SELASARSURABAYA – Teknologi kedokteran untuk pasien penyakit jantung koroner (PJK) saat ini telah berkembang pesat, salah satunya operasi bypass jantung dengan metode minimal invasif (minim sayatan). Hal ini seperti yang diperkenalkan Cardiac Vascular Sentral Kuala Lumpur (CVSKL), pusat layanan kesehatan spesialis jantung terkemuka di Malaysia.
Konsultan Ahli Bedah Kardiotoraks CVSKL Dato’ dr. Mohamad Arif Muhammad Nor menjelaskan bahwa teknik tersebut dilakukan dengan sayatan yang lebih kecil.
“Ini adalah sebuah metode bedah jantung minim sayatan yang menawarkan proses pemulihan jauh lebih cepat dan risiko trauma fisik yang lebih minimal,” ujar Dato dr. Mohamad Arif disela kunjungannya di Surabaya, akhir pekan kemarin.
Ia melangkahkan, teknologi ini dirancang untuk menjawab kekhawatiran umum pasien yang kerap merasa takut menghadapi operasi bedah jantung konvensional.
“Selama ini, momok terbesar bagi pasien jantung koroner yang harus menjalani tindakan bedah adalah rasa takut terhadap prosedur pembelahan tulang dada atau sternotomi. Melalui metode Minimally Invasive Cardiac Surgery ini, kami dapat mengakses jantung melalui celah kecil di antara tulang rusuk tanpa harus memotong tulang dada,” terangnya.
Berbeda dengan metode konvensional yang mengharuskan pembelahan tulang dada (sternotomy), teknik minimal invasif di CVSKL ini memungkinkan pemulihan pasien berlangsung jauh lebih cepat.
“Karena sayatannya lebih kecil dan tidak memerlukan pemotongan tulang dada pada prosedur tertentu, proses penyembuhan luka bisa lebih cepat. Perawatan luka juga menjadi lebih sederhana,” tukasnya.
Meski demikian, metode tersebut tidak dapat diterapkan kepada semua pasien jantung. Pemilihan teknik operasi harus mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien, tingkat kompleksitas penyakit, serta risiko yang mungkin timbul selama tindakan.
Pada pasien dengan kondisi jantung yang kompleks atau membutuhkan penanganan darurat, dokter perlu melakukan pemeriksaan dan pertimbangan lebih lanjut untuk menentukan metode yang paling tepat.
“Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, perlu dilakukan penilaian terlebih dahulu untuk menentukan apakah operasi dengan sayatan minimal memungkinkan dilakukan atau pasien membutuhkan pendekatan lain,” tegasnya.
Teknik bedah minim sayatan ini berbeda dengan pemasangan ring jantung. Pada prosedur pemasangan ring atau stent, dokter memasukkan kateter melalui pembuluh darah untuk mencapai bagian arteri yang mengalami penyempitan, kemudian memasang stent guna membantu menjaga pembuluh darah tetap terbuka.
Sementara itu, operasi jantung minim sayatan merupakan tindakan bedah yang dilakukan melalui sayatan kecil untuk menangani masalah tertentu pada jantung. Jenis tindakan yang diperlukan tetap bergantung pada diagnosis dan kondisi pasien.
“Tidak semua pasien dengan penyumbatan arteri koroner otomatis menjadi kandidat yang cocok untuk prosedur ini. Kelayakan medis seorang pasien sangat bergantung pada pola, jumlah, dan tingkat keparahan penyumbatan pembuluh darah, serta fungsi jantung secara keseluruhan,” tandasnya.
Kehadiran CVSKL di Surabaya sekaligus memperkuat komitmen rumah sakit tersebut dalam memperluas akses layanan kesehatan jantung berstandar internasional bagi masyarakat regional, khususnya pasien dari Indonesia yang mencari alternatif pengobatan mutakhir tanpa harus mengorbankan kenyamanan fisik mereka. (rur)

