Sabtu, April 25, 2026
BerandaIkhtiar Bersama Menjaga Anak dari Tarikan Layar

Ikhtiar Bersama Menjaga Anak dari Tarikan Layar

Anak-anak sekarang bisa disebut generasi digital sejak lahir. Bahkan sebelum lancar membaca, sebagian dari mereka sudah lihai menggeser layar. Kalau dulu mainan favoritnya boneka atau mobil-mobilan, sekarang layar gagdet sudah menjadi teman yang selalu ada. Jangan heran jika satu tangan memegang gadget, sementara tangan lainnya tetap menggambar atau bermain.

Namun kedekatan itu kadang membuat orang tua was-was. Kekhawatiran muncul tentang kesehatan mental anak, kecanduan gawai, perundungan siber, hingga paparan konten yang belum tentu sesuai usia. Riskesdas 2018 mencatat sekitar 30 persen remaja usia 10–19 tahun menunjukkan gejala gangguan kesehatan mental. Artinya, hampir satu dari tiga anak muda kita mungkin sedang berjuang diam-diam.

Pemerintah pun mulai mengambil langkah. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyampaikan bahwa akun media sosial untuk anak di bawah usia 16 tahun akan dibatasi. Mulai 28 Maret 2026, kebijakan ini diterapkan secara bertahap sebagai bagian dari penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Sistem Elektronik. Tujuannya sederhana: memastikan platform digital ikut berperan melindungi anak-anak dari dampak negatif layar.

Fenomena kedekatan anak dengan layar sebenarnya bukan hal baru. Pandemi beberapa tahun lalu bahkan mempercepatnya. Ketika sekolah tutup dan kegiatan berpindah ke rumah, layar berubah dari sekadar alat bantu menjadi pusat aktivitas. Setelah kelas daring selesai, layar yang sama tetap menyala: menonton video, bermain gim, atau sekadar menggulir konten tanpa tujuan.

Orang tua tentu berusaha membatasi. Tetapi siapa pun yang pernah mencoba tahu bahwa menahan anak dari layar bukan perkara mudah. Dibutuhkan kesabaran, energi, dan kadang kreativitas.

Tantangan Keseimbangan Ala Rumah

Setiap rumah punya cerita digitalnya sendiri. Di rumah saya, misalnya, anak pernah membuat proyek kecil yang ia sebut “polisi gadget.” Bentuknya casing ponsel dengan sensor cahaya, sensor jarak, dan pengingat waktu. Jika layar terlalu dekat, digunakan terlalu lama, atau ruangan terlalu gelap, alat itu akan berbunyi: bip! bip!

Ketika saya bertanya mengapa ia membuatnya, jawabannya sederhana:
“Supaya adik nggak kecanduan gadget.”

Dari situ saya tersadar bahwa anak-anak yang lahir di era digital sebenarnya juga punya cara berpikir yang kreatif dan peka terhadap teknologi. Mereka tidak selalu pasif; sering kali justru lebih cepat memahami cara kerja dunia digital.

Namun tetap saja, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan. Dunia digital bergerak sangat cepat, sementara kesehatan mental anak tetap perlu dijaga dengan hati-hati. Perasaan mereka bisa rapuh kadang hanya karena satu kalimat dari teman di ruang digital.

Karena itu, selain membatasi penggunaan layar, anak-anak juga perlu dibekali literasi digital yakni kemampuan memahami informasi, membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan, serta belajar bersikap bijak di ruang maya.

Ikhtiar Bersama: Bukan Solo Mission

Di tengah derasnya arus teknologi digital, menjaga anak bukan lagi tugas satu pihak saja. Ini adalah tanggung jawab bersama. Guru mendampingi di sekolah, orang tua peduli di rumah, dan anak-anak sendiri belajar perlahan mengatur dirinya. Pemerintah membuat aturan, lembaga memberi dukungan, dan masyarakat ikut menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi tumbuh kembang mereka.

Semangat kebersamaan ini juga kami terjemahkan dalam berbagai kegiatan yang melibatkan banyak pihak. Salah satunya melalui kegiatan World Children’s Day  bersama UNICEF, yang menjadi ruang bagi anak-anak untuk memulihkan motivasi belajar dan rasa percaya diri setelah pandemi.

Selain itu, melalui kegiatan ISYOUTH- International Summit For Youth  bersama Kementerian Kesehatan RI, kami membuka kesempatan bagi anak-anak terutama yang berusia di bawah 16 tahun untuk belajar keterampilan abad ke-21. Di sana mereka belajar berinovasi, berkolaborasi secara global, dan berani menyampaikan gagasan, sekaligus mendapatkan ruang yang aman secara psikologis untuk tumbuh dan berkembang.

Di tengah laju teknologi yang semakin cepat, kita perlu mengingat satu hal sederhana: masa kanak-kanak hanya datang sekali. Ikhtiar bersama ini memberi anak-anak kesempatan untuk tetap tertawa, bermain, dan menatap dunia nyata, bukan hanya layar di telapak tangan mereka.

Layar memang bisa menjadi guru, tetapi bukan satu-satunya guru. Anak-anak juga membutuhkan guru di luar layar: teman bermain, orang tua yang mau mendengar, guru yang mendampingi, serta ruang yang aman untuk mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.

Pada akhirnya, masa depan anak-anak tidak hanya dibentuk oleh teknologi, tetapi oleh kebersamaan kita dalam menjaga dan membimbing mereka hari ini. Mari kita pastikan mereka tetap menikmati masa kecilnya dengan bahagia bukan memberikan seluruh hidupnya untuk layar gagdet.

Penulis
Niken Rooshanny
Praktisi pendidikan
Humas IT YPI Al-Azhar Jawa Timur

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments