SELASARSURABAYA – Persebaya Surabaya hanya bisa bermain imbang 1-1 lawan Arema FC di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, Sabtu (22/11/2025) sore. Laga pekan ke-12 Super League ini Arek-arek Green Force ketinggalan terlebih dahulu oleh gol bunuh diri Dime Dimov pada menit ke-63’. Namun sepuluh menit kemudian Bruno Moreira berhasil menyamakan kedudukan.
Dengan hasil tersebut, Bajol Ijo masih bertengger di peringkat 7 dengan torehan 16 poin hasil dari 4 kali menang dan seri, serta 3 kali kalah.
Berikut rangkuman hasil pengamatan Kukuh Ismoyo, Arek Bonek Sukodono.
Babak Pertama
Tanpa Rivera, Bruno ternyata dijadikan Role number 10 oleh Edu Perez. Tapi, Bruno bukan diplot sebagai advanced playmaker sebagaimana Rivera, tapi sebagai free role player. Ia bisa berada di mana saja mengejar bola dan melakukan serangan. Sementara tugas sebagai dirijen lapangan alias pembagi bola, tampaknya diperankan oleh Tony Firmansyah.
Btw, meski bukan yang terbaik, ini adalah penampilan Milos Raikovic yang paling lumayan. Ia tidak seperti kartu mati bagi Persebaya sebagaimana pertandingan sebelum-sebelumnya. Terlihat di babak ini, ia memang mampu membantu serangan, melakukan recovery saat defense bahkan melakukan tembakan ke gawang Arema FC. Hal-hal yang harusnya dilakukan sejak awal gabung.
Pusat serangan Persebaya di babak ini ada pada Gali Freitas dan Catur Pamungkas di sisi kiri Persebaya. Sementara sisi kanannya sedikit pasif. Malik Risaldi dan Dejan Tumbas tidak seatraktif Gali – Catur.
Yang tidak guna di babak ini ya, Mihailo Perovic. Ada beberapa kali saat Gali dan Bruno melakukan serangan, ia seringkali tidak terlihat akan mampu menyambut umpan atau bahkan menyelesaikan peluang. Striker macam apa ini?
Overall, meski tanpa Rivera, permainan Persebaya sebenarnya tidak buruk-buruk amat seperti yang ditakutkan banyak pihak.
Babak Kedua
Kok bisa babak kedua malah mainnya lebih jelek dibanding babak pertama tadi? Arema FC tahu kalau Persebaya sering melakukan serangan lewat flank, oleh sebab itu mereka selalu menginisiasi serangan mereka lewat flank yang sering ditinggalkan oleh para pemain Persebaya.
Di babak ini, sisi Dejan Tumbas justru sering kecolongan, termasuk gol bunuh diri Dimov, beberapa serangan Arema FC yang berbahaya berasal dari sisi yang ditinggalkan Dejan Tumbas. Dari situlah Arema FC mencuri serangan atas Persebaya.
Saya tidak tahu apa alasannya Edu Perez terus saja memainkan Tumbas di sana. Ia bermain tak pernah bagus di sana.
Lagi dan lagi, Dime Dimov ini bek yang kurang bagus. Gol bunuh diri tadi harusnya gak perlu terjadi. Seperti yang dibilang Bung Rendra, terlalu jauh dari pemain Arema FC, tidak tepat ke gawang pula.
Kalau tetap dipertahankan di paruh musim kedua besok, fix kalau Persebaya memang tidak punya dana buat beli pemain bagus dan tidak berani membuang Dimov.
Serangan Persebaya di babak ini seringkali tidak terukur, terlalu tergesa-gesa dan terlihat memaksa.
Tidak terukur karena umpan-umpan crossing-nya tidak menemui sasaran. Tergesa-gesa karena sering tidak melihat apakah ada kawan yang bakal menyambut umpan ke gawang atau tidak.
Serta memaksa, yakni mencoba untuk melakukan dribble sendiri masuk ke arah gawang yang justru berakibat sering hilang peluang. Dan gongnya lagi, dari belasan corner yang tercipta, jangankan gol, bahkan hampir tak ada satupun yang berakibat peluang emas. Sering mentah dan terbuang percuma. Strikernya jelek semua.
Tidak ada yang bisa diharapkan dari skuad ini. Saya kira walaupun Bernardo Tavares masuk menggantikan Edu Perez, entahlah, saya pikir ia akan kesulitan dengan skuad macam ini. Skuad pincang yang pada awal musim anehnya digadang-gadang jadi skuad juara.
Lumayan, tidak jadi kalah.(djo)
