Sabtu, Agustus 8, 2026
BerandaHeadlinesMengelola Kebun Binatang Surabaya Secara Modern, Seperti Apa?

Mengelola Kebun Binatang Surabaya Secara Modern, Seperti Apa?

SELASARSURABAYA – Didirikan pada 31 Agustus 1916 lalu, Kebun Binatang Surabaya (KBS) telah menjadi salah satu tempat wisata jujugan. Sebagai salah satu destinasi wisata ikonik di Jawa Timur khususnya Surabaya, KBS sebenarnya memiliki potensi finansial dan pengalaman wisata (experiential tourism) yang sangat besar, jauh melampaui sekadar jualan tiket masuk.

Melirik hal ini, Program Coordinator Creative Tourism Universitas Kristen Petra (UK Petra), Devi Destiani Andilas, S.E., MM.Par., tergelitik menanggapi pengembangan wisatanya.

“Kebun binatang konvensional umumnya memang hanya mengandalkan tiket dan atraksi sederhana. Tetapi KBS tidak boleh mengandalkan hal ini saja. Jika dilihat dari experiential tourism, ada banyak potensi yang bisa dieksplorasi agar pengunjung tidak merasa monoton,” ujar Devi, dikutip Jumat (7/8/2026).

Salah satu ide yang ditawarkan Devi adalah konsep tur di balik layar (behind the scene tour). Pengunjung tidak hanya disuguhi pemandangan satwa dari balik kandang, tetapi diajak melihat langsung “dapur” pengelolaan kebun binatang.

“Pengunjung bisa diajak tur behind the scene. Seperti di Jakarta Aquarium ada show mermaid, lalu pengunjung diberi kesempatan masuk ke balik tabung untuk melihat aktivitas staf memberikan makan dan perawatan. Nah, di KBS hal ini bisa menjadi edukasi profesi pengelola satwa yang memorable,” jelasnya.

Terkait konsep feeding animals (memberi makan satwa), Devi yang sering melakukan pengamatan lapangan di berbagai objek wisata tersebut menyarankan agar pengalamannya ditingkatkan (level up), bukan sekadar memegang wortel atau sayuran lalu melemparkannya ke satwa.

“Kalau mau memberikan experience, pengunjung bisa diajak terlibat dalam prosesnya. Misalnya khusus pelajar dan mahasiswa, diajak melihat proses penyiapan nutrisi (meal plan), menyusun variasi makanan satwa bahkan melihat dan mensimulasikan secara langsung proses penyiapan pakan live-feeding bersama petugas. Kegiatan ini pasti diminati,” tambah Devi.

Berdasarkan observasinya di lapangan, masyarakat Surabaya dan sekitarnya sering berkunjung berulang kali dalam setahun, terutama memanfaatkan KBS sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk piknik keluarga.

Namun, untuk segmen pasar edukasi (TK, SD, hingga SMP), KBS dinilai perlu merancang paket kunjungan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, salah satunya melalui sistem keanggotaan (membership) berbasis kurikulum sekolah.

“Tim pemasaran KBS harus jeli membedah kurikulum sekolah. Apa yang dipelajari di kelas, itu yang diintegrasikan dengan aktivitas di KBS. Misalnya, materi kelas 2 SD semester satu tentang metamorfosis atau ganti kulit ular, lalu semester dua tentang rantai makanan. KBS bisa menyediakan paket 5 kali kunjungan dalam setahun dengan topik berbeda yang disesuaikan dengan pelajaran sekolah. Kalau dipaketkan, harganya bisa lebih terjangkau,” papar Devi yang keahliannya di Pariwisata Kreatif tersebut.

KBS juga dinilai tak perlu pusing memperluas lahan untuk menambah wahana. Optimalisasi area yang ada lewat acara tematik (seasonal event) dan penyewaan area (venue) bisa menjadi kunci pendapatan non-tiket.

Terkait hal tersebut, Devi menyarankan agar manajemen KBS lebih kreatif mengolah potensi internal.

“Misalnya saja untuk acara tematik bisa membuat tur kerangka fosil hingga edukasi pemakaman satwa yang dibuka secara berseri di bulan-bulan tertentu agar pengunjung tidak bosan. Selain itu, area terbuka KBS yang luas sangat potensial disewakan untuk acara perusahaan maupun kegiatan komunitas,” katanya.

Lewat inovasi kemasan produk (product packaging) dan wisata berbasis pengalaman (experiential tourism), KBS diharapkan tak hanya bangkit dari masalah tata kelola, tetapi juga bertransformasi menjadi destinasi edukasi modern yang mandiri secara finansial. (nan)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments