan jenis dan varian produk. Teh Gambyong kini mengolah teh hijau, teh hitam, teh putih, dan teh oolong, dengan sekitar 16 varian rasa. Varian tersebut antara lain melati, jahe, rempah, serai, leci, dan markisa.

Dukungan BI dirasakan Eko ikut memperluas jaringan pemasaran. Jumlah reseller yang pada 2025 tercatat sekitar 235 orang kini telah meningkat menjadi sekitar 620 reseller. Pertumbuhan itu turut mendorong kenaikan omzet, dari sekitar Rp85 juta per bulan pada 2023 menjadi sekitar Rp250 juta hingga Rp300 juta per bulan pada 2026. (rur)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments