Rabu, November 4, 2026
BerandaInspirasiMelihat Cara Pangeran Putri Lingkungan Hidup Surabaya Rayakan Hari Cinta Puspa dan...

Melihat Cara Pangeran Putri Lingkungan Hidup Surabaya Rayakan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2026

SELASARSURABAYA — Kebun Bibit Wonorejo pada hari itu menjadi ruang belajar langsung pada kegiatan kolaborasi Pangeran Putri Lingkungan Hidup dalam memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2026. Kegiatan ini mengajak peserta mengenal puspa dan satwa melalui pengamatan mendalam, menghubungkan pengalaman tersebut dengan kepedulian dan tindakan sederhana untuk lingkungan.

Memilih tema “Deep Observation in Animal and Plant Built Contentment”, kegiatan ini menempatkan pengalaman mengamati alam sebagai inti pembelajaran—bukan sekadar melihat atau mengikuti acara, tetapi memberi waktu bagi peserta untuk memperhatikan, merasakan, menyampaikan temuan, bertanya, dan tindakan nyata, dengan demikian muncul rasa cukup atau syukur atas keadaan yang dialami.

Belajar melihat alam dengan lebih dekat
Kegiatan ini diinisiasi oleh Princess Zelda Ilmiah dari SMPN 29 Surabaya dan Sanggrama Rasio Al Warisyi dari SMPN 6 Surabaya. Keduanya turut menyampaikan tujuan kegiatan, yakni mengajak anak-anak mengenal puspa dan satwa melalui pengamatan yang mendalam, membangun rasa menghargai alam, serta menerjemahkan pengalaman tersebut menjadi peduli dan aksi nyata dalam kehidupan.

Ajakan tersebut disambut baik oleh peserta dari berbagai sekolah. Mereka adalah Hafidz Nur Hakim dari SDN Lidah Kulon; Adrian dan Ayshava dari SDN Kebonsari I; Aisha dan Imtiyaz dari SDN Kaliasin I; Kirana dari SDN Dr Soetomo V; Aura SDN Gunung Anyar, Mikhaela, Qairen, dan Rizky dari SMPN 29 Surabaya;
Syifa SMPN 40; Khaira dan Tyza dari SMPN 39 Surabaya; serta Fiorenza dari SMPN 10 Surabaya.

Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias, mulai dari pengamatan, presentasi, praktik menanam, hingga edukasi maggot dan sebar ikan ke danau.

Pangeran Putri Lingkungan Hidup Surabaya

Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (1/11/2026) di Kebun Bibit Wonorejo, Surabaya, itu dimulai dengan pengamatan terhadap satwa dan tanaman di lingkungan kebun bibit. Peserta mengamati angsa dan rusa, serta memperhatikan beragam tanaman di sekitarnya.

Setelah pengamatan, peserta mempresentasikan hasil temuan mereka. Sesi ini memberi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan apa yang mereka lihat, hal yang menarik perhatian, serta pertanyaan yang muncul selama berinteraksi dengan lingkungan.

Evaluasi bagi mereka merupakan hal baru untuk menyampaikan secara real, masih ada yang terbawa dengan data yang belum real, namun tetap menjadi suatu pengalaman berharga.

Pengamatan langsung menjadi cara untuk membangun kedekatan dengan alam. Ketika peserta berhenti sejenak untuk memperhatikan perilaku satwa, bentuk dan fungsi tanaman, serta hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya, alam tidak lagi hadir hanya sebagai latar kegiatan. Peserta diajak menyadari bahwa setiap makhluk hidup memiliki peran dan layak dihargai.

Pangeran Putri Lingkungan Hidup Surabaya

Melalui gagasan contentment, kegiatan ini juga mengajak peserta mengenali rasa cukup dan menghargai apa yang telah tersedia di alam. Mengagumi satwa tidak harus dengan menangkap atau memilikinya, menyukai tanaman tidak harus dengan memetiknya. Rasa senang dan kagum dapat diwujudkan dengan menjaga mereka dengan menanam kembali. Nilai tersebut diperkenalkan sebagai salah satu landasan untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan.

Pembelajaran dilanjutkan dengan edukasi penanaman atau pembibitan yang disertai praktik. Peserta memperoleh lima macam tanaman dari Kebun Bibit untuk ditanam dan dirawat di rumah atau sekolah.

Dengan membawa pulang tanaman, pengalaman belajar diharapkan tidak berhenti di lokasi kegiatan, tetapi berlanjut melalui kebiasaan merawat tanaman.

Para orang tua yang hadir turut terlibat dalam praktik menanam. Mereka ikut menanam bersama anak-anak dan menyatakan tekad untuk merawat tanaman tersebut bersama Pangeran Putri Lingkungan Hidup 2026. Keterlibatan ini memperluas pengalaman belajar dari anak ke keluarga, sehingga kepedulian terhadap tanaman diharapkan berlanjut di rumah.

“Kolaborasi ini diharapkan menjadi dorongan aksi menjaga lingkungan dengan merawat tanaman yang dibawa pulang, mencoba budidaya maggot BSF, menjaga satwa dan habitatnya, serta lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar,” ungkap Yanto, salah satu orangtua peserta.

Peserta lantas menuju ke kandang maggot Black Soldier Fly (BSF). Pengenalan maggot menjadi pintu masuk untuk memahami salah satu cara mengolah sampah organik, sekaligus mengenalkan potensi pemanfaatan sumber daya yang selama ini kerap dianggap tidak berguna. Peserta diminta menyiapkan wadah agar maggot dapat dibawa dan dipelihara lebih lanjut.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan penebaran ikan di danau sebagai pengalaman aksi bersama, serta permainan ular tangga bertema lingkungan. Permainan menjadi sarana belajar yang lebih ringan dan interaktif untuk menguatkan kembali pesan-pesan kepedulian terhadap alam.

Rangkaian kegiatan tersebut disambut baik aktivis Tunas Hijau, Nizam.
Menurutnya, melalui rangkaian pengamatan, presentasi, praktik menanam, pengenalan maggot BSF, dan permainan edukatif, peserta memperoleh pengalaman belajar yang menggabungkan pengetahuan, perasaan, dan tindakan.

Respons positif peserta—termasuk ungkapan bahwa mereka merasa lebih dekat dan lebih mampu merasakan pengalaman berinteraksi dengan alam—menjadi pengingat bahwa pendidikan lingkungan perlu memberi ruang bagi pengalaman langsung, bukan hanya menyampaikan informasi. (rur)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments