SELASARSURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi meluncurkan buku “Bung Karno: Aku Arek Suroboyo”. Buku yang diterbitkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya tersebut menghadirkan narasi tentang Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, melalui perspektif Surabaya sebagai kota kelahiran sekaligus tempat awal perjalanan hidupnya. Buku tersebut ditulis oleh Purnawan Basundoro, Samidi, Yayan Indrayana, dan Kukuh Yudha Karnanta.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa penerbitan buku itu merupakan upaya meluruskan sejarah sekaligus menanamkan nilai perjuangan Bung Karno kepada generasi muda.
“Jadi harapannya kita meluruskan sejarah. Karena bangsa yang hebat itu adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya. Agar tidak pernah kehilangan arah,” kata Eri, dikutip Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, buku tersebut juga menjadi penegasan bahwa Bung Karno lahir di Surabaya serta menggambarkan perjuangan dan semangat yang diwariskan kepada generasi penerus.
“Dengan buku ini kita ingin menegaskan bahwa Soekarno lahir di Surabaya. Bagaimana perjuangan Soekarno, bagaimana semangat beliau. Maka dari buku ini, yang saya harapkan adalah seluruh arek Suroboyo mewarisi api perjuangan beliau,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Soekarno mengapresiasi terbitnya buku tersebut. Menurutnya, buku itu merupakan karya yang komprehensif dan dapat menjadi referensi penting untuk memahami perjalanan hidup Bung Karno.
“Dengan segala hormat, mewakili keluarga besar Bung Karno, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para penulis, dan juga kepada Cak Eri yang telah memberikan pencerahan, membuka cakrawala melalui buku tulisan-tulisan yang saya telah baca dan sangat komprehensif buku dengan judul Bung Karno ‘Aku Arek Suroboyo’,” kata Puti.
Ia menilai buku tersebut bukan sekadar referensi sejarah, melainkan juga bagian dari upaya membuka kembali ruang pemahaman terhadap pemikiran dan gagasan Bung Karno. “Buat saya buku ini adalah merupakan salah satu cara, jalan untuk mendobrak De-Soekarnoisasi yang sekian lama sejarah kelam Bung Karno ditutupi. Yang sejak lama ide, pemikiran, gagasan Bung Karno ditutupi,” ujarnya.
Puti berharap buku tersebut dapat membantu generasi muda memahami perjalanan sejarah Bung Karno yang lahir dan tumbuh di Surabaya. “Buku ini menjadi salah satu jalan bagaimana generasi muda khususnya dapat merasakan bagaimana perjalanan sejarah Bung Karno yang dilahirkan di Kota Surabaya,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa buku tersebut disusun berdasarkan riset akademik yang kuat dengan memanfaatkan berbagai sumber di dalam maupun luar negeri. “Ini juga didasari atas riset, karena ini memang yang membuat salah satunya juga akademisi. Kemudian juga didasari atas riset yang tidak hanya di arsip-arsip atau perpustakaan atau museum di Indonesia tetapi juga di luar negeri, di Belanda,” ujarnya.
Puti juga berharap kehadiran buku tersebut dapat membuka kembali memori kolektif masyarakat mengenai perjalanan hidup Bung Karno sejak lahir hingga masa remajanya.
“Nah, sekarang kemudian dengan buku ini saya harapkan bisa membuka kembali memori kolektif tentang di mana Bung Karno dilahirkan, bagaimana Bung Karno menghabiskan masa remajanya,” harapnya.
Salah satu penulis buku sekaligus Guru Besar Sejarah Perkotaan Universitas Airlangga (Unair) Prof Purnawan Basundoro menjelaskan bahwa penulisan buku berangkat dari pernyataan Bung Karno dalam autobiografinya yang ditulis Cindy Adams mengenai tempat kelahirannya di Surabaya.
“Di dalam buku otobiografi beliau (Bung Karno) yang ditulis oleh Cindy Adams, beliau kan dengan jelas menyebutkan bahwa lahir di Surabaya. Tetapi kan kalimat itu tidak diteruskan ya, lahirnya seperti apa, bagaimana, dan sebagainya,” kata Prof Basundoro.
Berangkat dari pernyataan tersebut, tim penulis melakukan penelitian mendalam untuk memperjelas sekaligus membuktikan tempat kelahiran Bung Karno melalui berbagai dokumen sejarah. “Nah, inilah yang kemudian kami berpikir bahwa pernyataan Soekarno lahir di Surabaya itu perlu diperjelas. Nah, ini kemudian kami melakukan riset yang cukup lama untuk memang membuktikan bahwa Bung Karno memang betul-betul lahir di Kota Surabaya, bukan di tempat yang lain. Nah, kemudian hasilnya buku tersebut,” ujarnya.
Menurut Prof Basundoro, berbagai dokumen yang berhasil dihimpun menunjukkan bahwa Bung Karno memang lahir di Surabaya. “Di buku itu kami cantumkan dan bukti-bukti yang menyatakan bahwa Bung Karno memang lahir di Kota Surabaya. Jadi berbagai dokumen tertulis yang kita cari hampir semuanya mengatakan Bung Karno memang lahir di Kota Surabaya itu,” paparnya.
Terkait pemahaman generasi muda terhadap sosok Bung Karno, Prof Basundoro menilai, sebagian besar masih mengenal proklamator tersebut karena tetap diajarkan dalam pelajaran sejarah. “Saya kira sebenarnya sama ya. Jadi generasi pemuda pun mungkin banyak yang tidak mengenal, tapi banyak juga yang masih tetap mengenal Bung Karno,” terangnya.
Meski demikian, ia mengakui masih ada sebagian masyarakat yang beranggapan Bung Karno lahir di Blitar akibat narasi yang berkembang pada masa lalu. “Nah, sehingga mungkin masih ada juga orang-orang sekarang ini yang masih menganggap bahwa Bung Karno lahir di Blitar. Tapi kan secara umum sekarang buku-buku sejarah itu sudah menuliskan yang benar bahwa Bung Karno itu lahir di Surabaya,” pungkasnya. (gio)

