Bagi masyarakat awam, Imlek identik dengan keramaian barongsai, lampion merah, dan bagi-bagi angpao (红包, hóngbāo). Namun, jika kita menilik lebih dalam, Imlek sejatinya adalah sebuah titik balik. Ia bukan sekadar perayaan budaya, melainkan sebuah simfoni pergantian musim yang membawa pesan mendalam tentang pembaruan hidup.
Secara harfiah, Imlek menandai berakhirnya musim dingin menuju awal musim semi. Sama halnya dengan perayaan Idul Fitri bagi umat Muslim atau perayaan Tahun Baru Internasional, Imlek adalah momen transisi orang Tionghoa, momen untuk menutup lembaran lama dan memulai siklus yang baru.
Imlek dapat menjadi milik siapa saja yang memiliki akar tradisi Tionghoa, tanpa memandang keyakinannya. Sebab ini merupakan momen keluarga besar untuk berkumpul bersama, menyambut pergantian musim. Misalnya tradisi bersih-bersih rumah sebelum hari-H, bukan sekadar urusan sanitasi. Ada makna simbolis di baliknya yakni kita membuang segala keburukan dan kesialan tahun lalu agar rumah siap menerima tamu dan keberuntungan baru. Begitu hari-H tiba (Imlek), sapu harus diletakkan. Kita berhenti bekerja, berhenti bersih-bersih, dan fokus sepenuhnya untuk merayakan kebersamaan.
Simbolisme dalam sepiring harapan, tersaji di meja makan yaitu Kue Keranjang atau dalam bahasa Mandarinnya Nián Gāo (年糕). Kata “Gao” (糕) senada dengan 高(Gāo, yang berarti tinggi) melambangkan harapan agar setiap langkah hidup kita di tahun yang baru membawa kita ke derajat yang lebih tinggi, baik dalam hal rezeki maupun kualitas hidup.
Begitu pula dengan kehadiran ikan yang wajib ada di meja makan. Dalam pelafalan Mandarin, ikan (鱼, yú) terdengar mirip dengan kata 余 (yú) yang berarti “kelebihan” atau “sisa”. Harapannya sederhana namun kuat, agar setiap tahun kita tidak hanya berkecukupan, tetapi selalu memiliki kelebihan rezeki untuk dibagikan.
Ada mitos yang menggelitik, “mengapa Imlek identik dengan hujan?”. Secara logika ini merupakan fenomena alam. Di Tiongkok sendiri, Imlek adalah peralihan cairnya salju menjadi hujan di awal musim semi. Sementara itu di Indonesia, Imlek jatuh tepat di puncak musim penghujan. Namun, bagi masyarakat Tionghoa, hujan adalah simbol “banjir rezeki”. Alih-alih mengeluh karena basah, hujan justru disambut dengan syukur sebagai energi positif yang turun dari langit.
Di tahun 2026 ini, kita memasuki tahun Kuda Api yang membawa pada energi yang membara. Dalam filosofi Tionghoa, api yang dahsyat atau “旺盛” (wàng shèng) bermakna sesuatu yang berkembang pesat, makmur, dan bersemangat, atau penuh energi dan vitalitas. Kuda sendiri adalah simbol kecepatan. Pesannya sangat jelas, bahwa tahun ini adalah waktu bagi kita untuk berpacu dengan waktu, menyelesaikan urusan yang tertunda, dan melangkah maju dengan akselerasi tinggi.
Pada akhirnya, esensi Imlek adalah tentang memperbaiki relasi. Hubungan dengan Langit (天, tiān), hubungan dengan semua yang diatas Bumi (地, dì), dan hubungan dengan sesama manusia (人, rén) . Waktu yang tepat, lokasi yang menguntungkan, dan hubungan yang harmonis (天时地利人和, tiānshí dìlì rén hé) menunjukkan keharmonisan dari ketiga hal ini, untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan ini. Mari kita jadikan momen ini sebagai titik pembaruan hidup menjadi pribadi yang lebih rukun, lebih tangguh, dan lebih baik dari tahun sebelumnya.
躍馬迎福,駿騰迎祥 (Yuè mǎ yíng fú, jùn téng yíng xiáng)
Kuda yang berlari kencang menandakan keberuntungan; kuda yang cepat menandai masa depan yang baik.
Gong Xi Fa Cai (恭喜发财)
Penulis
Dr. Olivia, S.E., M.A.
Dosen Bahasa Mandarin Universitas Kristen Petra, Surabaya


