Senin, Februari 16, 2026
BerandaSiang Ini Saya Belajar dari Imam Al-Ghazali

Siang Ini Saya Belajar dari Imam Al-Ghazali

Siang ini tiba-tiba saya ingin mengulas seorang tokoh dari zaman dulu. Entah mengapa, ada ruang di dalam diri yang terasa ingin diisi ruang untuk merenung dan belajar dari perjalanan orang-orang terdahulu. Nama itu begitu saja muncul di kepala: Imam Al-Ghazali.

Saya pun memulainya dengan cara yang sederhana: mengetik nama itu di internet, mencari sumber dan rujukan, termasuk melalui ChatGPT.

Dengan bekal awal yang saya miliki, saya mengenalnya sebagai seorang ulama besar, filsuf, dan penulis kitab-kitab penting dalam Islam. Namanya kerap disebut dalam kajian akhlak, tasawuf, dan pendidikan. Karya-karyanya menjadi rujukan lintas generasi dan terus dibaca hingga hari ini.

Namun, ketika saya mencoba mencari lebih dalam, semakin saya membaca dari berbagai sumber, saya mulai menyadari bahwa Al-Ghazali bukan hanya tokoh ilmu. Ia adalah tokoh perjalanan batin seorang manusia yang berani berhenti sejenak, bertanya pada dirinya sendiri, dan mengoreksi arah hidupnya. Mulainya saya merangkum dari berbagai sumber.

Di Puncak Ilmu dan Kehormatan

Imam Al-Ghazali lahir di kota Thus (Tus), wilayah Khurasan kini termasuk Iran dari keluarga sederhana yang mencintai ilmu. Sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan kecintaan pada pengetahuan dan agama. Perjalanan hidupnya kemudian membawanya menuntut ilmu ke berbagai pusat keilmuan hingga namanya dikenal luas sebagai ulama dan pemikir besar.

Puncak perjalanan intelektual itu tiba ketika ia dipercaya menjadi rektor Universitas Nizhamiyah di Baghdad, pusat ilmu paling bergengsi di dunia Islam pada masanya. Muridnya ribuan, majelis ilmunya selalu penuh, namanya disegani para penguasa, dan pintu istana terbuka lebar baginya. Dari luar, hidup Al-Ghazali tampak sempurna sebuah gambaran keberhasilan yang diimpikan banyak orang.

Dari luar, hidupnya tampak sempurna. Namun justru di titik tertinggi itulah krisis terdalam dimulai. Al-Ghazali bukan ulama yang sibuk menunjuk kesalahan orang lain dan ini menurut saya sangat langka di jaman ini. Ia justru menunjuk dirinya sendiri.

Krisis Nurani dan Kejujuran pada Diri Sendiri

Dalam catatan otobiografinya, Al-Munqidh min adl-Dhalāl, ia membuat pengakuan yang sangat jujur dan menyakitkan. Saat berada di puncak karier akademiknya di Nizhamiyah Baghdad, ia memeriksa kembali niatnya dalam mengajar dan berdakwah.

Ia menyadari bahwa apa yang tampak sebagai pengabdian kepada agama, ternyata menurut pengakuannya telah tercampuri oleh dorongan popularitas, kedudukan, dan pengaruh.

Ia sadar bahwa dirinya seorang ulama besar telah menjadi bagian dari sistem yang mengaburkan batas antara ilmu, kekuasaan, dan ambisi pribadi. Ia berada di posisi tinggi, namun justru di sanalah ia merasa tidak merdeka.

Krisis yang ia alami tidak berhenti sebagai konflik batin semata. Pada 1095 M, Al-Ghazali mengalami gangguan fisik yang serius. Ia tiba-tiba jatuh sakit. Meski secara medis dinyatakan sehat, ia kehilangan kemampuan berbicara dan tidak lagi sanggup mengajar. Kondisi ini membuat para dokter istana kebingungan.

Sejumlah sumber menyebut keadaan tersebut sebagai bentuk penyakit nurani ketika hati menolak terus hidup dalam ketidaksinkronan, dan tubuh mengambil peran sebagai suara moral. Keheningan Al-Ghazali justru menjadi ungkapan paling jujur dari kegelisahan batinnya.

Meninggalkan Segalanya demi Kejujuran Batin

Di hadapan pilihan untuk tetap bertahan demi jabatan, gaji, dan kedekatan dengan Sultan, atau meninggalkan semuanya demi kejujuran batin, Al-Ghazali memilih jalan yang bagi banyak orang terasa tidak masuk akal. Ia mengundurkan diri, meninggalkan jabatan rektor, lalu melepaskan pengaruh, koneksi kekuasaan, dan kemewahan hidup.

Langkah Al-Ghazali meninggalkan Baghdad mengundang keheranan. Seorang ulama besar memilih turun dari panggung kehormatan dan berjalan sendiri, tanpa jaminan apa pun selain suara hatinya. Ia menjalani hari-hari dalam kesunyian, memperbanyak tafakur, dan melatih dirinya dalam kesederhanaan. Dalam beberapa kisah, ia bahkan mengabdi dengan pekerjaan kecil di masjid Damaskus.

Bagi dunia, ia tampak kehilangan segalanya. Namun bagi Al-Ghazali, justru di sanalah ia menemukan kemerdekaan: terbebas dari kepalsuan, dari ilmu yang kehilangan cahaya, dan dari agama yang terikat terlalu erat pada kuasa dunia.

Buah dari Kesunyian: Ilmu yang Menghidupkan

Dari ruang sunyi perjalanan batin itulah lahir Ihya’ Ulumuddin sebuah karya yang bukan sekadar kitab, tetapi cermin untuk membersihkan hati, meluruskan niat, dan membentuk akhlak. Dari sini saya memahami bahwa Al-Ghazali tidak menolak dunia, melainkan menempatkannya di posisi yang tepat.

Pesan yang ia tinggalkan melintasi zaman. Ilmu bukan untuk memperindah jabatan, melainkan untuk menyelamatkan jiwa manusia. Tujuan utama pendidikan adalah melahirkan insan yang berilmu sekaligus berkarakter, yaitu memiliki hati yang bersih, niat yang lurus agar ilmu yang diperoleh tidak melahirkan kesombongan, melainkan kebijaksanaan dan kemaslahatan bagi masyarakat.

Perjalanan hidup Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa menjadi berilmu saja tidak cukup. Ilmu perlu dijaga oleh kejujuran niat dan keberanian moral. Kadang, untuk tetap jujur, seseorang harus berani mundur. Dan terkadang, melepaskan segalanya justru menjadi jalan untuk menemukan makna yang paling dalam.

Siang ini, mengenal kembali Imam Al-Ghazali, saya belajar bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu diukur dari seberapa tinggi jabatannya, tetapi dari seberapa jujur ia mendengarkan suara nuraninya. Dan itu tidak mudah. Paling tidak, cara paling sederhana adalah berani berhenti sejenak mengoreksi niat, menata ulang arah, dan mendengar suara hati yang sering tertutup oleh rutinitas, pujian, dan tuntutan peran.

Tidak selalu dengan langkah besar, kadang cukup dengan kejujuran kecil yang dijaga setiap hari. Sebab dari situlah ilmu kembali menemukan ruhnya, dan manusia kembali menemukan maknanya

Penulis
Niken Rooshany
Humas Al Azhar Jawa Timur
Musafir Ilmu

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments